4/29/2018

Perjalanan Pendakian Di Kawah Gunung Bromo

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo

bimoaji.com - Sebenarnya ini adalah pengalaman beberapa bulan yang lalu ketika saya diasingkan ke jawa timur untuk belajar hidup mandiri, jauh dari kehidupan kota. Untungnya kehidupan saya di sana tidak ngenes-ngenes amat, soalnya saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat dan tentunya asyik diajak ngobrol..

Selama saya tinggal di Kediri, saya selalu diajak teman-teman untuk mendaki gunung. Sebenarnya sih, saya gak terlalu suka dengan hal-hal ginian, Emang segitu menariknya yah mendaki gunung? kalau dipikir-pikir kan butuh waktu lama buat naik ke puncaknya, apalagi mesti bawa perabotan yang berat, bukannya senang tapi malah capek.

Sampai pada akhirnya pikiran polos itu berubah dan rasa penasaran pun muncul setelah seorang teman kelas yang dengan pedenya pamerin foto-foto pas lagi mendaki di Gunung Bromo. Gila, seru banget nih, mumpung ada waktu kayaknya saya harus coba deh mendaki biar dibilang kayak anak muda kekinian.

Tapi, sebelum mendaki, seperti biasa saya harus minta izin dulu sama orang tua di rumah, Makassar, kalau anak laki-lakinya ini ingin mendaki. Dan kamu mau tahu apa jawaban bokap di ujung telepon?

"Kamu tuh di kursusin di Pare buat belajar, bukan kluyuran ngalur-ngidul gak jelas, nanti duit tabunganmu habis, nak. Mending kamu jemurin pakaian aja, gak usah sok-sokan naik gunung. Kamu gak ingat apa, waktu naik bukit di samping kampus aja sudah ngos-ngosan."

Nyesek banget ini mah. Apa cuman saya yang kayak gini? kalian juga kan? siapapun tolong jawab pertanyaanku biar saya gak sendirian yang menderita. Tapi emang sih, sedewasa apapun seorang anak, akan tetap terlihat seperti anak kecil di mata orang tuanya.

Akhir tahun kemarin, saya bersama teman-teman asrama dan teman kelas akhirnya bisa liburan mendaki gunung juga. Setelah berminggu-minggu menghemat duit tabungan dengan cuman makan nasi kucing doang dan mie gelas doang, akhirnya saya punya duit yang cukup untuk bisa liburan ke Malang, Dan tujuan saya ke sana adalah untuk mendaki Gunung Bromo.

Mau tahu gimana akhirnya saya bisa dibolehin mendaki? Sebenarnya saya gak tahu juga sih apa beneran diizinin atau tidak, soalnya saya gak bilang apa-apa pas nelpon. Tapi naluri laki-laki saya mengatakan untuk lebih memilih minta maaf ketimbang minta izin ke mereka nantinya. Jangan ditiru yah, resiko tanggung sendiri.

Tidak seperti biasanya, Ilham dan Fahmi meneror saya dengan tingkah lakunya yang ngeselin. Mulai dari minta dibantuin nyiapin peralatan buat mendaki lah, cari mobil buat jalan lah, sampai cari utangan juga. Mereka gak sadar apa kalau kita sama-sama amatiran buat masalah pendakian. Akhirnya saya suruh aja Zahy buat beresin semua. Maafkan kami Za, laki-laki yang bisanya cuman repotin cewek.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Si penunjuk jalan yang hobi tersesat, Zahy.

Dari informasi Zahy, jadwal berangkat nanti tepat jam 9 malam pas malam tahun baru dari Pare menuju Bromo, kira-kira sekitar 8 jam perjalanan katanya. Titik ngumpulnya nanti di Gapura "Selamat Datang Di Pare". Untungnya jarak antara asrama saya dengan gapura lumayan dekat, kepleset doang sudah sampai. Saya, Ilham, dan Fahmi sudah siap-siap nungguin teman-teman yang lain datang.

"Bang, kita ke sana bawa baju berapa nih?" tanya Ilham.

"Bawa secukupnya ajalah yang penting muat di tas kita bertiga." jawab saya cuek.

"Oke deh bang. Terus kita bawa sepatu gak buat mendaki?" tanya Ilham lagi.

"Sudah gak usah dibawa, ribet." jawab saya dengan santai.

"Mati kedinginan baru tahu rasa lu berdua." sahut Fahmi sambil seruput mie rebus.

Gak lama kami ngobrol, tiba-tiba Tika dan Cenni datang ke asrama, katanya sudah ditungguin sama yang lain di gerbang depan. Total yang berangkat dari kita ada 12 orang plus 2 orang gak dikenal juga berangkat untuk mendaki. Daripada kacangin mereka berdua di perjalanan, akhirnya saya berinisiatif kenalan kemudian jatuh cinta. Enggak kok, mereka berdua cowok.

Sebelum perjalanan dimulai, Zahy coba ngecek perlengkapan teman-teman yang lain. Semuanya sudah beres kecuali saya yang emang cuman bawa tas ransel doang. Tapi dengan penuh keyakinan saya coba yakinin Zahy kalau saya gak bakal kenapa-kenapa kok, sumpah saya tahan dengan yang namanya dingin. Lemak di tubuh saya sudah cukup jadi bukti kalau saya kuat dalam menghangatkan tubuh.

"Ah elu bang, kipas kencang dikit aja sudah flu." ledek Ilham.

Perjalanan menuju Bromo pun dimulai. Kali ini kami gunain jasa travel yang sudah sering anterin anak-anak Pare buat tur ke Bromo. Selama perjalanan, semua pada sibuk cerita sama teman bangkunya. Lah saya cuman bisa ngajakin ngobrol pak supirnya, itu pun jawabannya kadang secukupnya doang, gak ada seru-serunya diajak cerita.

Sebelum sampai ke Bromo, kami dibawa sama pak supir menuju Alun-alun Batu. Katanya ini spesial promo dari travel sekalian kalau ada yang mau belanja atau cari makan di sini boleh saja asal tidak lebih dari satu jam. Karena ditawarin begitu, gak pakai lama kami semua turun untuk keliling sekitaran Alun-alun.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Boyband yang tertukar, Fahmi, Bimo, Nain, dan Ilham.

Jam 12 malam, semua kembali ke mobil dan perjalanan berlanjut menuju Bromo. Menurut pak supir, kondisi jalanan sekarang pasti macet panjang soalnya ini malam tahun baru. Jadi biar lebih cepat, pak supir ambil jalan pintas. Saya yang duduk di sampingnya cuman setuju aja, soalnya tidak begitu tahu rute di Malang.

Sepanjang jalan baru deh pak supir mulai enak diajak ngobrol, banyak yang dia ceritain mulai dari kisah Bromo sampai mitos orang-orang yang ke Bromo. Saya yang baru tahu jadi merinding sendiri, bukan karena cerita si bapak tapi suhu di mobil mulai dingin banget. Pas nengok ke belakang, yang lainnya sudah tidur pulas.

Akhirnya mobil travel pun tiba di pintu kedatangan Bromo tepat pukul 4 subuh. Udara jadi semakin dingin. Semua sudah keluar dan bersiap-siap ganti kendaraan dengan jeep. Sial, belum juga ke puncaknya udara sudah sedingin ini. Saya pun menggigil kedinginan, pengen rasanya minta syal atau sarung tanganke teman tapi malulah dengan ucapanku tadi ke Zahy.

Saya yang cuman modal kaos tipis, celana training, sandal jepit, dan jaket olahraga berasa jadi orang bego di sini. Harusnya tadi pake baju berlapis-lapis sama pakai sepatu. Saya lihat Ilham, kayaknya dia juga kedinginan tapi ngapain juga pakai sarung di kondisi kayak gini. Sialan tuh anak, cerdik juga idenya bawa sarung di saat kayak gini.

Karena sudah kepalang tanggung, perjalanan pun dilanjutkan menuju puncak dengan kondisi yang dingin banget. Belum juga sampai puncak, ternyata jalanannya macet karena banyaknya wisatawan yang datang. Mau tidak mau akhirnya kami semua turun dari jeep dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kata penduduk di sana, puncak masih jauh, ada 2 Km lagi.

Apa-apaan ini, kalau begini namanya penyiksaan. Tapi ini kan pendakian, ya harus jalan dong. Saat itu, saya sudah gak bisa berpikir jernih lagi soalnya kondisi yang semakin dingin. Sampai akhirnya, datanglah abang-abang ojek nawarin jasa buat mengantar sampai puncak. Saya sempat mikir soalnya harganya pasti mahal.

Tapi Zahy yakinin mending naik aja daripada gak dapat momen sunrise, bisa lebih rugi lagi. Ya ampun kondisinya jadi makin gila nih. Kalau saya naik motor, uangnya nanti gak cukup pas pulang ditambah lagi suhunya pasti bakalan tambah dingin kalau abangnya ngebut bawa motor. Kalau saya jalan kaki, walau jaraknya dekat tapi yang namanya jalan nanjak jelas bangetkan bikin capek.

Ya sudah, saya ikut saran Zahy aja, biarlah saya mati kedinginan asal bisa lihat sunrise di Bromo, nanti juga bisa hangat. Perjalanan dilanjutkan lagi, dan sesuai prediksi, abangnya ngebut dan saya teler saking dinginnya. Rasanya telinga mau pecah, tangan jadi kaku banget, dan bulu mata jadi beku yang seketika langsung berubah simetris ngalahin bulu mata cewek yang lagi dandan.

Tidak butuh waktu lama akhirnya kami semua sampai dan langsung menuju tempat di mana sunrise akan muncul, saya lupa namanya tapi sepertinya di sini merupakan spot dimana orang bisa melihat Gunung Bromo langsung dari atas. Suasananya saat itu ramai banget, semua orang sudah siap-siap dengan kamera buat abadikan momen sunrise saat menyapa Gunung Bromo.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Hai sunrise, tebak siapa kami? pengagum rahasia-Mu.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Karena kabutnya terlalu tebal, Gunung Bromo nya jadi malu-malu keluar.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Skuat anak-anak muda dari Makassar.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Dingin sih tapi kok hangat yah.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Saatnya pulang dan menuju destinasi selanjutnya.

Hampir sejam kita semua menikmati pemandangan yang luar biasa di sana. Dan sekarang suhunya tidak se-ektrim tadi, udaranya mulai hangat kembali dan perjalanan kembali dilanjutkan. Menurut Zahy, kita semua akan turun menuju ke bukit teletubies dekat Gunung Bromo. Untuk sampai ke sana harus naik mobil jeep.

Karena mobil jeep tadi terjebak macet, kita semua harus turun dengan naik ojek tadi. Mendengar ini saya berubah menjadi orang yang paling semangat. Langsung aja pak, ngebut kayak tadi juga gak apa-apa deh, sekalian cabut aja rem nya biar seru. Abangnya cuman senyum ngikutin ide gila saya, dan langsung meluncur. Dimohon jangan pernah membayangkan kayak gimana cepatnya motor pas lagi ngebut di jalan turunan.

Sampai di bawah ternyata pak supir jeep sudah menunggu setengah jam yang lalu, katanya kita harus cepat turun soalnya tidak lama lagi hujan turun, takutnya malah gak dapat pemandangan bagus di sana nanti. Ya sudah, akhirnya semua naik saling impit-impitan di jeep. Bayangin aja, satu mobil jeep isinya 8 orang, rasanya kami mirip ikan kaleng yang berbaris dengan rapi.

Perjalan menuju bukit teletubies gak sampai 30 menit, kami semua langsung turun ambil foto-foto selagi ada waktu. Jnagan tanya saya gimana? tentu ikutanlah. Tapi tunggu dulu, rasanya pengen tidur dulu nih, Soalnya semalam gak ada tidur sama sekali gara-gara diajak ngobrol pak supir. Karena sudah ngantuk berat, akhirnya saya istirahat sekitaran 30 menit di atas rumput yang halus.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Dasar si Ilham, foto gak tunggu saya istirahat dulu.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Si tour guide yang paling cerewet.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Baru aja bangun langsung diajakin foto sama Cenni.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Yang fotoin kejauhan nih, dekat dikit dong.

Sejauh mata memandang sih di sini cuman ada rerumputan dan bukit-bukit hijau berbaris rapi. Tapi ada hal yang membuatku begitu takjub saat tiba di sini. Kalau biasanya tempat wisata selalu dipenuhi oleh kotoran-kotoran plastik, kalau di sini saya gak menemukan sampah berserakan, benar-benar bersih. Jadi seperti bermain di taman yang benar-benar asri.

Perjalanan kembali berlanjut, kami semua kembali ke mobil jeep masing-masing. Sama seperti sebelumnya kali ini kami saling impitan-impitan lagi dengan aura yang berbeda dari sebelumnya. Semua bau sudah bercampur jadi satu, jadi mau gak mau selama perjalanan saya harus terbiasa menghadapi bau yang khas banget.

Untungnya perjalanan kali ini gak butuh waktu lama, cuman sekitar 15 menit aja kita sudah sampai di padang pasir Gunung Bromo. Kata pak supir jeep, untuk sampai ke puncak harus jalan kaki dari sini. Yang benar saja pak, jaraknya jauh banget loh itu? Sekitaran 5 Km, bukan 10+ Km lebih kayaknya deh, jauh banget pak.

Ya ampun saya dari tadi kok ngeluh terus yah, padahal kan niat awal memang mau mendaki. Tanpa nunggu aba-aba si Ilham langsung pergi duluan, katanya sudah gak sabar mau lihat kawahnya. Sedangkan saya, Fahmi, Nain, Tika, dan Cenni pergi barengan. Yang lainnya sudah berpencar gak tahu kemana, tapi yang jelas kami akan bertemu di kawah Bromo.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Saatnya memulai perjalanan menuju kawah Bromo.

Untuk sampai ke kawah Bromo, pertama-tama harus lewatin dulu yang namanya padang pasir di sana. Pasir ini merupakan partikel dari lahar Bromo yang meletus. Karena itu, pasir di sini memiliki warna abu-abu hitam. Kalau menghitung luas padang pasir ini, kayaknya luas banget deh. Tapi yang jelas, pemandangan di sini keren abis kayak di luar negeri gitu.

Di ujung padang pasir ini, terdapat sebuah Pura sebelum memasuki area pendakian menuju kawah Bromo. Katanya Pura ini merupakan tempat ibadah bagi penduduk sekitar untuk acara adat dan keagamaan. Saya tidak begitu tahu persis tapi yang jelas Pura itu kelihatan besar dan luas sekali. Dan tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya kecuali jika memang ada acara.

Nah di belakang Pura tadi ada jalan gundukan berpasir yang merupakan satu-satunya akses menuju kawah Bromo. Duh, kayaknya bakal berat nih. Soalnya dari sini aja jalurnya panjang banget dan menanjak, apalagi medannya gak beraturan karena terbentuk dari bekas lahar letusan Gunung Bromo, kepleset dikit aja bisa jadi bola salju tuh.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Kelihatannya sih gampang, aslinya bikin capek banget.

Sebenarnya ada dua cara sih kalau mau cepat sampai ke puncaknya. Pertama jalan kaki sendiri lewatin celah di gundukan pasir atau naik kuda. Kalau boleh milih, saya pengen banget naik kuda tapi saya mikir lagi di antara teman saya tidak ada yang mau naik kuda, terlebih lagi biaya sewanya lumayan mahal, dan yang paling membuat kepikiran adalah saya kasian sama kudanya kalau harus gandeng saya ke puncak, bisa-bisa yang capek duluan malah kudanya.

Tapi selama perjalanan ini ada dua orang yang kelihatannya lincah banget lompat sana-sini kayak gak ada beban aja dalam hidupnya. Saya lihat Tika dan Cenni sudah sampai duluan di puncak disusul Fahmi dan Nain yang jalan barengan kayak orang pacaran. Sedangkan saya harus berjuang sendirian sambil sesekali narik napas dulu.

Gak pakai lama, akhirnya saya bisa nyusul mereka berempat yang dengan santainya malah istirahat beli minuman sambil foto sana-sini dan cuman ngeliatin saya yang sudah ngos-ngosan dengan pakaia yang penuh keringat. Karena gak mau kalah, saya langsung ajakin semuanya naik ke kawah mumpung belum banyak pengunjung yang datang buat nungguin Ilham dan rombongannya Zahy.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Puncaknya sudah kelihatan nih.

Di depan saya sekarang, ada deretan anak tangga yang kayaknya gak terlalu tinggi sih tapi rame banget yang naik jadi bikin deg-degan. Baru kali ini saya mau nyerah aja naik tangga, gimana gak? sebelum ini aja napas sudah ngos-ngosan, sekarang harus naik tangga, mana jalurnya kecil lagi.

"Naik aja bim, dikit lagi sampai kan?" seru Tika.

Setelah mendengar perkataan Tika, saya langsung bersemangat untuk cepat naik. Saat itu, perlahan tapi pasti saya menaiki tangga sedikit demi sedikit, beberapa orang yang beristirahat telah saya lewati. Saya makin bersemangat dan merasa bahwa diri saya memang telah ditakdirkan untuk menjadi pendaki gunung sejati.

Ketika saya melihat kebelakang, sudah lumayan banyak anak tangga yang telah saya naiki. Sekitar 30-an. Sedikit sih, tapi rasanya bangga banget bisa sampai sejauh ini. Setelah itu, kepala saya arahkan kembali atas. Saya mau nangis, kaki ini sudah gak bisa melangkah lagi. Rasanya saya mau rebahan aja di sini, gelinding-gelinding aja deh, bodoh amat.

Di anak tangga ini, saya gak bareng lagi sama Tika dan lainnya. Mereka sudah jauh diatas sana, sedangkan saya masih berjuang menaiki setengah anak tangga menuju puncak. Ketika di sini, pikiran-pikiran tentang kenikmatan menaiki gunung terbantahkan semua. Saya gak mau lagi naik gunung, capek banget.

Langkah kaki pun saya percepat karena gak mau ketinggalan lagi sama lainnya. Hampir sebagian banyak dari pendaki sudah saya lewati tangga pendakian. Tapi mau cepet gimana pun, memang butuh waktu untuk saya bisa terus melangkah. Setelah penuh perjuangan, akhirnya saya sampai juga kawah Gunung Bromo. Tapi anehnya, saya gak lihat Tika dan lainnya. Jangan-jangan mereka nyebur ke kawah? gak lah.

Gak lama nyari mereka, ternyata semuanya sudah berkumpul di atas. Ternyata saya yang datangnya paling belakangan, sialan kalah cepat lagi nih. Dalam perjalan ini, saya bersyukur banget bisa bertemu dengan teman-teman seperti mereka yang baik pribadinya walau kadang nyebelin.

Tidak hanya itu, saya juga bersyukur karena bisa menaklukkan pikiran-pikiran negatif selama mendaki, pikiran bahwa saya gak sanggup mendaki sampai puncak akhirnya bisa terwujud dengan perjuangan ekstra. Karena kalau saya gagal,saya gak bakal dapat momen seperti ini:

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Ini tim saya sebelum naik ke puncak.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Kalau ini tim nya Zahy, lagi di retakan magma katanya.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Pegangan mbak, jatuh ke kawah gak seindah jatuh cinta loh.

Perjalanan Mendaki Di Kawasan Wisata Gunung Bromo
Perjalanan saya dimulai dari sisi foto atas sampai sisi bawah.

Keren kan? tapi tetap saya gak mau lagi naik gunung. Kecuali bareng kamu, iya kamu yang lagi baca cerita ini. Masa saya naik sendirian, gak mungkin banget kan.

Ketika turun gunung, saya baru sadar ternyata perjalanan yang saya lalui cukup jauh. Pagi hari ini di Gunung Bromo dengan pakaian yang banjir keringat ditambah udaranya panas menyengat yang jauh berbeda dengan udara subuh tadi rasanya menuruni puncak gunung terasa sangat melelahkan. Terlebih lagi, di sini gak ada pohon-pohon tinggi untuk berteduh. Sepanjang perjalanan hanya hamparan pasir serta kotoran kuda.

Saya baru sadar, ternyata untuk mendaki gunung itu yang saya lawan adalah pikiran negatif yang saya bikin sendiri. Dan dengan ini juga, saya sadar, bahwa betapa dahsyat dan agung ciptaan Tuhan. Kayaknya saya bakalan nyoba untuk mendaki gunung lagi ketika liburan ke pulau jawa lagi. Tapi kalau saya sudah siap mental juga sih.

Setelah tahu saya pergi mendaki ke Gunung Bromo, orang tua saya ternyata malah gak marah sama sekali tapi malah penasaran dengan Bromo kayak gimana sekarang. Yah syukurlah setidaknya mereka juga senang.

Jadi gimana? Tertarik untuk mendaki gunung juga?



Tempat : Gunung Bromo
Lokasi : Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur
Jam Buka : Setiap Hari
Biaya : Rp.30.000

Artikel Terkait

Seorang travel blogger yang hobi wara-wiri di dunia nyata dan dunia maya.