5/12/2018

Menjadi Ketua Kelas PB Membuat Pandanganku Berubah


bimoaji.com - Menjadi ketua kelas adalah hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Padahal sebelum ini terjadi, saya hanya bercanda mengatakan kalau nanti tiba di Pusat Bahasa Universitas Hasanuddin biar saya saja yang jadi ketua kelasnya. Sialnya, ternyata teman-temanku malah menganggapnya serius.

Saat itu, suasana aula pusat bahasa sedang ramai karena kedatangan peserta Pengayan Bahasa (PB) Beasiswa LPDP. Satu dari kami semua diminta untuk memperkenalkan diri masing-masing biar saling akrab. Pertemuan yang berlangsung dari pagi ini ditutup dengan dengan pembagian kelas dan penunjukkan ketua kelas selama pelatihan.

Baru juga sesi pembagian kelas, teman-temanku sudah teriak dari belakang menyebut namaku. Sontak saya jadi grogi ditunjuk tiba-tiba seperti ini. Bukannya dilakukan pemilihan dulu, pikirku. Bak gayung menyambut, teman lainnya malah ikut-ikutan menyahut. Jadilah saya mati kaku dan tidak bisa mengelak.

Jujur, ini adalah kali pertama ditunjuk sebagai pemimpin, walaupun hanya skala kelas. Dulu sewaktu kuliah, Jangankan jadi ketua kelas, jadi ketua kelompok saja, Sayaselalu menghindar. Soalnya saya tidak mau dibebani dengan hal-hal yang merepotkan, buatku jadi pemimpin itu adalah sesuatu yang sangat membosankan.

Tapi mindset itu berubah ketika harus menjadi ketua kelas PB Universitas Hasanuddin. Saya harus menghadapi teman-teman yang berasal dari luar daerah dan juga merupakan awardee LPDP. apalagi harus menjalani tugas ini selama 6 bulan lamanya.

Baca juga : Mengenal Pengayaan Bahasa Beasiswa LPDP

Seperti yang sudah kubayangkan, menjadi ketua kelas memang sangat merepotkan. Saya harus mengambilkan materi pelajaran, memanggil dosen pengajar yang terlambat masuk, menyusun dan merapikan daftar kehadiran, dan menertibkan jadwal kuliah.

Tidak hanya itu, kadang saya kerepotan ketika ditagih uang bulanan oleh teman kelas yang datang terlambat. Pernah suatu waktu saya hampir dikudeta karena telat mengajukan permohonan Living Allowance (LA) ke pihak PIC PB. Bahkan pernah sekali beradu argumen dengan seorang teman yang tidak mendapatkan hak bulanannya.

Waktu itu, sedang terjadi kesalahan sistem jadi secara acak ada beberapa teman PB se-Indonesia yang tidak mendapatkan LA-nya tepat waktu. Kalau mengingat kejadian itu, saya sempat kepincut emosi tapi hal itu kutahan demi menjaga nama baik di antara kita berdua.

Banyak lagi hal lainnya yang sangat melelahkan selama menjadi ketua kelas mulai dari mendamaikan teman yang sedang bertengkar, menjadi pendengar curhatan teman yang galau, menjadi negosiator buat acara jalan-jalan, menjadi penghubung antara kelas dan dosen serta staf pusat bahasa, dan menjadi pribadi yang menjaga kerukunan teman kelas.

Tapi dibalik itu semua, jujur, saya sangat menyukai hal ini. Yah menjadi penanggung jawab kelas telah mengubah pola pikiranku. ternyata menjadi pemimpin tidak selalu membosankan seperti yang kubayangkan sebelumnya bahkan ini jauh lebih menyenangkan ketika bisa menjalankan amanah yang telah diberikan.

Dari hal inilah, saya belajar banyak tentang bagaimana menyikapi suatu keadaan, berani dalam mengambil sikap saat menghadapi masalah dan menemukan solusi terbaik, tegas menentukan pilihan, dan tentunya menjadi pendengar yang baik.

Rasanya saya ingin mengucapkan terima kasih lagi kepada mereka semua, teman-teman PB TOEFL UNHAS. Hari ini kelas kelas telah selesai dan begitu juga dengan tugasku. Semoga kita dapat berkumpul dan bercanda lagi di kesempatan yang baru.

Saat saya menulis draft postingan ini,  ada sebuah pesan yang masuk di ponselku dari dua orang temanku, mereka mengirimiku sebuah pesan yang isinya memintaku tetap menjadi ketua kelas lagi saat PB Lanjutan lagi.

Pertama, Mas Ikram, Dia bilang semoga ketika PB Lanjutan nanti dia bisa menemukan ketua kelas seperti diriku di Bandung , dan dia juga memintaku untuk tetap menjadi ketua kelas buat teman-teman yang akan melanjutkan PB di Jogjakarta.

Kedua, Dek Arni, Dalam pesannya dia juga memintaku untuk tetap menjadi ketua kelas di Jogjakarta, pokoknya harus Kak Bimo, tulis pesannya. Saya bingung mau menjawab apa dengan pesannya, kenapa dia bersemangat sekali memintaku ketua kelas lagi.

Apapun itu, saya sangat senang sekali sampai tersenyum-senyum sendiri, ternyata masih ada yang tetap mendukungku walaupun sebenarnya merasa belum begitu maksimal saat menjadi ketua kelas di Universitas Hasanuddin. Dan jika kesempatan itu datang lagi, Saya sudah siap menjadi ketua kelas lagi.

Artikel Terkait

Seorang travel blogger yang hobi wara-wiri di dunia nyata dan dunia maya.