5/29/2018

Nasehat Dari Sang Kakak Yang Hobi Traveling


bimoaji.com - Sudah seminggu lamanya, Kak Ratih berlibur ke Banda Aceh. Kulihat di instagramnya penuh dengan foto-foto liburannya. Rasanya iri melihatnya, soalnya saya juga dari dulu ingin sekali berkunjung ke Aceh, tapi niat doang tidak cukup tanpa modal. Duit tabungan selalu habis untuk keperluan kuota dan makan.

Hari ini, saya pun janjian dengan Kak Ratih ingin bertemu sekaligus nagih oleh-oleh kepadanya. Siang itu kita bertemu di ATM Centre, Mall Panakukkang. Sungguh obrolan macam apa yang akan terjadi di tempat seperti ini. Masa iya kita ngobrol sambil cek saldo, jadinya malah ganggu antrian orang lain dong.

Tapi namanya juga Kak Ratih, unik adalah bagian dari salah satu prinsip hidupnya. Kak Ratih ini orangnya lebih tua daripada saya, bisa dibilang high senior kalau masalah umur. Tapi kalau bicara soal semangat, dia jagonya. Pokoknya orangnya super humble, adorable, and ineffable.

Dia ini tipe cewek yang hobi traveling. Dalam kalendernya tidak ada tahun tanpa traveling, mulai dari hiking ke gunung-gunung terkenal di Indonesia, walking ke kota-kota besar ataupun pelosok desa di jawa, sampai snorkeling di pulau-pulau kecil. Saya saja sampai geleng-geleng kepala kalau dengar ceritanya.

Apalagi sekarang dia baru pulang dari Aceh pasti ceritanya lebih heboh lagi, soalnya ini adalah pertama kalinya dia liburan ke pulau sumatra khususnya Aceh. Cerita apalagi yang bakal dia ceritakan yah, saya sampai penasaran ingin mendengarnya. Tidak lama, ternyata Kak Ratih sudah sampai di sini, iya di ATM Centre tempat janjian untuk ketemuan.

"Nih, oleh-oleh dari Aceh, titipan dari temanmu." ucap Kak Ratih.

"Wah, keren nih, makasih kak." sahutku semangat.

"Cie, yang dapat hadiah dari orang Aceh nih." godanya.

"Apaan sih kak, temanan kok." jawabku singkat sambil buka hadiahnya.

"Gitu yah, tapi orangnya manis kok dek. Yakin?" godanya lagi dengan semangat.

Kami pun lebur dalam obrolan panjang di ATM ditemani orang yang berlalu-lalang lewat di tengah kami. Bagaimana tidak lewat, soalnya kita ngobrol di depan pintu masuk. Mungkin yang lewat akan merasa jengkel dengan kami. Tapi mau bagaimana lagi soalnya kami sudah seru mengobrol di sini.

Pengennya sih ngobrol di cafe tapi lagi puasa, jadi ya sudahlah obrolan kali ini cari tempat yang unik buat cerita-cerita. Sepanjang mendengar cerita Kak Ratih, saya malah jadi tambah semangat ingin liburan ke Aceh. Katanya dia sudah main ke Titik Nol Kilometer Indonesia, lihat foto-foto saat tsunami Aceh di Museum Tsunami, dan berkunjung langsung ke Masjid Baiturahman yang megah.

Tidak cuman tiga lokasi itu saja, ternyata ketika di Aceh dia juga pergi ke Lhokseumawe keliling tempat wisatanya. Mendengarnya saya jadi tambah iri, dalam 7 hari dia sudah bisa menjelajahi semua sudut kota Banda Aceh dan Lhokseumawe. Katanya tidak ada tempat senyaman ketika di Aceh walaupun termasuk kota besar tapi masyarakatnya tetap  memegang teguh budaya islam yang toleran.

"Makanya buruan ke Aceh dek. Murah kok kalau mau main kesana." seru Kak Ratih

"Emang kemarin kak habis berapa?" tanyaku penasaran.

"Tidak sampai 2 juta kok untuk tiket pesawat. Kalau soal nginap dan makan, kan ada teman kak di sana." Jawabnya santai.

"Murah juga tuh." Jawabku singkat.

Ngomong-ngomong soal teman, Kak Ratih termasuk orang yang punya banyak teman di mana-mana. Entah kenalan di tempat kerja, kuliah, atau ketemu di jalan, semuanya orang-orang baik. Itulah kenapa Kak Ratih tiap liburan kayak tidak pusing soal tidur dan makan. Soalnya di mana dia jalan pasti ada kenalannya.

Itulah juga pesan yang disampaikan Kak Ratih buat saya selepas obrolan tentang liburannya di Aceh. Katanya cari teman sebanyak-banyaknya, jangan pilih-pilih teman. Kita tidak bakalan tahu siapa yang akan menolong kita kedepannya, makanya jaga silaturahmi dengan sebaik-baiknya. Jangan pernah juga remehin teman, soalnya manusia punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Kalau ada yang tidak suka dengan kita, jangan ditinggalkan. Namanya juga hidup, ada siang ada malam, ada bulan ada bintang. Kita tidak boleh memaksakan orang lain suka dengan kita, Tapi usahakan tetap jadilah teman mereka kapanpun dan di manapun. Jadilah pribadi yang baik dan jaga silaturahmi jangan sampai putus. Tapi jangan juga manfaatin teman, itu namanya mencuri kesempatan dalam persahabatan.

Kata-kata Kak Ratih memang ada benarnya sih, dan saya sendiri melihat itu dari pribadinya yang ramah dengan siapa saja. Makanya kalau dia sedang ke luar kota atau daerah entah karena alasan kerja atau liburan, pasti ada saja teman yang membantu atau menemaninya.

Obrolan kami pun tidak lama, soalnya Kak Ratih mau bertemu keluarganya di sini. Jadinya kami pun berpisah. Hari ini banyak hal yang kudengar dari Kak Ratih, bukan hanya soal ceritanya ketika jalan-jalan di Aceh, lebih dari itu adalah pengalamannya yang luar biasa dan juga caranya menjalin silaturahmi yang baik dengan siapa saja.

Artikel Terkait

Seorang travel blogger yang hobi wara-wiri di dunia nyata dan dunia maya.