Pengalaman Ikut Rapid Test Sebelum Ke Pulang Kampung

Pengalaman Ikut Rapid Test Sebelum Ke Pulang Kampung

Pengalaman Ikut Rapid Test Sebelum Ke Makasar

Awal bulan Juni kemarin, saya memutuskan pulang kembali ke Makassar karena sudah lama tidak bertemu keluarga setelah dua tahun merantau di Yogyakarta. Awalnya ingin pulang sebelum lebaran tapi karena pandemi covid-19 melanda Indonesia awal bulan Maret lalu, akhirnya mengakibatkan dihentikannya semua transportasi hingga bulan Juni.
Let It Be

Let It Be


Pantai Losari

Sudah 3 bulan berlalu sejak saya memutuskan untuk berhenti bermain media sosial secara total. Apa yang kurasakan sekarang? rasanya saya seperti bebas. Yang membedakan hanyalah saya tidak terlalu kecanduan memegang hape lagi. Boleh dibilang dulu saya orang candu sekali bermain sosial media. Buka facebook, main twitter, cek instagram, chat whatsapp, dengerin spotify, dan tongkrongin youtube sampai tidur tidak teratur. Dapat spot baru, distoryin. Sambat sedikit, diupdatein, Bahagia gak seberapa, dipostingin. Pokoknya semua harus tahu apa yang terjadi.
Cerita Puasa dan Lebaran Di Tengah Pandemi

Cerita Puasa dan Lebaran Di Tengah Pandemi

Cerita Puasa dan Lebaran Di Tengah Pandemi

Tidak terasa, sudah 2 bulan lebih saya tidak nulis lagi di blog. Padahal awal-awal sudah janji minimal satu artikel satu minggu. Tapi ternyata gagal karena karena dari enaknya momen rebahan di masa pandemi plus masuk bulan suci Ramadhan. Jadilah mager mau ngapa-ngapain termasuk nulis. Padahal ada banyak sekali ide cerita yang mau saya nulis.

Hari ini sudah memasuki bulan ketiga saya tinggal di kostan sendiri tidak kemana-mana. Kamu bilang saya betah? gak sama sekali. Saya sampai bosannya gak tahu mau ngapain lagi. Sesekali masih suka jalan di luar kalau habis subuh doang. Tiap hari diisi dengan laptop dan hape yang selalu nyala. Kadang teman juga datang ke kostan sekedar ngusir kegabutannya di kostan saya sendiri.

Tapi di bulan puasa kemarin, saya benar-benar harus merasakan gimana sepinya suasana berbuka puasa dan sahur sendiri. Ditambah lagi karena hapeku speakernya rusak jadi tidak ada alarm. Akhirnya tiap sahur saya selalu andelin teman kost sebelah buat bangunin. Kebetulan dia orangnya doyan begadang sama gak bisa tidur kalau malam, jadi minta tolong gedor-gedor pintu kamarku kalau masuk waktu sahur.

Gak cuman disitu, buka puasapun saya ngandelin berburu takjil di masjid-masjid. Emang dasarnya kangen puasa jadi selelu nunguin kalau abis ashar langsung ke masjid buat ambil takjil. Saya mau ucapkan terima kasih buat orang-orang yang mau memberikan donasinya ke masjid makan buka puasa bagi anak kostan. Sungguh kalianlah pahlawan di masa pandemi kayak gini.

Hari-hari yang kulewati selama ramadhan kali ini tidak seperti tahun sebelumnya. Kalau yang kemarin bisa berkumpul sama keluarga, sekarang cuman sendiri. Suasana ramadhan di luar pun sepi apalagi tempat ibadah yang juga beberapa ada yang tutup. Padahal kalau keadaan normal saya biasanya suka kluyuran ke Masjid Gede dan masjid Jogokariyan buat nyari jajanan takjil dan buka puasa di sana.

Bicara soal ramadhan juga, ramadhan kali ini benar-benar terasa emosionalnya. Ada sedih, duka, kecewa, kesal, bahagia, canda, tawa, senyuman, dan bodo amat menjadi satu emosi yang bergantian datang. Gimana ya, awal puasa tahun ini saya mendapat kabar yang tidak begitu mengenakkan di awal puasa pertama. 

Jadi ada seseorang di ujung telepon memberi kabar kalau, ah sudahlah saya tidak mau mengingatnya. Semoga dia tenang dengan dunianya. Mendengar kabar itu rasanya minggu pertama puasa berat banget. Tapi untungnya saya punya teman-teman yang selalu bawa suasana gembira. Sedih sih ada, tapi gak boleh larut terlalu lama.

Hari demi hari berjalan seperti biasanya. Tapi di minggu ini rasanya ada sedikit berbeda dari apa yang kujalani. Tiba-tiba saja teman di ujung sulawesi menelpon memberi kabar tentang hidup dan pekerjaan. Dialah sahabat saya ketika kuliah dulu. Gak nyangka dia tumben nelpon. Kalau dipikir-pikir sudah 5 tahun kami berpisah setelah wisuda. Suaranya tetap sama beserta canda khasnya yang selalu buat saya tertawa.

Gak cuman itu, di bulan ini juga saya mulai belajar masak. Serius ini tidak bercanda, walaupun sebelumnya saya bisa masak tapi karena sering kumpul sama teman-teman, saya jadi bisa belajar masak makanan baru. Awalnya iseng-iseng doang malah ketagihan jadinya. Jadi hampir tiap hari saya beserta 4 teman kostan selalu saling bantu masak buat berbuka ataupun sahur. Di samping menghemat pengeluaran juga mengakrabkan suasana yang terbilang sepi di tengah pandemi.

Cerita Puasa dan Lebaran Di Tengah Pandemi

Lebaran akhirnya tiba. Seperti biasa 4 sekawan ini cuman bisa lebaran di kostan. Masak opor ayam rame-rame dan bersenda gurau bareng-bareng. Awalnya sedih sih karena gak bisa lebaran bareng keluarga tapi lebaran bareng mereka juga sepertinya menyenangkan karena saya merasa menemukan keluarga baru di sini.

Sebenarnya ada banyak hal lagi yang mau saya tuliskan. Dan mungkin kedepannya isi blog ini malah jadi tulisan keseharian saya. Soalnya rasanya lebih enjoy menulis dengan apa yang sedang dirasakan dibanding menulis karena tuntutan sebagai influencer blogger. Tapi kalau ada tawaran ngeblog sih gak apa-apa juga.
Berteman dan Menikmati Hidup Di Tengah Kondisi Sekarang

Berteman dan Menikmati Hidup Di Tengah Kondisi Sekarang

Berteman dan Menikmati Hidup Di Tengah Pandemi Corona

Satu, dua, tiga, empat minggu berlalu ternyata saya bisa bertahan di tengah pandemi ini. Gak bisa dipungkiri waktu awal-awal dengar kabar ini dan pemerintah kasih imbauan social distancing dan physical distancing, jujur saya takut dan bingung mau ngapain aja nantinya. Apalagi saya hidup di kostan sendirian ditambah kampung kostan saya pun sedang karantina lokal, lengkap sudah penderitaan saya. Tapi seiring waktu, saya malah terbiasa dengan kondisi sekarang.

Cerita Karantina Lokal Di Kampung Pogung

Cerita Karantina Lokal Di Kampung Pogung

Cerita Karantina Lokal Kampung Pogung

Sebenarnya saya mau ceritain ini lebih awal setelah postingan sebelumnya karena kejadian ini berselang satu setelah saya menulis minggu lalu. Jadi awalnya, setelah saya menulis, pada malam harinya saya dapat sebaran surat pak RT dan RW di grup WA. Isi suratnya kasih tahu bahwa semua area Pogung yang terbagi atas 5 kampung, Pogung Lor, Pogung Baru, Pogung Kidul, Pogung Dalangan, dan Pogung Rejo bakal memberlakukan karantina lokal di kampung dengan menerapkan hanya satu akses jalan saja yang dibuka.

Minggu Kedua Karantina Mandiri Di Kostan

Minggu Kedua Karantina Mandiri Di Kostan

Minggu Kedua Karantina Mandiri Di Kostan

Gambar di atas adalah foto gapura gerbang masuk tempat saya tinggal sekarang. Tidak jauh dari gapura itu kurang lebih 10 meter di sebelah kanan ada sebuah kostan yang hari itu cuman saya sendiri yang tinggal. Yah, teman kostan lainnya sudah banyak yang pulang kampung apalagi melihat kondisi kasus wabah virus Corona semakin luas dimana-mana.