1/28/2018

Dalam Perjalanan Diamnya Yang Begitu Tegar

Kisah Cinta Driver GrabCar

bimoaji.com - Sore itu cuaca sedang mendung gelap, sepertinya hujan akan turun dengan deras sebentar lagi. Saya yang duduk bersandar di teras rumah sedang mengamati keadaan sekitar sambil  terdiam sesaat, pergi tidak yah. Kalau pergi, di jalan pasti kehujanan. Kalau tidak, saya tidak yakin bisa bertemu dengan mereka lagi.

Daripada terlalu lama dipikirkan, akhirnya saya pilih untuk berangkat saja dengan menggunakan Grab Car biar lebih cepat. Untung saja masih ada driver yang merespon permintaan saya, padahal biasanya kalau cuaca sedang hujan banyak driver yang tidak mau ambil orderan. Tidak butuh waktu lama akhirnya Grab Car datang juga di rumah.

Dengan senyum ramah, abang driver membuka kaca mobil dan menanyakan apakah saya yang memesan Grab. Karena diburu waktu akhirnya saya masuk ke mobil dan duduk di samping abang driver sambil menjawab pertanyaan tadi dan menunjukkan dimana saya ingin diantarkan. Dengan sigap akhirnya mobil berangkat.

Dari yang saya lihat, sepertinya abang driver ini masih muda. Usianya mungkin beda 5 tahun dari saya sekarang. Awal perjalanan kami mengobrol basa-basi untuk mengisi suasana yang hening. Sambil melihat hujan yang sudah mulai turun dari balik jendela mobil, tiba-tiba saja abang driver menanyakan sesuatu yang mengagetkan.

"Mas punya pacar belum?" tanya abang driver sambil pandangannya fokus ke depan.

"Tidak mas, masih nyaman sendiri." jawabku sambil tertawa kecil.

"Tapi pernahkan, punya perasaan suka atau sayang sama seseorang?" tanyanya lagi.

"Kalau itu jelas iya dong mas."

"Apa mas pernah menyatakan perasaan itu?"

"(diam sebentar) ....... " belum kujawab, tiba-tiba dia bercerita.

"Saya menyesal tidak pernah mengatakan perasaan saya."

"Begitu ya mas" Jawabku singkat sambil menoleh ke dia.

Terdengar dari intonasi suaranya, mungkin ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dan tiba-tiba saja abang driver mulai melanjutkan ceritanya dan saya pun mencoba menjadi pendengar yang baik bagi dia.

"Memangnya ada apa mas?" tanyaku penasaran.

"Dulu saya pernah suka sama seseorang mas, dia adalah teman kuliah saya. Kita satu fakultas tapi beda jurusan. Orangnya baik, ramah, santun, dan pergaulannya juga baik. Maka dari itu saya menaruh rasa sama dia, mas. Dan selama saya kenal, dia orangnya tidak pernah pacaran, sama seperti mas dalam versi cowok. Itu yang bikin saya tambah salut sama dia, mas. Semenjak itu saya hanya bisa pendam perasaan sama dia mas sampai saya bisa menemukan waktu yang pas untuk melamar dia."

"Iya, terus mas." disini saya malah jadi tambah penasaran.

"Saya sudah pasang niat dan tekad untuk melamar dia setelah lulus kuliah nanti. Makanya saya menabung sedikit demi sedikit selama kuliah, soalnya saya juga kerja sambilan. Karena saya tahu, dia orangnya tidak mau pacaran, makanya saya juga mencoba memperbaiki diri saya, mas, supaya kelak bisa menjadi laki-laki yang pantas untuk mendampingi dia. Setelah kerja, saya coba untuk mencari-cari pekerjaan, memang sulit awalnya tapi alhamdulillah dapat juga pekerjaan meski harus menunggu menganggur selama 6 bulan."

"Terus, bagaimana kabar si dia. Apa dia sudah tahu niat mas?" Tanyaku yang makin penasaran.

"Jangankan tahu, mas. saya mau menyapanya saja malu. Saya hanya tahu kabar dia dari teman-temannya. Sebenarnya mau kirim chatting juga ke dia, tapi saya lebih memilih baik diam." Jawabnya lesu.

Dan di sini saya mulai makin serius mendengar ceritanya. Kebetulan juga, jalanan macet karena hujan makin deras.

"Iya mas, terus bagaimana mas?"

"Yang bisa saya lakukan saat itu hanya ikhtiar dan berdoa sama Allah supaya bisa jadi jodohnya kelak. Dan alhamdulillah, setelah satu tahun saya kerja. Tabungan saya sudah mencukupi buat lamar dia. Saya saat itu senang sekali dan yakin untuk melamar dia. Saya sudah sempat tanya temannya tentang kabarnya. Singkat cerita, saya sudah bicara dan meminta restu kepada orang tua saya tentang siapa gadis yang ingin saya lamar nanti. Dan kabar baiknya, orang tua saya mendukung dan memberi saran untuk segera melamarnya. Tapi seminggu sebelum saya datang kerumahnya, kabar itu datang." kini suaranya berubah menjadi lirih.

"Kabar apa mas?" tanyaku yang jadi bingung dan semakin penasaran.

"Salah satu teman dekatnya bilang ke saya, kalau minggu depan dia akan menikah, dan hari itu juga undangannya sudah disebar." Tangannya menggengam setir dengan kuat.

"(hening)........." saya tidak bisa berkata apa-apa.

"Hancur hati saya mas menjadi berkeping-keping. Wanita yang selama ini saya idam-idamkan kini sudah dimiliki oleh lelaki lain. Seketika itu, saya menyesal kenapa saya tidak pernah mengutarakan niat saya ke dia."

"Jadi setelah dapat kabar itu, mas datang ke undangannya atau tidak?"

"Dengan ucapan bismillah, saya datang waktu itu mas. Saya cuman mau melihat dia bahagia sebagai seorang pengantin dan wanita seutuhnya. Kalau ditanya sakit, ya sakit mas. Tapi saya lebih memilih untuk ikhlas karena memang sudah itukan jalan-Nya. Dan hikmah dibalik cinta yang tak terungkap itu adalah saya merasa beruntung bisa dipertemukan dengan gadis seperti dia. Karena dia sudah berhasil membuat saya menjadi pribadi yang terus dan terus ingin memperbaiki diri mas." wajahnya kini terlihat tersenyum.

Di saat itu, saya hanya bisa diam membeku mendengar kisahnya. Saya tidak bisa membayangkan betapa keras perjuangannya hingga mencapai titik ini. Dia masih terlihat tegar walaupun apa yang diingkan tidak sesuai rencanya. Saya pikir kisah seperti ini cuman ada di sinetron atau FTV saja, tetapi saya salah.

"Sabar ya mas, pasti mas akan dapat pengganti yang lebih baik lagi." Jawabku menyemangatinya.

"aamiin, iya mas." balasnya dengan tersenyum.

Kini jalanan sudah kembali lancar lagi setelah memasuki kawasan Pantai Losari. Tidak lama lagi saya akan sampai di tempat tujuanku. Perjalanan kali ini jadi terasa singkat setelah mendengar cerita abang driver. Ternyata sesi curhat-curhatan antara driver dan customer itu memang berar adanya, saya kiranya hanya cerita fiksi di dunia maya.

"Mas, tolong turunkan saya di Masjid Terapung yah." Pintaku.

"Loh bukannya tujuan mas di ..." jawabnya heran, dan ketika itu saya memotong jawabannya.

"Tidak apa-apa mas, sisanya biar saya jalan saja. Kebetulan tidak lama lagi waktu maghrib sudah dekat, jadi sekalian kan." Jawabku sambil tersenyum.

"(hening) .... iya mas" balasnya dengan wajah heran.

Setelah mendengar cerita abang driver tadi, tiba-tiba pikiranku teringat sesuatu yang menuntunku untuk mengunjungi Masjid Terapung di Pantai Losari. Seperti ada sebuah memori yang terbuka ketika perjalanan ini semakin mendekat ke arah Pantai Losari. Kalau diingat kembali, di masjid ini, kami tersenyum bersama sambil menyimpul jemari.

"Mas, sudah sampai!" tegurnya di tengah lamunanku.

"Oh...Iya mas, makasih yah." jawabku dengan tersenyum.

"Sama-sama mas. tadi sepertinya mas melamun yah? apa gara-gara cerita saya?" tanyanya dengan heran.

"Tidak kok mas, saya hanya teringat sesuatu."

"Saya kira itu, kalau begitu saya boleh saran ini mas."

"Apa itu mas?" tanyaku penasaran.

"Kalau mas suka dengan seseorang, utarakan saja. Dan mas harus serius dengan apa yang mas ucapkan. Jangan tinggalkan dia, karena laki-laki harus membuktikannya."

"Iya mas, siap."
jawabku semangat.

Saya pun keluar dari mobilnya dan mengucapkan terima kasih untuk abang driver tersebut. Ternyata benar, hidup itu penuh warna. Dan satu hal yang kupelajari dari perjalanan ini adalah ternyata cintanya orang yang diam itu dalam.

Artikel Terkait

Seorang travel blogger yang hobi wara-wiri di dunia nyata dan dunia maya.