8/01/2020

Good Goodbye

Good Goodbye


So say goodbye and hit the road
Pack it up and disappear
You better have some place to go
'Cause you can't come back around here
Good goodbye

Itu adalah potongan lirik lagu Linkin Park dari album One More Light yang kurasa sama dengan pesan temanku ketika saya berjumpa dengannya setelah sekian lama tidak bertemu. Perkenalkan namanya adalah Arman yang berbaju biru, teman sewaktu kuliah dulu di kampus hijau UIN. Bisa dibilang dia juga adalah sohib yang paling akrab sewaktu kuliah.

Saya tidak tahu kapan kita mulai akrab tapi seingatku adalah ketika di semester dua. Soalnya di semester satu saya hanya main dengan teman sekelas saja. Kami berbeda kelas, saya di kelas A sedangkan Arman di kelas B sebagai ketua kelas. Jadi awal saya kenal temanku ini gara-gara kelas kita sering digabungin sama senior kampus. Maklum, sebagai anak teknik, kita selalu dituntut solid sama senior.

Mulai dari situ kami anak kelas A mulai akrab dengan kelas B, gak cuman di kelas buat kuliah tapi juga ngerjain tugas kelompok. Di sinilah saya mengenal sosok anak culun yang kemudian jadi teman gila saya. Kita memang punya latar belakang berbeda, tapi punya satu kesamaan yang absurd yaitu suka main game bola. Gak cuman Arman, bahkan kenal teman-teman lainnya juga dari game ini.

Jaman dulu, saya tahu persis, Arman tipikal orang yang tekun belajar. Walaupun dia gak punya laptop atau alat gambar, dia selalu telaten belajar di mana saja. Bahkan rela nungguin teman lain ngerjain tugasnya dulu baru kemudian dia pinjem laptop buat ngerjain tugasnya tengah malam. Begitupun kalau ada tugas gambar, alat-alat gambar yang kepake punya teman-teman dia kumpulin kemudian diperbaiki sendiri buat dipake lagi

Walaupun dari keluarga yang kurang mampu, tapi dia tidak pernah menyerah dengan keadaan. Dia selalu terlihat tersenyum apapun keadaannya. Begitu juga sifatnya yang ramah sama siapa saja membuatnya terlihat santai di mana saja. Itulah kenapa kita teman-temannya semua menaruh respek ke dia. Karena sikapnya yang ramah bertemu dengan saya yang slengekan akhirnya kami jadi akrab.

Bahkan saking akrabnya, kita kayak saudara kembar. Dari dia juga saya belajar gimana rasanya kerja sambil kuliah. Awalnya saya tidak pernah tahu ternyata selama ini Arman kerja sambilan juga abis pulang kuluah yaitu jualan kebab pinggir jalan, jualan es krim, dan guru ngaji. Karena tahu dia kerja, saya kadang bantu dia jualan. Hahaha... aneh memang tapi itu pengalaman yang cukup seru menurutku. Karena selain bisa tahu rasanya nyari duit, saya juga bisa nyicipin kebab gratis.

Kadang kalau ada tugas kelompok dari kampus, saya sering ngerjain tugas di tempatnya jualan. Di saat teman-teman lain pada ngerjain di warkop, cafe, atau tempat nyaman lainnya, saya malah milih belajar di deket jualannya. Kadang kalau lihat jualan sepi, saya iseng panggilin teman kelompok mampir buat beli jualannya biar laku.

Dari dia juga, saya belajar jadi anak kostan. Walaupun rumah saya dengan kampus cukup dekat, saya malah sering nginap di kostan teman sama Arman dan teman lainnya. Kadang bisa semingguan tinggal di sana kemudian pindah lagi ke kostan teman lainnya buat sekedar nginap aja. Kadang kita cowok-cowok teknik kalau tidak ada makanan malah nyari bahan makanan di kebun atau kalau gak mancing di danau. Pokoknya diajarin hidup survive sama anak kostan.

Ada hal lucu yang sampai sekarang masih kuingat adalah ketika kami cowok berempat bersama Arman, Abdi, dan Akram sudah kumpulin sayuran sama ikan, ternyata alat masaknya di kostan Abdi gak ada. Akhirnya kita gunain alat seadanya buat masak. Cutter dan gunting jadi pisau, kayu dan arang jadi kompor, dan daun pisang panjang jadi piring. Intinya waktu itu bisa makan aja senangnya bukan main.

Ada banyak lagi sih cerita gokil kalau sama Arman yang gak habis-habis kalau saya sebutin satu-satu. Tapi satu yang saya tahu, ini anak doyan banget main game sampai gak kenal waktu. Tapi anehnya tugas kuliahnya bisa selesai sebelum deadline.

Akhirnya di tahun 2015 kita semua akhirnya lulus kuliah. Waktu itu, saya pernah nanyain semua teman-teman apa rencana selanjutnya sehabis ini dan kebanyakan bilang ingin kerja. Begitu juga dengan Arman yang katanya mau bantu orang tuanya di desa buat ngurus sawah. Berbeda dengan lainnya, saat itu saya ingin melanjutkan kuliah di Jawa. Hingga pada tahun 2018 saya bisa kuliah lagi di salah satu kampus ternama di Yogyakarta

Selama 3 tahun sebelum itu, saya pernah mengajak Arman untuk melanjutkan kuliah bareng tapi dia bilang tidak bisa karena alasan keluarga. Dan sejak saat itu, saya fokus dengan tujuan saya hingga akhirnya hilang kontak dengan Arman karena memang dia selama kuliah tidak punya hape untuk komunikasi.

Baru akhirnya tahun 2018 saya dapatkan kontaknya setelah dia gabung di grup chat angkatan. Saya beritahu dia kalau saya sudah kuliah di Jogja dan merasa senang. Saya ceritakan semua apa yang alami selama 3 tahun kemarin sambil menanyakan bagaimana kabarnya di desa. Ternyata dia tidak berubah sedikitpun, masih kerja di sawah sambil sesekali kerja konstruksi kalau ada tawaran yang datang.

Tapi setahun kemudian, dia mengabari saya kalau dia lulus tes cpns di daerahnya. Saya turut senang mendengarnya akhirnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Setidaknya dengan pekerjaannya yang sekarang sudah bisa membantu mengangkat keluarganya. Di masa setahun saya kuliah, saya pun berjanji akan berjumpa di Kota Makassar tapi ternyata hal itu tidak terjadi karena waktu itu saya hanya pulang sebentar di Makassar dan dia juga sibuk dengan pekerjaannya sebaga abdi negara

Baru akhirnya di tahun ini, akhirnya saya bisa bertemu dengan sahabat saya yang sudah lama tidak bertemu. Bukan hanya sebagai sahabat tapi juga sebagai saudara tidak sedarah yang selalu bareng di mana saja, sebagai guru ngaji juga yang sabar banget ngajarin saya ngaji dan selalu nasehatin saya ketika bingung, dan juga sebagai kakak yang selalu kasih saran-saran antimainstream kalau saya stuck menghadapi masalah.

Lima tahun adalah waktu yang cukup lama, saya bisa melihat sahabat sekarang akhirnya sudah menjadi orang sukses. Sifatnya pun tidak berubah ketika bertemu, tetap ramah dan murah senyum. Ada banyak cerita yang kita obrolkan di rumahnya, soal nostalgia jaman kuliah, soal dosen-dosen killer di kampus, soal kisah asmara sekarang, dan banyak lagi. Dan dari situ saya juga dapat info mengejutkan kalau dia sebentar lagi akan menikah dengan cewek desa sebelah. Betapa senangnya saya mendengar ini.

Di sela obrolan kita, Arman kemudian mengajak saya berkeliling desanya sambil lanjutkan ngobrol di jalan. Katanya mau ajakin lihat salah satu hal menarik di sini. Di perjalanan, banyak aja yang diobrolin sampai dia bilang mungkin ini terakhir kalinya bisa temanin saya jalan-jalan kayak jaman kuliah dulu. Soalnya setelah menikah, dia tidak bisa kemana-mana lagi selain di desanya

Saya cukup sedih mendengarnya tapi saya alihkan pembicaraan karena saya datang ke sini bukan untuk melihatnya murung tidak bisa sebebas dulu lagi tapi untuk bertemu. Kemudian saya memintanya untuk menunjukkan saya arah ke kincir angin di Jeneponto, soalnya dari dulu saya selalu penasaran dengan tempat itu. Sama saya minta diantarkan ke tempat kuliner Coto Kuda yang jadi makanan khas di sana.

Di perjalanan, dia juga banyak menanyakan saya tentang bagaimana kuliah saya dan apa rencana selanjutnya sehabis kuliah. Jujur, di antara semua orang yang saya kenal, cuman Arman saja teman yang bisa kupercaya untuk bercerita tentang suka duka ku selama ini termasuk impianku. Seperti biasanya dia selalu saja tertawa dan kasih saran-saran absurd dan antimainstream ke padaku dengan gaya khasnya.

Sampai pada akhirnya kita harus pulang, dia kembali mengingatkanku agar jangan lupa hadir di pesta pernikahannya bulan depan. Dan ada satu pesan lagi yang di sampaikan sebelum saya benar-benar pulang. Ini semua terkait dengan semua hal yang kuceritakan padanya sebelumnya tadi.

"Jammako takut dengan masa depanmu, terus mako maju apa nabilang kata hatimu. tempatmu bukan di sini (Makassar). Ku tahu pasti banyak yang mauki bagikan ke teman-teman. Tapi kalau diihat ki sekarang, itu bukan waktu yang tepat. Merantau ko lagi bim, belajar ko terus, asah terus ki ilmumu. Kutahu ko bisa jadi lebih baik lagi dari sekarang. Pergi maki, ada tempat yang lebih bagus buatmu sama orang-orang yang sayangki lebih dari ini. Tojeng ka, jammaki kembali ke sini sampai waktunya tiba."

Saya tidak tahu kenapa dia bisa ngomong seperti itu tapi melihat wajahnya sepertinya dia serius. Ya, sepertinya jawabannya memang benar dan selalu saja buat saya bersemangat. Mungkin ini adalah salam perpisahan juga darinya karena dia sudah tahu setelah saya pulang dari sini saya tidak akan kembali lagi untuk waktu yang lama

Sampai sekarang saya masih ingat kata-katanya dan kebetulan saya juga mendengar lagu ini. Saya pun langsung menulisnya karena tidak ingin menghilangkan momen ini. Saya tidak tahu, kapan saya bisa bertemu dengan sahabat saya lagi. Saya hanya bisa bilang terima kasih sudah menjadi sahabat saya selama ini dan semoga acara pernikahanmu lancar dan jadi keluarga yang bahagia dunia akhirat. Salam tos Kurama.
Load comments