7/16/2018

Pengalamanku Bersama Dengan Piala Dunia

Pengalamanku Bersama Dengan Piala Dunia

Pengalamanku Bersama Dengan Piala Dunia - Piala dunia adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh penggemar sepak bola di seluruh dunia. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak bahkan wanita pun tidak ingin ketinggalan hegemoni piala dunia, termasuk saya. Saya mulai menyukai sepak bola saat Piala Dunia tahun 2002 saat Jepang dan Korea Selatan menjadi tuan rumah untuk pertama kalinya di benua Asia.

Waktu itu saya belum tahu nama-nama pemain sepak bola yang bertanding di laga itu. Kecuali satu hal yaitu bagaimana meriahnya suasana Piala Dunia di sepanjang jalan dekat dengan tempat tinggal saya. Hingga suatu hari, ayah saya mengajak menonton final piala dunia antara Jerman dan Brazil bersama teman kerjanya.

Dan untuk pertama kalinya di laga tersebut. saya jatuh cinta dengan sepak bola. Saya yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar begitu mengidolakan sosok pria berkepala plontos yang berhasil membobol gawang Jerman dua kali. Apa yang membuat saya menyukainya tidak hanya itu saja, tapi rambut fenomenalnya yang membuat saya terkesan sampai sekarang.

Kecintaan terhadap sepak bola membuat saya terinspirasi jadi pemain bola hebat seperti Ronaldo 'botak' walaupun impian itu kini tinggal mimpi. Tapi setidaknya impian itu pernah saya perjuangkan bersama teman-teman kampung yang juga punya impian yang sama. Itulah awal di mana saya mengenal dan mulai bermain sepak bola karena Piala Dunia.

Tahun 2006 adalah titik awal di mana saya mengikuti semua informasi semua laga Piala Dunia. Walaupun tidak semua pertandingan saya tonton tapi setidaknya masih bisa mengikuti semua ulasannya di layar kaca. Pengalaman yang paling berkesan bagi saya di Piala Dunia ini adalah bukan soal pertandingannya tapi akhirnya orang tua mengizinkan saya begadang menonton Piala Dunia.

Bukan sesuatu yang membanggakan sih tapi untuk anak yang duduk di kelas 1 SMP bisa menjadi ajang pamer cerita siapa yang menonton pertandingan sepak bola hingga larut malam. Tidak cuman itu, demi menjadi yang paling update, saya tabung uang jajan buat bisa beli poster jadwal pertandingan yang harganya sepuluh ribu sambil koleksi gambar-gambar tim negara jagoan dari koran bekas tetangga.

Untuk laga yang paling diingat apalagi kalau bukan laga final antara Perancis melawan Italia. Waktu itu, walaupun sudah dapat izin begadang, nyatanya saya hanya bisa menonton laga final seorang diri di rumah. Padahal saat itu adalah waktu yang tepat untuk nonton bareng sama teman-teman di luar biar bisa rasakan atmosfir piala dunia lebih meriah. Tapi apa daya, kuasa penuh ada di orang tua jadinya cuman bisa nonton dan ditemani cemilan sekarung di rumah. Nikmat mana lagi yang harus saya dustakan saat itu.

Berawal dari tahun 2006 ini, rasanya laga di setiap pertandingan Piala Dunia menjadi haram buat saya lewatkan. Hal ini yang membuat saya jadi lebih matang mempersiapkan diri menyambut Piala Dunia 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan di mana saat itu saya sudah menjadi seorang remaja rupawan yang duduk di bangku SMA.

Segala yang berbau Piala Dunia sudah saya persiapkan dengan rapi, kalau sebelumnya mengirit uang jajan buat beli poster dan gambar tim negara yang berlaga. Saat itu saya lebih memilih mengirit pulsa buat beli kuota demi download wallpaper sepak bola di ponsel, main ke warnet untuk print foto pemain bola buat ditempelkan di dinding kamar, dan pakai kaos bola kemana-mana yang dibeli di pasar kaget dekat rumah.

Dan di tahun tersebut, status izin saya di orang tua naik level. Yang awalnya cuman dapat izin begadang, akhirnya diizinkan juga keluar nonton bareng tapi dengan syarat tidak boleh bawa motor soalnya jaman itu lagi rawan pencuri motor berkeliaran. Walaupun dengan berat hati diterima tapi sudah dizinkan keluar malam rasanya sudah membuat saya senang. Apalagi bisa nongkrong sama teman-teman sekolah.

Sialnya, dua minggu ketika piala dunia dimulai bertepatan dengan ujian akhir kenaikan kelas dan ujian praktek laboratorium. Jadinya mau tidak mau saya harus belajar dan tidak bisa menonton apalagi keluar rumah hingga larut malam. Hasilnya, saya cuman bisa mendapat informasi seputar laga awal fase grup di acara highlight sepak bola di televisi.

Yang paling kuingat di Piala Dunia tahun itu adalah laga Brazil melawan Belanda. Laga ini merupakan laga paling panas soalnya selama pertandingan, wasitmengeluarkan banyak kartu kuning dan yang membuat saya gemes adalah ketika Sneijder berhasil mencetak gol dari jarak jauh yang bisa dibilang golnya sebenarnya kebetulan karena salah antisipasi bola tapi karena golnya lah yang membuat Belanda berhasil mengalahkan Brazil, tim yang bertabur pemain bintang.

Untuk laga finalnya, saya akhirnya cuman bisa nonton di rumah lagi tapi bedanya saya tidak punya cemilan apalagi makanan buat nonton. Jadinya cuman minum air putih saja sama makan pepaya buat menemani mata menonton pertandingan. Sebenarnya malam itu ada ajakan nonton bareng sama teman, tapi rasanya malas buat keluar rumah apalagi uang jajan sudah habis. Jadi mending nonton di rumah sekalian habiskan paket internet malam.

Nah momen Piala Dunia 2014 menjadi titik balik semangat saya buat nonton bola sampai habis. Saat itu, saya sudah menjadi mahasiswa yang punya segudang masalah dengan tugas. Karena masuk kuliah teknik itu kebanyakan tugasnya kelompok, jadinya kadang saya suka tukaran jadwal kerja laporan dan desain dengan teman lainnya. Pokoknya hampir semua laga saya tonton dari awal hingga final, kecuali laga perebutan tempat ketiga soalnya dikejar deadline tugas.

Yang paling saya ingat di Piala Dunia ini adalah pertandingan Brazil melawan Jerman di partai semifinal di mana Brazil dibantai habis-habisan sama Jerman tanpa ampun dengan skor bikin menjerit 7-1. Mau ketawa tapi takut dosa, tapi memang waktu itu pemain Brazil mainnya loyo kayak baru belajar main sepak bola padahal mereka tuan rumah loh yang semua suporternya berharap Brazil bisa menjadi kampiun di tanahnya sendiri.

Ada momen bahagia pasti ada momen sedihnya. Pas Jerman berhasil menjadi juara dunia, saya sempat sedih ketika merayakan kemenangannya di dalam lapangan. Bukan, bukan karena saya mendukung Argentina. Tapi melihat mereka membawa jersey bertuliskan Marco Reus di tengah kerumuman pemain Jerman. Jujur saya jadi mewek sendiri, ternyata ini yang namanya setia kawan. Mereka tidak melupakan temannya yang harus pulang lebih awal karena mengalami cedera sehari sebelum perhelatan Piala Dunia dimulai.

Tapi di antara semua gelaran Piala Dunia yang sudah saya rasakan, rasanya tidak ada yang bisa mengalahkan hegemoni Piala Dunia 2018 di Rusia. Walaupun banyak orang yang mengatakan Piala Dunia kali ini terlalu monoton, berat sebelah, kurang meriah, kurang drama, kurang seru, dan segala hal negatif lainnya, seperti yang dikatakan sang yang-merasa-paling-benar, netizen Indonesia.

Bagi saya, Piala Dunia ini paling menarik mulai dari atmosfirnya, tim-tim yang bermain, hingga lakon pemain di lapangan. Apalagi saya bisa menyaksikan semua pertandingan ini tuntas alias clean sheet. Walaupun cuman bisa nonton di rumah saja tapi rasanya bisa menularkan semangat sepak bola ke saudara perempuan sendiri itu menyenangkan.

Selain itu banyak kejutan juga si Piala Dunia ini diantaranya untuk pertama kalinya Video Assistant Referee (VAR) digunakan dalam pertandingan yang mengakibatkan drama VAR yang kadang bikin jengkel, banyak gol bunuh diri, banyak blunder kiper yang menghibur, banyak tim-tim besar besar gugur, dan tentunya banyak kejutan terjadi dari tim non-unggulan yang di luar dugaan..

Termasuk di dekat tempat tinggal saya, setiap pertandingan ada tetangga yang selalu bawa proyektor buat nonton bareng di lapangan kampung. Jadinya hampir tiap malam ketika pertandingan berlangsung, sorak-sorai penonton jadi menggelegar sampai penjuru kampung.

Dan akhirnya di sinilah, sudah 5 edisi Piala Dunia saya ikuti. Walaupun edisi 2002 hanya menonton laga final saja tapi tetap dari sanalah saya mengenal Piala Dunia untuk pertama kalinya. Dan untuk edisi selanjutnya yaitu Piala Dunia 2022 di Qatar nanti, katanya sih jadwalnya lain daripada yang lain soalnya dijadwalkan berlangsung di akhir tahun. Ditambah lagi katanya ada format baru untuk penambahan jumlah peserta.

Saya berharap masih bisa mengikutinya lagi walaupun saya tidak tahu akan seperti apa saya kedepannya dan di mana saya selanjutnya. Meskipun begitu, saya tetap masih penasaran dengan edisi selanjutnya soalnya ini pertama kalinya Piala Dunia di daerah gurun yang punya cuaca cukup panas. Kalau kamu punya cerita apa saja dengan Piala Dunia?

Artikel Terkait

Seorang travel blogger yang hobi wara-wiri di dunia nyata dan dunia maya.