Wednesday, 19 July 2017

Memasyarakatkan Gambut Merawat Hutan Indonesia

Ekosistem Lahan Gambut Yang Terancam Degradasi

bimoaji.com - Apakah kamu mengetahui berita kabut asap belakangan ini? Masalah kabut asap ini, selalu saja terjadi dari dari tahun ke tahun. Kabut asap inipun bukan terjadi tanpa sebab, dimana ada asap pasti ada api. Yah, api ini berasal dari kebakaran hutan yang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Skala kebakarannya pun tidak sedikit, hingga menimbulkan peringatan bahaya kesehatan terkait penyakit pernapasan. Hal inipun menimbulkan banyak pertanyaan, kenapa kabut asap bisa terjadi?

Jawabannya adalah hutan gambut. Kenapa bisa demikian? 10% dari daratan Indonesia adalah lahan gambut dimana paling banyak ditemukan di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Lahan gambut merupakan lahan basah yang isinya banyak mengandung karbon. Lahan gambut sendiri terbentuk dari hasil sisa tumbuhan yang setengah membusuk. Jika ditelaah, Umumnya lahan gambut sulit untuk dibakar. Kemudian timbul pertanyaan, kenapa hal ini menjadi sumber kebakaran hutan?

Hal ini bisa terjadi jika lahan gambut berubah menjadi kering. Lahan gambut yang kering memiliki sifat mudah terbakar karena kandungan karbonnya yang tinggi. Hanya dengan percikan api kecil, lahan gambut bisa langsung terbakar dan dapat berubah menjadi tungku api raksasa yang bisa menghasilkan asap tiga kali lebih besar dari kebakaran hutan biasa.


Memasyarakatkan Gambut Untuk Indonesia


Apa Itu Gambut?


Ekosistem Lahan Gambut Yang Terancam Degradasi
Image Source : pantaugambut.id

Gambut adalah hamparan tanah yang terbentuk dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang telah membusuk yang menumpuk selama ribuan tahun. Tumpukan material inilah yang kemudian membentuk endapan tebal berbentuk tanah organik yang memikili karbon yang sangat tinggi. Jadi tidak salah, jika sebagian besar tanah gambut berubah menjadi lahan tumbuh yang subur bagi semua jenis tanaman.

Selain itu, keunikan dari gambut adalah sifat tanahnya layaknya spons raksasa. Perlu diketahui, kalau tanah gambut memiliki ketebalan tanah berkisar 5-15 meter. Jadi, selain dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar, tanah gambut juga dapat menyimpan air dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga gambut juga berfungsi sebagai wadah cadangan air ketika musim kemarau.

Di Indonesia sendiri, lahan gambut memiliki luas area sekitar 14,9 Juta Ha atau sedikit lebih luas dari Pulau Jawa. Kebanyakan lahan gambut ini tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Umumnya, gambut dapat ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan sungai, maupun daerah pesisir. Selain itu, gambut juga bisa ditemukan di dataran rendah dan dataran tinggi.

Bagi Indonesia, lahan gambut memiliki nilai yang sangat penting karena mampu menyimpan karbon 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan hujan tropis biasa atau tanah yang bermineral, dan 90% diantaranya disimpan di dalam tanah. Kenapa bisa begitu? karena karbon adalah salah satu unsur penting dalam pembentukan bahan bakar fosil seperti gas metana, minyak mentah, bensin, dan diesel.


Seberapa Penting Sih Gambut Ini?


Ekosistem Lahan Gambut Yang Terancam Degradasi
Image Source : flickr.com

Secara umum, gambut yang berupa tutupan hutan berfungsi menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. Selain itu, tanah gambut memiliki kemampuan menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya. Karena kemampuannya inilah, tanah gambut punya berperan besar dalam mengendalikan banjir saat musim penghujan dan menjadi sumber cadangan air saat musim kemarau.

Tidak hanya itu, fungsi yang tidak kalah penting dari gambut adalah sebagai pengendali perubahan iklim dunia. Kenapa? Ini karena gambut dapat menyimpan sepertiga cadangan karbon dunia. Dan Indonesia merupakan rumah bagi lahan gambut tropis terbesar di dunia.yang menyimpan karbon yang tinggi, diperkirakan mencapai 22,5 - 43,5 Gigaton karbon.

Masih ingatkah dampak yang ditimbulkan kebakaran hutan gambut lalu? Bukan hanya menimbulkan kabut asap saja tapi juga membahayakan kesehatan pernapasan karena tingginya karbon dioksida yang terbang di udara. Dalam indeks standar pencemaran udara saat itu, kualitas udara di Sumatra menunjukkan angka 601 dimana hal ini dua kali lipat dari standar batas udara aman, yang pada dasarnya udara tersebut sudah terlalu beracun untuk dihirup.

Emisi gas rumah kaca dari kebakaran hutan gambut pun juga secara tidak langsung berkontribusi pada perubahan iklim tidak hanya dunia tapi juga Indonesia. Perubahan iklim ini berpotensi menghambat pembangunan Indonesia, memperparah kemiskinan, dan menyebabkan berbagai masalah yang membahayakan kesehatan dan keamanan manusia, seperti menurunnya kualitas air, cuaca panas ekstrem, meningkatnya frekuensi banjir, kekeringan, dan badai.


Bagaimana Kondisi Gambut di Indonesia?


Ekosistem Lahan Gambut Yang Terancam Degradasi
Image Source : flickr.com

Menurut data Wetlands, sekitar 61% total lahan gambut di Indonesia adalah hutan, 24% adalah semak belukar, dan sisanya ditumbuhi beberapa tanaman endemik seperti pakis, palm merah, dan lainnya. Dari keseluruhan total lahan gambut, sekitar 5% telah dikelola baik dari pemerintah ataupun organisasi masyarakat sipil, dan 23% berada di tangan pelaku usaha.

Nah yang jadi permasalahan sekarang adalah kondisi lahan gambut di Indonesia makin kritis karena seringnya terjadi pembakaran hutan secara besar-besaran. Pada kebakaran hutan tahun 2015 lalu, 52% lahan yang terbakar merupakan lahan gambut dan saat itu terjadi di Pesisir Pulau Sumatra, tepatnya Provinsi Riau, dan Pulau Kalimantan.

Sebenarnya masalah kebakaran hutan ini sudah muncul sejak tahun 1990-an. Dan sudah 27 tahun berlalu, masalah ini seperti menjadi kegiatan tahunan yang seharusnya tindakan ini harus dihentikan demi menjaga kelestarian hutan gambut. Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat Indonesia dalam merestorasi lahan gambut ini? Saatnya kita pantau gambut secara bersama-sama.


Apa Solusi Dari Masalah Gambut Ini?


Ekosistem Lahan Gambut Yang Terancam Degradasi
Image Source : flickr.com

Mungkin ini terdengar asing bagi sebagian orang, tapi restorasi gambut memang benar ada. Sekilas hampir mirip dengan reboisasi hutan pada umumnya. Secara arti, restorasi gambut adalah proses untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari menyusutnya lahan gambut.

Pemerintah Indonesia sendiri di tahun 2016, mulai membentuk Badan Restorasi Gambut dan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2016 sebagai revisi dari Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2014 tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut.

Badan Restorasi Gambut tersebut bertujuan mengupayakan restorasi gambut melalui pendekatan 3R: rewetting (pembasahan gambut), revegetasi atau (penanaman ulang), serta revitalisasi (restorasi sumber mata pencaharian). Sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 berisikan pelarangan pengalihan lahan gambut hingga penentuan zonasi fungsi lindung dan fungsi budidaya.


Bagaimana Peran Masyarakat Dalam Restorasi Gambut?


Ekosistem Lahan Gambut Yang Terancam Degradasi
Image Source : flickr.com

Dalam menjalankan upaya restorasi ini, pemerintah pun perlu dukungan dan peran serta masyarakat setempat untuk menjalankan programnya. Mengingat besarnya dampak negatif lahan gambut yang dikeringkan/dibakar terhadap masyarakat, perlindungan serta restorasi ekosistem gambut perlu menjadi gerakan bersama yang didukung segenap elemen masyarakat.

Masyarakat perlu menjalankan fungsi pemantauan, termasuk memahami perkembangan komitmen pemerintah dan pelaku restorasi lainnya dalam melindungi dan merestorasi ekosistem gambut. Untuk menjalankan fungsi pemantauan tersebut, masyarakat perlu mengetahui apa yang terjadi di lapangan serta sejauh mana Pemerintah telah menjalankan komitmennya.

Disinilah perlunya hubungan pemerintah dan masyarakat yaitu dengan pemerintah menyediakan akses informasi terbuka bagi masyarakat sehingga masyarakat bisa membantu pemerintah dalam mengawasi dan melindungi ekosistem gambut yang ada. Dengan demikian, diharapkan dapat lahir rasa saling memiliki bersama untuk mendukung tercapainya target restorasi ekosistem gambut.


Akhir Kata


Tentu saja, sudah saatnya kita harus melakukan solusi sedini mungkin untuk memulihkan kembali kondisi lahan gambut di Indonesia. Diskusikanlah kabar ini di lingkungan sekitarmu. Karena, nyatanya, masih banyak orang yang belum tahu masalah ini dan juga solusinya,

Dengan cara tersebut, kita telah turut berpartisipasi dalam melakukan restorasi lahan gambut di Indonesia. Oleh karena itu, ayo kita terus lanjutkan aksi #PantauGambut Indonesia secara bersama-sama untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan gambut dalam konteks perlindungan lingkungan hidup, pengurangan emisi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Artikel Terkait

Namaku Bimo Aji, seorang travel blogger yang hobi wara-wiri di dunia nyata ataupun dunia maya.