Minggu Kedua Karantina Mandiri Di Kostan

Minggu Kedua Karantina Mandiri Di Kostan

Gambar di atas adalah foto gapura gerbang masuk tempat saya tinggal sekarang. Tidak jauh dari gapura itu kurang lebih 10 meter di sebelah kanan ada sebuah kostan yang hari itu cuman saya sendiri yang tinggal. Yah, teman kostan lainnya sudah banyak yang pulang kampung apalagi melihat kondisi kasus wabah virus Corona semakin luas dimana-mana.

Gambar tersebut kuambil pagi sekitaran jam 6 pagi. Jalanan tersebut biasanya kalau pagi sudah banyak orang lalu lalang yang lewat, baik penjual keliling atau mahasiswa pasti lewat sini karena jalanan ini langsung tembus ke Sekolah Pascasarjana dan Fakultas Teknik UGM. Kalau anak-anak sini bilangnya jalur cepat ke kampus.

Sudah menjadi kebiasaanku, tiap pagi saya, selalu menyempatkan diri olahrga meskipun cuman jalan-jalan kecil keliling kampung sambil lihat aktivitas sekitar. Tapi sudah dua minggu ini suasananya menjadi sepi sunyi. Di jalanan kampung, motor yang lewat bisa dihitung jari. Itupun yang lewat biasanya masyarakat lokal yang habis pulang atau pergi ke pasar nyari bahan makanan

Dua minggu sudah berada di kostan. Kegiatanku cuman makan, tidur, beresin kost, nyuci, gitu terus berulang-ulang. Kadang kalau sedang bete banget, buka youtube dan nonton film sampai bosan atau foto-fotoin objek gak jelas di kostan. Kayaknya keliatan absurd ya tapi mau gimana lagi, kalau di dalam kamar terus jadi lemes. Tapi semenjak di kostan terus, saya jadi rajin banget beresin kamar. Sehari bisa dikali nyapu sambil menata posisi barang. Itu semua biar badan gerak aja dan melulu diem di kamar.

Di minggu kedua ini, suasanya malah makin mencekam. Berbeda dengan ceritaku di postingan sebelumnya di mana jalanan dan tempat umum sudah sepi, sekarang makin parah karena warung makan yang ada di sepanjang jalan dekat kostan pada tutup serentak karena imbauan dari dukuh setempat. Yah hal ini karena di hari sebelumnya terdengar kabar kalau ada dosen UGM yang meninggal karena kasus Corona, dan karena berita itu, padukuhan langsung kasih imbauan buat semua penjual warung makan dan lainnya untuk libur beraktifitas dahulu.

Duh, malah makin repot. Padahal saya biasa makan di luar semingguan lalu. Kalau tutup bisa gak makan terus jadinya. Hari pertama setelah imbauan, warung makan, laundri, kios, cafe, tukang cukur, dan lainnya langsung tutup gak ada kegiatan. Saya yang ngeliat sendiri jadi bingung, kalau gini terus saya gak bisa makan dong. Pulang ke kampung halaman di Solo gak bisa soalnya di sana sudah zona merah. Apalagi balik ke rumah nenek di Klaten juga gak bisa karena harus bawa surat keterangan pemeriksaan diri.

Untungnya di hari pertama, saya masih punya sisa stok bahan makanan di kamar. Sebenarnya saya bukan tipe yang doyan makan mie, tapi karena keadaan kumasak saja dengan sayur yang sudah kubeli juga sebelumnya. Hari kedua juga situasinya masih sama gak ada aktivitas. Di sini panik sudah menguasai pikiranku. Sudah di kostan sendiri, penjual makanan gak ada gimana saya bisa bertahan hidup. Akhirnya kutelpon temanku, Dave, buat beli bahan makanan daripada kayak gini bisa mati kelaparan di kostan nanti.

Untungnya dia juga mau beli, nah kalau kayak gini kan ada temannya yang sependeritaan bareng. Belilah kami ke Mirota, yang kuliah di Jogja tahulah tempat ini. Kami nyetok seperlunya saja buat seminggu sekalian masak sendiri di kostan. Sampai di Mirota ternyata antriannya panjang banget dan pengunjungnya diminta antri sesuai nomor urutan masuk biar tidak membludak di dalam.

Minggu Kedua Karantina Mandiri Di Kostan

Di sini saya baru sadar ternyata separah ini ya sekarang. Padahal baru aja awal bulan lalu saya ke sini dan masih kelihatan normal saja. Orang yang di depan saya itu namanya Dave, kami sama-sama perantau dari Sulawesi dan di sini kita berdua masing-masing tinggal sendirian di kostan. Sebelumnya dia juga cerita katanya pengen banget balik ke kampung tapi melihat daerah juga masuk zona merah dia jadinya pilih untuk tetap di Jogja.

ternyata di ujung antrian, sebelum masuk setiap penunjung harus melewati pemeriksaan suhu badan sama diminta cuci tangan dan pakai hand sanitizer yang sudah disediakan di depan pinyu masuk. Dari apa yang kulihat semua tertib banget dan penjagaannya juga ramah dan waspada dengan kondisi sekarang. Di dalam saya langsung ambil barang yang benar-benar dibutuhkan buat keperluan seminggu. Begitu juga Dave yang keranjang udah penuh aja.

Setelah selesai, kami pulang ke kostan masing-masing. Di kostan saya langsung masak nasi dan siapun semua bahan buat dimasak. Sumpah, ini pertama kalinya saya masak lagi di kostan dan mulai lihat-lihat resep di youtube. Sebelumnya sudah sering masak sih tapi pas semester 4 ini, saya tidak masak lagi. Kalau soal masak-memasak saya juga lumayan jago, bisa masak sayur bening sama telor ceplok sudah berasa jadi master chef level kostan.

Hari ketiiga sampai hari keenam semua masih seperti biasanya. tapi baiknya di ada beberapa tempat loundri yang mulai buka. Syukurlah berarti gak lama lagi bakal kembali normal. Malamnya saya dapat telpon dari teman kostan namanya Johan nanyain keadaan kostan gimana. Kuceritain semua dan dia mutusin sore ini balik ke kosta karena katanya di kampungnya dia gak betah di sana soalnya gak bisa ngerjain tugas kuliah dan tesis karena jaringan susah banget.

Tidak lama dia datang bawain banyak banget makanan dari rumah neneknya, katanya di kostan dia mau fokus ngerjain tugas kuliah dulu sampe keadaan balik normal lagi. Syukurlah akhirnya ada teman kostan juga yang datang. Gak lama, itu ternyata Zidan juga balik ke kostan. Kutanya kenapa balik ke kostan, katanya lagi ada kelas online mas malam nanti makanya balik ke kostan. Katanya di rumahnya di perbatasan Magelang-Jogjakarta susah banget sinyal.

Akhirnya kostan gak sepi-sepi amat untuk skearang. Sekarang di minggu ini ada saya bertiga jadi penghuni kostan. Setidaknya ada teman ngobrol bikin suasana jadi gak sepi banget. Semoga situasi ini segera membaik lagi deh soalnya rindu suasanya ngumpul bareng sama teman-teman lagi, ke kampus lagi, dan ngerjain tesis bareng teman kelas semua.