4/09/2019

Memulai Kembali Cerita Baru di Kota Jogjakarta

Memulai Kembali Cerita Baru di Jogja

bimoaji.com - Rasanya sudah hampir setahun saya gak nulis blog lagi seiring dengan kepindahan saya ke kota baru sekarang, Jogjakarta. Sebenarnya ada beberapa tulisan yang sudah kuposting sebelumnya tapi itu kerjasama dengan sponsor sih. Kalau untuk tulisan sendiri, selalu saja tenggelam di dalamdraft. Bingung antara posting atau gak soalnya kurasa ada yang mengganjal setelah dibaca ulang lagi.

Tapi di sini, saya mau coba membangun produktifitas lagi untuk menulis. Hilang selama setahun dari dunia blog membuat saya merasa asing ketika kembali lagi. Belum lagi saya jadi iri lihat teman-teman komunitas blogger sudah semakin kreatif dalam membuat konten bahkan ada juga yang mulai merintis di dunia vlogger.

Setahun yang lalu, tepatnya di bulan yang sama, saya pindah ke Jogjakarta untuk melanjutkan pendidikan. Bertemu dengan lingkungan baru dan budaya baru membuat saya harus beradaptasi lagi. Jika yang dulunya saya sering banget bicara dengan logat Makassar, kali ini saya harus belajar cara berkomunikasi dengan logat Jawa. Memang sih, aslinya saya orang Solo. Tapi untuk komunikasi saya belum fasih berbahasa Jawa cuman bisa menerjemahkan apa yang orang lain ucapankan.

Bulan pertama di sini, saya tinggal di rumah Pakde, pulang pergi Solo-Jogjakarta untuk mengurus administrasi di kampus, Universitas Gadjah Mada. Tidak terbayangkan sebelumnya, kalau saya akhirnya bisa melanjutkan pendidikan di sini. Awalnya setelah S1 saya ingin langsung kerja, tapi pekerjaannya seperti kutu loncat, gak jelas. Tapi saya bersyukur bisa bertemu banyak rekan kerja di sana.

Sampai pada akhirnya saya mencoba peruntungan untuk melanjutkan kuliah melalui jalur beasiswa. Dan alhamdulillah, akhirnya saya dinyatakan lulus dan diterima di UGM, sebuah kampus di mana tempatnya orang-orang hebat muncul. Seperti itulah awalnya, dan selanjutnya adalah kehidupanku di Kota Terpelajar ini.

Memulai Kembali Cerita Baru di Jogja

Masih di waktu yang sama, akhirnya label anak kost pun kudapat. Untuk orang yang sebelumnya belum pernah merantau atau keluar kandang dari Makassar, hal ini membuatku cukup panik. Bagaimana saya bisa hidup di sini, sementara saya dulu hidup di rumah yang serba ada. Tapi pikiran itu kubuang jauh-jauh, toh mungkin inilah waktunya untuk belajar mandiri di tanah orang lain, walau sebenarnya Jogja juga merupakan kampung halamanku sih.

Hari berganti hari, saya pun menikmati yang namanya kehidupan anak kost pertama kalinya yang menurutku tidak terlalu buruk juga, Mie sudah menjadi makanan favorit, jagain jemuran, tidur kemalaman, kehabisan duit di tanggal tua, dan masih banyak lagi. Mungkin semua hal yang sudah disebutkan sudah kulalui semua. Dan saya pun menikmatinya, dibilang ngenes juga gak tapi sedikit-sedikit ada beberapa kebiasaan yang kuubah untuk menjadi lebih baik.

Akhirnya kuliah perdana pun dimulai dan di sinilah awal cerita kengenasanku. Mungkin saya adalah orang yang bisa beradaptasi dengan lingkungan baru dengan cepat atau tidak terlalu syok menerima budaya. tapi hal ini berbeda ketika masuk kuliah. Atmosfernya benar-benar berbeda, kalau dulu di Makassar nuansa pengajarannya di tingkatan Troposfer, di UGM tingkatannya sudah Eksoster. Terlalu tinggi untuk dekati apalagi kukejar.

Hal ini membuatku jadi mengeluh bagaimana caranya bisa mengikuti atau setidaknya mengimbangi materi pelajaran yang ada di kelas, rasanya benar-benar berbeda. Tapi untungnya saya punya teman-teman yang penderitaannya sama dengan saya. Mereka menderita di biaya bulanan dan saya menderita di pelajaran. Intinya kita sama-sama menderita jadi klop sudah.

Memulai Kembali Cerita Baru di Jogja

Begitulah kehidupan semester pertamaku di UGM di mana pikiran makin terkuras karena pelajarannya yang benar-benar belum kutemui sebelumnya dan badan makin gempal karena "Jogja Effect". Buat yang belum tahu aja, di sini kami menyebutnya "Jogja Effect" karena harga kebutuhan pokok di Jogja terbilang murah apalagi makanan. Jadi secara gak langsung, kalau di kost, kita lebih banyak bawa makanan apalagi kalau waktu malam, di mana jam ngemil meningkat drastis dari biasanya.

Lupakan soal yang tadi, saya takut memberi kecanduan akan Jogja pada kamu juga. Kalau ada yang bilang Jogja itu tempatnya enak, saya bilang gak. lebih tepatnya Jogja itu bikin semua orang candu. Gak tahu kenapa tapi itulah yang kurasakan sekarang. Walaupun hampir tiap pekan saya pulang Jogja-Solo dengan kereta, tapi saya lebih senang menghabiskan jatah liburan di Jogja saja. Dan yang jadi primadona tetap adalah Malioboro.

Sudah gak terhitung seberapa seringnya saya jalan di sini, mulai dari jalan sendirian, temenin teman, atau jadi tour guide buat teman-teman luar kota yang datang liburan di Jogja. Rasanya senang aja kalau sudah sampai di sini. Belum lagi di kawasan Keraton Jogjakarta, rasanya seperti jadi rumah kedua saya buat jalan di sana.

Memulai Kembali Cerita Baru di Jogja

Tidak hanya Malioboro sih, masih banyak tempat-tempat di Jogja lagi yang kukunjungi tapi akan kuceritakan di postingan selanjutnya. Dan akhirnya kehidupanku di semester dua pun berlanjut, tanpa pulang ke Makassar. Yah waktu liburan tahun baru kemarin, saya memutuskan untuk tidak pulang ke Makassar dulu. Selain karena ongkos pulang yang lumayan mahal, juga ini merupakan kesempatan saya bisa jelajahi Jogja lebih banyak lagi.

Di semester dua ini, masih sama dengan sebelumnya tapi untungnya saya sudah dapat ritme belajar yang bagus. Sebenarnya tinggal bagaimana orang mengatur waktu saja sih biar semuanya terkendali dengan baik. Mungkin waktu kemarin, saya masih tergesa-gesa dalam berjalan sehingga banyak miskomunikasi yang didapat saat di kelas.

Menurutku, hidup di Jogja tidak terlalu buruk buatku saat ini. Malah kupikir, apa yang bisa kulakukan dalam waktu 2 tahun ini di Jogja kedepannya. Kalau berbicara soal impian sih saya ingin bisa menyelesaikan studi tepat waktu dan juga sebelum waktu itu berakhir saya juga ingin bisa menjelajahi Pulau Jawa seluruhnya, dimulai dari Jogjakarta.