8/15/2020

Sudah Tidak Tertarik Lagi

Sudah Tidak Tertarik Lagi


Menginjak usia kepala dua, apa yang dulunya sangat kita senangi seiring berjalannya waktu akan ditinggalkan, apapun itu. Hal inilah yang kurasakan sekarang, apa yang dulu sangat saya sukai akan saya bela-belain untuk mendapatkannya. Kalau sekarang, saya cukup bodo-amat dengan semuanya karena setelah sadar itu hanya membuang-buang waktuku.

Di usia sekarang, banyak hal-hal yang dulu sangat saya senangi, sekarang menjadi tidak tertarik lagi. Awalnya saya tidak menyadarinya tapi seiring berjalannya waktu, saya menjadi nyaman dengan kondisi sekarang. Mungkin terdengar aneh bagi beberapa orang, tapi saya punya alasan untuk meninggalkan ini semua.

Pertama, berteman dengan banyak orang. Dulu ketika remaja hingga kuliah, saya adalah orang yang ingin punya banyak teman. Karena menurutku punya banyak teman artinya keren dan gaul. Bisa nongkrong dan gak khawatir main di mana saja karena teman ada di mana-mana. Bahkan saya sampai ikut banyak komunitas cuman untuk memperluaskan circle pertemanan. Tapi seiring berjalannya waktu, kutemukan kenyataan bahwa tidak semuanya baik atau dalam artian fake. Kadang ada yang datang saat butuhnya saja atau memanfaatkan pertemanan untuk kepentingannya sendiri. Hingga akhirnya saya sadar bahwa harus lebih selektif dalam memilih pertemanan. Tidak perlu banyak tapi bisa menciptakan suasana positif, bisa diajak kerjasama, bisa diajak bertukar pikiran ke hal-hal yang bermanfaat. Dari pengalaman itulah, sekarang saya tidak begitu antusias jika berkenalan dengan orang baru kecuali ada relasi apa yang membawa kami untuk bertemu.

Bermain media sosial. Sebagai seorang blogger, saya tentunya punya media sosial. Mulai dari facebook, instagram, path, snapchat, twitter, dan lainnya sudah saya jajal semua. Terlepas dari kegiatan blogger yang harus ngurus segala hal yang berkaitan dengan media sosial, saya sebenarnya adalah pecandu akut bermedia sosial. Hampir sebagian besar waktu saya habis untuk scroll dari satu akun ke akun lainnya secara berulang-ulang hanya untuk memastikan kalau postingan saya sudah dilihat oleh berapa orang, di-love berapa orang, di-follow berapa banyak orang, dan lainnya. Tapi semakin ke sini saya semakin sadar kalau hal ini hanya membuang perhatian saya dari realita. Kenapa saya harus mengikuti trend kekinian buat dilihat hits? Kenapa mereka mesti tahu banget apa yang saya lakukan? dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat saya akhirnya memutuskan menghapus semua akun media sosial saya. Jadi sekarang saya hanya punya whatsapp dan telegram saja tapi keduany itu hanya aplikasi messanging bukan media sosial. Memang sih, ada teman yang sempat bilang seperti ini,

"Bijaklah bermedia sosial, follow aja akun yang bermanfaat"

Tapi gimana yah, saya sudah nyaman dengan kondisi ini. Sekarang perhatian saya lebih tertuju ke karir dan kehidupan. Soal tawaran job blogger bagaimana? saya sudah berhenti. Saya sekarang lebih nyaman ngeblog buat tulisan saya sendiri. Tapi kalau ada yang nawarin kerjasama sih boleh saja, tapi saya cuman mau bilang gak bisa share tulisan di media sosial karena alasan ini.

Reuni atau kumpul bareng. Masih berhubungan dengan yang pertama. Karena banyak teman, saya suka banget kumpul bareng sampai lupa waktu di tongkrongan. Begitupun dengan acara reunian, saya adalah orang yang paling antusias untuk datang. Bahkan gak ada acara reunian pun saya iseng adain cuman buat bisa ketemu teman-teman sekolah dan kuliah. Tapi semua itu jadi membosankan karena reunian malah jadi ajang pamer dan ajang menyombongkan diri. Bahkan juga jadi ajang ghibah untuk teman-teman yang tidak bisa datang. Semakin jenuh, akhirnya saya tidak seantisias dulu lagi. Sekarang, kalau ada acara reunian, saya tidak pernah datang lagi. Lebih memilih bertemu dengan teman-teman dekat saja walau hanya berdua atau bertiga tapi kesannya dapat. Selain itu, kumpul dengan orang-orang yang tidak mengenal kita juga cukup membosankan.

Traveling rame-rame. saya adalah tipikal orang yang suka jalan-jalan ke manapun. Ada ajakan ke pantai, gunung, lembah, gua, pasar, bahkan mall pun saya datangi asalkan ada temannya. Tapi sekarang saya lebih suka jalan-jalan sendiri daripada harus rame. Alasannya cuman satu yaitu ribet. Apalagi kalau tujuan kita berbeda pasti bakal rembukan dulu, pilih dulu, jadwalin dulu, dan lainnya. Padahal saya orangnya tidak suka berbelit-belit. Sekarang saya malah lebih suka jalan-jalan sendirian. Menikmati waktu dengan santai dan tanpa gangguan orang lain. Saat ini, saya malah suka datang ke tempat yang ada nuansa airnya di manapun itu sungai, danau, waduk, pantai, air terjun, atau parit bakal saya datangi. Karena suka dengan suasana sejuk dan suara gemercik air.

Tidak enakan. Saya yakin banyak yang sudah paham dengan kata tersebut. Ya saya dulu orangnya tidak bisa bilang "tidak" dengan orang lain. Itulah kenapa saya sering dimanfaatkan orang lain tanpa saya sadari. bahkan saya rela urusan orang lain kelar dulu baru urusan saya belakangan. Tapi sekarang saya lebih memprioritaskan keperluan saya dan keluarga dulu. Dan memilih siapa saja yang bisa bantu tanpa mengganggu jadwal saya. Kalau pun tidak bisa, saya lebih senang berkata jujur tidak bisa melakukannya daripada memberi harapa palsu kepada orang lain.

Terakhir, khawatir dengan jodoh. Saya sekarang sudah tidak terlalu pusing dengan cinta apalagi jodoh. Soalnya saya pernah merasakan sakitnya luka tapi tidak berdarah. Dibohongi, ditikung, dikhianati, dipermainkan, dan hal yang menyakitkan lainnya sudah saya rasakan. Semua ini berawal dari kenaifan saya tentang jodoh yang harus segera dimiliki apapun jalannya, minimal dapat pacar sudah bersyukur. Jujur, saya adalah orang yang terlambat dewasa dalam urusan percintaan walaupun dulu punya banyak teman. Dan kesan pertama yang saya dapatkan adalah rasa sakit. Bukannya kapok tapi masih terus mencari dan mencari lagi. Hingga akhirnya saya sudah jenuh dengan semua kebucinan ini. Sekarang apa yang kulakukan? meningkatkan hubunganku dengan Sang Pencipta dan memperbaiki kualitas diri. Dan saya tidak begitu peduli dengan kode-kodean cinta. Kalau suka, ayo kita diskusi saling kenal satu sama lain, kalau tidak mau ya sudah. Begitu juga dengan nikah, saya sekarang tidak mau terburu-buru apalagi dikejar-kejar sama pasangan. Sabar, satu per satu. Saya ingin kita punya visi yang saling mendukung.

Saat ini mungkin hanya segitu dulu. Sebenarnya masih ada lagi tapi nanti saya ceritakan di podcast saja kalau sudah jadi rekamannya. Soalnya ini adalah pertama kalinya saya mau rekaman podcast apalagi cerita tentang diri sendiri.
Load comments