Saturday, 10 February 2018

Yang Berjuang Sendirian Tetaplah Kuat

Yang Berjuang Sendirian Tetaplah Kuat

bimoaji.com - Akhir-akhir ini Aku selalu tersenyum bahagia ketika melihat langit sedang mendung gelap. Bukan karena Aku gila, tapi menunggu waktu hujan adalah salah satu momen favoritku. Semakin deras hujan yang turun ke bumi, semakin senang perasaanku ketika berjalan di bawah rintiknya. Tapi tahukah kamu, kenapa Aku begitu menyukainya?

Hal ini bermula ketika Aku masih kecil, dimana suatu hari seorang pria tua penjaga surau berkata ini kepada kami, anak didiknya. Di tengah hujan yang turun deras, dia merangkul kami sambil bercerita "hujan itu rezeki, dan hujan itu berkah, jangan kalian mengutuknya, yakinlah setelah badai pasti ada pelangi. Dan kalian tahu? setelah datangnya hujan ada banyak kehidupan baru yang akan tumbuh menghiasi bumi."

Dari perkataan beliau yang paling kuingat adalah hujan, pelangi, dan kehidupan baru. Pada fase ini, setiap kehidupan akan menghadapi yang namanya rintangan atau badai yang datang silih berganti sebelum akhirnya bertemu dengan sebuah kebahagian. Dan ada kalanya, rintangan itu datang karena ingin membantumu untuk tumbuh menjadi lebih dewasa.

Bagaimana dengan kita, manusia?

Ting... Ting... Ting...

Itu adalah bunyi pesan di ponselku, tumben sekali banyak notifikasi masuk di Whatsapp ku, padahal Aku yakin sudah me-nonaktifkan semua notifikasi grup. Kuraih ponsel di saku celanaku dan kulihat satu nama di bar notifikasi.

"Ica?"

Tidak seperti biasanya dia mengirim pesan sebanyak ini, lalu Aku pun membaca sekilas pesannya. Tanganku gemetar, jantungku berdetak lebih cepat, dan tiba-tiba tubuhku membeku untuk sesaat. Kucoba menelponnya, tapi tidak ada jawaban seakan membisu. Hei, apa yang sebenarnya terjadi? Tolong angkat telponku.

Aku yakin di dunia ini setiap orang pasti pernah merasakan jatuh cinta. Penyebab jatuh cinta yang paling umum adalah karena kecantikan atau ketampanan, sebagian lainnya ada karena kepintaran, karena penampilan, karena kesamaan hobi, karena karakternya, atau karena ibadahnya. Mungkin ada alasan lainnya dan semua bisa saja terjadi. Tapi berbeda denganku yang jatuh cinta karena kita satu perjalanan di bandara.

Di hari keberangkatan menuju Jakarta waktu itu, kami berdua duduk bersama di dalam mobil. Aku mengajaknya untuk berangkat bersama-sama karena kami satu tujuan. Saat itu, Aku melihatnya sebagai gadis yang periang dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Entah kenapa Aku selalu memperhatikan senyuman itu, senyuman yang benar-benar jernih.

Sejak kebersamaan kami di Jakarta dalam satu kegiatan, Aku merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Di antara perempuan yang pernah kutemui, hanya dia yang berbeda. Entahnya seperti apa, karena Aku sendiri tidak dapat mendeskripsikannya sampai sekarang. Hingga di suatu senja yang cerah, kata-kata itu pun tiba-tiba terucap dengan yakin.

Semburat jingga nampak jelas terlihat dari Masjid Terapung, Pantai Losari. Kami sedang bersiap-siap menunggu adzan maghrib berkumandang. Sambil menikmati panorama pantai yang indah, Aku duduk di teras masjid dan dia duduk di sampingku berjarak satu hasta dariku. Kami sibuk memandangi orang yang berlalu lalang dan sedikit bercerita tentang kegiatan masing-masing.

Dengan sadar Aku memanggilnya "Dek, Aku mau bilang padamu, Aku suka kamu dan Aku ingin serius kedepannya". Sungguh rasanya Aku mau menutupi muka ini dengan kain tebal. Mendengarku bilang begitu, dia hanya senyum setengah tertawa kemudian mendorongku untuk segera ke masuk ke masjid.

Memang benar banyak perempuan yang lebih cantik di luar sana, tapi dia berbeda. Kau tahu, tingginya mungkin tidak setinggi anak SMA. Rambutnya mungkin tidak seperti model iklan shampo yang melambai-lambai tanpa ketombe ketika ditiup angin sebab dia berjilbab. Jilbabnya pun sederhana, bukan jilbab yang dililit dan disimpul tujuh keliling diatas kepala.

Namun, sekali dia tersenyum, dunia seakan ikut tersenyum bersamanya. Tanpa dia sadari atau tidak, Aku selalu memperhatikan senyuman itu, senyum yang selalu memberi aura positif bagi siapa saja yang melihatnya, karena senyumnya benar-benar tulus. Bahkan pesona jingga pun kalah dengan senyumannya.

Sejak Aku berjumpa dengannya di bandara, bisa dikatakan Aku benar-benar sudah jatuh cinta. Yah, jatuh cinta kepada orang yang bahkan belum kenal lama, hanya hitungan hari selama kami berada di Jakarta dan dipertemukan kembali di Makassar karena sebuah pelatihan di kampus. Dan semenjak kejadian itu, kedekatanku dengannya bagai air dan gula, semuanya terasa manis.

Hingga suatu hari, diantara rintik hujan yang turun deras mengguyuri jubah biru ku. Aku membaca pesannya yang sempat membuatku mematung sepersekian detik yang lalu. Ya ampun, kalau hujannya deras seperti ini mana bisa kubaca semua pesannya. Aku pun memacu si kuda besi lebih cepat menuju rumah.

Kulihat rumah sedang sepi, sepertinya adik-adikku sedang ke masjid di hujan yang deras ini, hanya ada ibu duduk di ruang tamu menungguku dengan sambutan hangatnya. Aku pun duduk di meja belajar ku yang berada persis di samping ruang tamu. Kubuka kembali pesan-pesan darinya dan membacanya dengan hati-hati.

Dengan menarik napas panjang, Aku berdiri dan berpindah duduk ke teras rumah. Pikiranku seperti bintang yang bertabrakan dan rasanya setiap sendi di tubuhku terasa lemas. Apakah ini benar seperti ini? Apakah ini efek dari jatuh cinta. Aku belum bisa, bukankah ini terlalu cepat. Aku terus bertanya-tanya ke dalam diriku semalaman suntuk.

Dan pagi harinya, Aku pun membalas setiap pesan darinya. Kurang lebih 4 jam kami saling berbalas pesan secara sambung-menyambung seperti meniti anyaman, bahkan Aku pun sampai lupa sarapan dan mandi karena terpaku tidak percaya dengan perkataannya.

"Maaf, Kak Bim, sebaiknya kita akhiri saja. Lagian kita juga tidak ada hubungan, hanya saling suka. Dan terima kasih untuk semuanya dan juga keberanian kak yang mengajak serius saya. Saya menghargai keberanian itu"

"Tapi... iya dek, kalau itu memang yang dek inginkan. Kak terima."

"Dan sekali lagi, maaf kak. Saya sudah dilamar duluan sama seseorang dimana ini yang membuat saya bingung. Di satu sisi, saya masih menyukai kak, tapi di sisi lain saya tidak bisa menolak sepihak pinangan seseorang. Untuk itu, ikhlaskan saya, kak. Biar ini tidak menjadi beban kak juga."

"Seperti itu yah, baiklah dek."

Rasanya seperti tertusuk ribuan pedang, Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Harapanku, keyakinanku, dan kepercayaanku seperti hancur seketika saat itu juga. Hingga beberapa hari lamanya, Aku terjebak dalam kisah ini. Meskipun kami masih sering bertemu tapi kondisinya tidak seperti dulu lagi. Kali ini, kami bagaikan minyak dan air, sulit untuk saling berinteraksi.

Aku selalu bertanya-tanya dalam kesendirianku "kenapa kamu tidak pernah mengatakannya dari awal, kenapa kamu katakan itu ketika kita sedang membangun sebuah kepercayaan satu sama lain, kenapa dan kenapa". Pertanyaan itu terus menghantui ku tiap malam. Aku pun tidak ingin menanyakan hal ini kepadanya, karena Aku tidak ingin membebaninya lebih jauh lagi.

Dan di suatu waktu, seorang teman dekat menghubungiku untuk memberiku nasehat agar jangan terlalu membebani diri sendiri, ikhlaskan dan bangkit lagi. Dia sudah bahagia dengan keputusannya, dan Aku harus menerima ini. Temukan kebahagianmu sendiri, masih ada yang menunggumu di luar sana, katanya.

Sepanjang hari, Aku hanya memikirkan hal ini dan mencoba mencari ketenangan dalam diriku sendiri. Yah memang benar tidak semua apa yang kita harapkan akan menjadi kenyataan, bahkan rencana yang sudah tersusun rapi sekalipun. Jika Tuhan sudah menentukan jalur ini, maka tidak ada daya ku menentangnya.

Ternyata seperti ini, ketika cinta hanya diperjuangan sendiri. Memang menyakitkan tapi tetap ada hikmah yang kudapat cari kisah dan itu yang akan menjadi sebuah pelajaran untukku. Terima kasih atas cinta yang Engkau berikan, dan terima kasih untuk anugerah yang sudah Engkau berikan padaku.

Di malam yang dingin itu, diatas sajadah panjang, kurasakan nafasku terasa menjadi lebih lapang, pundakku terasa lebih ringan, dan pikiranku kembali jernih. Setelah kupikirkan dengan baik-baik kembali, ternyata mengikhlaskan orang yang kita suka untuk orang lain memberikan efek positif. Ia mengajarkan kita tentang bentuk paling sempurna dari yang namanya penerimaan.

Dari hal ini Aku pu  belajar bahwa tidak ada yang salah dengan cinta itu sendiri, dia bebas datang dan pergi kapanpun. Tapi ada satu hal yang perlu diingat bahwa seseorang akan semakin kuat ketika dia bisa bangkit. Menurutku untuk menjadi dewasa, setiap orang pasti akan menghadapi patah hati pertamanya.

Dan untuk dia yang sebentar lagi akan memasuki babak baru kehidupannya, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih telah hadir memberikan warna di hidupku walaupun singkat. Kuharap kamu baik-baik saja dan jangan melihatku. Karena Aku tidak akan menoleh ke arahmu lagi, biarkan Aku mencari tujuanku sendiri dan tersenyum kembali.

Artikel Terkait

Seorang travel blogger yang hobi wara-wiri di dunia nyata dan dunia maya.