Jumat, 23 Juni 2017

Dari Penasaran Hingga Berjodoh Dengan LPDP

Dimulai Dari Penasaran Hingga Berjodoh Dengan LPDP

bimoaji.com - Bagi sebagian orang yang telah sarjana, melanjutkan kuliah program master merupakan hal yang sangat diidam-idamkan. Apalagi jika bisa melanjutkan pendidikan S2 dengan beasiswa pastilah akan sangat bahagia. Hal inilah yang kurasakan saat ini, Senin (19/6/2017) adalah hari pengumuman seleksi penerimaan beasiswa LPDP dimana saat itu saya dinyatakan lulus sebagai salah satu penerima beasiswa diantara ratusan pendaftar lainnya.

Hal ini tidak terbayangkan sebelumnya, padahal kalau dipikir kembali saat pertama mendengar yang namanya beasiswa, mungkin saya adalah orang cuek dan tidak mau repot-repot untuk mempersiapkan berkas persyaratan yang cukup banyak. Tapi semua pemikiran itu berubah ketika menghadiri seminar beasiswa LPDP di salah satu kampus negeri di Makassar.

Saat itu, saya datang karena diajak seorang teman yang kelihatan cukup antusias ketika tahu ada seminar LPDP. Yah sudah, daripada sepi sendirian di kampus akhirnya saya memenuhi ajakannya. Kebetulan hari inipun jadwal bertemu dosen pembimbing dibatalkan karena ada agenda rapat, pikirku. Didalam ruangan itu, pesertanya cukup banyak dan didepan sana terlihat beberapa orang sedang mempresentasikan tentang apa itu beasiswa LPDP.

Awardee, begitulah panggilan bagi orang yang sudah dinyatakan lulus dalam beasiswa LPDP. Secara umum, LPDP adalah kepanjangan dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan yang merupakan lembaga yang yang bertugas untuk mengelola dana abadi pendidikan yaitu beasiswa di bawah pengawasan 3 kementrian sekaligus yakni Kementrian Keuangan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementrian Agama.

Setidaknya ada 5 narasumber yang sudah memaparkan apa dan bagaimana meraih beasiswa LPDP. Dari semua yang sudah dijelaskan, saya tertarik pada satu hal yang membuat diri ini merasa tertantang mengejar beasiswa LPDP yaitu kesempatan untuk belajar dan kuliah di luar negeri maupun di dalam negeri di kampus mana saja yang sudah terdaftar. Sejak saat itu, saya langsung berkeinginan melanjutkan pendidikan dengan menggandeng beasiswa LPDP. Tentunya sebelum itu, saya harus menyelesaikan skripsi terlebih dahulu sambil menyiapkan berkas lainnya untuk mendaftar beasiswa.


Dimulai Dari Nol


Akhir tahun 2015, saya pun dinyatakan lulus sebagai sarjana teknik di UIN Alauddin Makassar. Selang beberapa bulan, saya iseng-iseng mencoba mencari informasi jadwal pendaftaran beasiswa LPDP. Dan ternyata di tahun 2016, setidaknya ada 4 periode seleksi dibuka selama setahun. Tapi ada satu kendala yang membuatku bingung di persyaratan pendaftarannya yaitu harus memiliki sertifikat bahasa inggris atau sebut saja TOEFL.

Ya benar, sebagai pendaftar beasiswa, seseorang harus memiliki sertifikat TOEFL untuk mendaftar. Jujur saja, saat membaca persyaratan ini, saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang TOEFL sama sekali dan bagaimana mendapatkan TOEFL ini. Kalau hanya sekedar ujian bahasa inggris, saya sih bisa, pikirku. Tapi ternyata tidak demikian. Setelah tahu, ternyata TOEFL adalah ujian kemampuan bahasa inggris yang terdiri dari ListeningGrammar, dan Reading.

Tahu hal ini, saya langsung minder. Jangankan tahu bagaimana bentuk soal-soal TOEFL, belajar tenses saja masih kebingungan. Pokoknya saat itu sudah tidak ada semangat lagi mengejar beasiswa, pikiran hanya ingin fokus kerja saja. Di saat rumit seperti ini, tiba-tiba saja, saya langsung kepikiran tentang teman yang baru saja pulang dari Kediri. Seingat saya, disana terdapat sebuah desa yang terkenal dengan nama kampung inggris.

Pokoknya saya harus belajar bahasa inggris. Itulah satu-satu semangat yang masih tersisa di diri ini untuk memenuhi syarat mendaftar beasiswa dengan sertifikat TOEFL. Setelah konsultasi dengan temanku, Miming, tentang apa saja yang dipelajari di kampung inggris akhirnya sudah kuputuskan untuk berangkat ke Kediri di pertengahan tahun 2016 setelah lebaran Idul Fitri.


Belajar Di Kampung Inggris 


Kalau diingat-ingat kembali, ini adalah perjalanan pertamaku merantau di tanah orang apalagi dipulau Jawa. Akhir bulan Juli, dengan modal nekad untuk belajar bahasa inggris, saya pun berangkat ke Kediri. Berbekal informasi yang saya peroleh dari Miming. Disana, saya berencana untuk menghabiskan waktu belajar kurang lebih 6 bulan. Itu artinya juga, saya harus rela melewatkan 4 periode pendaftaran LPDP di tahun ini dan memfokuskan di tahun 2017.

Di kampung inggris, saya memulai belajar bahasa inggris mulai dari tingkat yang paling dasar. Selama disini, ada banyak hal yang saya temukan yang tidak hanya tentang belajar tapi juga nuansa semangat para pemburu beasiswa. Setiap orang yang datang memiliki mimpinya masing-masing untuk lanjut kuliah ke luar negeri ataupun dalam negeri. Kentalnya atmosfer optimisme disini, membuat saya tidak mau kalah juga mengejar impian itu.

Bulan demi bulan telah berlalu, akhirnya semua program dari grammar sampai TOEFL sudah saya tuntaskan semua dan siap mengikuti ujian real test-TOEFL. Sebenarnya, saya masih ragu untuk mengambil ujian TOEFL pada bulan Januari nanti. Karena dalam beberapa pre-test, skorku belum pernah menyentuh angka 500 sekalipun, itupun paling tinggi sekitaran 480 saja.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kesempatan ini tidak akan datang dua kali karena untuk mendaftar ujian TOEFL harus mengantri setidaknya sebulan sebelumnya, belum lagi ada batas kuota peserta. Selain itu, jadwal beasiswa LPDP di tahun 2017 hanya dibuka 1 kali dalam setahun pada bulan Februari. Jadi lebih baik ujian sekarang atau tidak sama sekali, pikirku. Tanpa berpikir panjang, akhirnya saya memutuskan maju saja dalam ujian TOEFL di Universitas Gadjah Mada.


Ujian TOEFL dan Jogjakarta


Hari rabu (25/1/2017) adalah jadwal ujian TOEFL-ku di Jogja sekaligus berakhir juga petualanganku belajar di kampung inggris. Kenapa saat itu saya memilih Jogja? Menurut informasi teman-teman yang sudah kesana, ujian TOEFL di Jogja khususnya UGM punya fasilitas yang bagus dan nyaman. Selain itu, saya ingin melanjutkan S2 di Universitas Gadjah Mada sekaligus liburan juga di kota Jogjakarta.

Seperti yang sudah dijadwalkan, akhirnya saya mengikuti ujian TOEFL di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Jujur, ini adalah ujian pertamaku mengikuti TOEFL. Rasa gugup tentunya ada menghadapi tes bahasa inggris seperti ini. Saat itu, dipikiranku hanya ada satu tujuan yaitu selesai ujian, langsung segera mendaftar LPDP.

Menurut staf informasi pusat bahasa, hasil ujian TOEFL akan keluar setelah 2 minggu dari jadwal ujian. Jadi sambil menunggu hasil ujiannya, saya berencana untuk berkeliling Universitas Gadjah Mada untuk mencari jurusan mana yang akan saya ambil nantinya sambil menikmati suasana Kota Jogjakarta yang ramai.

Karena dasar keilmuanku adalah teknik, tentunya saya juga harus melanjutkan studi di fakultas teknik dan pilihanku akhirnya jatuh pada jurusan Geomatika. Selama di Jogja, saya lebih menikmati waktu luang yang ada untuk liburan dan mencari informasi tentang jurusan tujuanku disini. Kapan lagi bisa ke Jogja seperti sekarang, lagian ini juga pertama kali saya pulang kampung selama lebih dari 10 tahun tidak pernah pulang.

Akhirnya, waktu yang ditunggu pun datang. Jumat (8/2/2017), hasil ujian sudah diumumkan. Dengan cepat, saya langsung menuju ruangan panitia untuk melihat skor ujian dan mengambil sertifikat TOEFL. Dalam pikiran saya, mudah-mudahan nilainya cukup memuaskan tapi sesampainya di ruanganya dan melihat buku penilaian. Skor ujianku ternyata diluar dugaan, nilainya anjlok.

Yah, nilainya jauh dari harapan dan tidak memenuhi standar persyaratan yang diinginkan LPDP. Seketika itu, saya seperti kehilangan rasa percaya diri. Dengan muka lesu, saya berjalan keluar ruangan. Hanya kekosongan yang nampak terlihat di mata ini. Sambil berjalan keluar fakultas, di gedung auditorium terlihat banyak orang sedang berkumpul merayakan kelulusannya. Saya baru sadar ternyata hari ini ada agenda wisuda di UGM. Pantas saja, ketika datang kemari pagi hari jalanan masuk kampus terlihat padat.

Hari ini, rasanya saya ingin cepat-cepat pulang saja. Menjadi seorang pemurung diantara orang-orang bahagia, itu bukanlah hal yang menyenangkan. Di perjalanan pulang, nada telpon dari Ibu berdering menanyakan kabar hasil ujian. Sebagai seorang anak, saya tidak bisa berbohong tentang hasil ujianku. Kecewa, kesal, dan sedih tentu sudah menjadi alasan saya untuk cepat-cepat pulang ke Makassar. Sampai akhirnya, di sela pembicaraan itu ibu berkata "iya sudah, pulang dulu nak kerumah, tenangin pikiranmu. Jangan menyerah dulu, coba perhatikan lagi syarat-syarat di beasiswanya siapa tahu masih ada kesempatan".

Setelah itu, suara telpon pun tertutup di ujung sana. Mungkin benar apa kata ibu, saya tidak boleh menyerah disini, pasti masih ada kesempatan untuk melanjutkan beasiswa LPDP. Lalu, di akhir pekan, saya memutuskan pulang ke Makassar untuk mencari informasi beasiswa LPDP lebih lanjut. Kata orang, tidak ada tempat terbaik untuk berpikir selain dirumah sendiri.


Ternyata Kesempatan Itu Masih Ada


Masih dengan rasa kecewa karena nilai skor TOEFL yang rendah, dengan malas saya membuka kembali laman LPDP. Saya perhatikan lagi apa-apa syarat yang diperlukan siapa tahu masih ada kesempatan untuk mendaftar. Ternyata tidak ada, disitu jelas tertulis bahwa nilai skor untuk kuliah dalam negeri adalah 500 sedangkan skorku tidak sampai.

Tunggu dulu, ternyata saya melewatkan satu informasi lainnya, ternyata LPDP punya 2 jalur yang bisa digunakan untuk mendaftar yaitu jalur reguler dan afirmasi. Dalam persyaratan jalur afirmasi tertulis bahwa skor minimal TOEFL adalah 400. Saat itu juga, saya langsung kembali bersemangat. Ternyata masih ada kesempatan untuk kembali mendaftar LPDP.

Tanpa menunggu waktu berlama-lama, bulan maret ini juga saya mengurus kelengkapan berkas yang disyaratkan pada jalur afirmasi. Semua berkas mulai dari ijazah hingga surat keterangan bebas narkoba akhirnya sudah saya dapatkan dalam dalam dua minggu. Dengan segera saya mengupload dokumen itu di akun LPDP karena batas waktu penutupan pendaftaran tidak lama lagi yaitu tanggal hari senin (3/4/2017).


Tahapan Seleksi Beasiswa LPDP


Berbeda dengan tahapan seleksi LPDP pada tahun sebelumnya, di tahun 2017 ada 3 tahapan seleksi yang dilakukan oleh LPDP yaitu seleksi administrasi, assessment online test, dan seleksi subtansi. Semua tahapan seleksi ini dilakukan secara berurutan kepada peserta yang dinyatakan dan dilaksanakan sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan.

1. Seleksi Administrasi

Tepat pada hari senin (17/4/2017), saya mendapat sebuah kiriman sms dari LPDP mengatakan bahwa telah lulus seleksi subtansi dan akan dilanjutkan ke tahap tes asesmen online. Saat itu juga, saya merasa senang ternyata tidak disangka bisa lolos seleksi administrasi. Padahal sebelumnya, saya merasa pesimistis bisa lolos seleksi ini karena nilai TOEFL yang bisa dibilang cukup pas-pasan dengan standar yang disyaratkan. Tapi, alhamdulillah ternyata takdir berkata lain.

Tidak selang beberapa lama, saya juga mendapat sebuah pesan email yang isinya menyampaikan waktu jadwal tes asesmen online dimulai. Jujur, dari segala ujian yang pernah saya ikuti, mungkin saya  adalah orang yang cukup awam dengan tes asesmen online ini. Saya tidak tahu bagaimana dan seperti apa soalnya. Yang saya tahu adalah alasan mengapa saya harus ikut tes ini untuk bisa lolos dan mendapatkan beasiswa LPDP.

2. Assessment Test Online

Berlanjut ke tahap selanjutnya adalah tes asesmen online. Dari informasi beberapa teman-teman di grup chatting banyak yang menebak bahwa tes ini merupakan Tes Potensi Akademik. Tapi ternyata semua tebakan itu salah, setelah LDPD mengirim email yang berisi tentang informasi jenis soal tes asesmen online dan password untuk login ke tes online.

Tes asesmen online ini sendiri terdiri dari 150 soal VMI dan 200 soal 15FQ+ yang dikerjakan secara online dengan durasi waktu kurang dari 1 jam. Saya sendiri tidak terlalu paham bentuk soal tes ini, kalau tesnya menyangkut TPA saya masih bisa mengerti. Dengan penasaran, saya mencoba mencari tahu tentang kedua jenis soal ini. Dari hasil penulusuran di internet, saya baru tahu ternyata kedua tes ini tujuan untuk melihat karakter seseorang.

Jadi bisa dikatakan tes ini tidak memiliki jawaban benar atau salah, semua jawaban yang dipilih akan memperlihatkan bentuk karakter kita sesuai data yang dimasukkan. Setelah cukup mengerti dengan jenis kedua soal ini, sayapun sudah siap menghadapi tes asesmen online pada hari selasa (25/4/2017) sesuai jadwal yang sudah dikirimkan oleh LPDP.

Paginya, saya langsung login dan mengikuti tesnya. Awalnya saya sedikit pusing melihat soal-soal ini karena banyak pertanyaan yang membuat bingung tapi lama kelamaan menjadi terbiasa. Tidak tahu pengaruh dari mana datangnya, saya malah lebih semangat mengerjakan soal ini. Apa jangan-jangan karena jaringan internet lancar kali yah. Intinya, saya mengerjakan tes ini seperti tidak ada beban sama sekali.

Kurang lebih 1 minggu lamanya, akhirnya hasil tes asesmen online di umumkan melalui email pada hari jumat (5/5/2017). Tanpa disangka-sangka isinya mengatakan saya berhasil lulus Assessment Online Test. Senang, tentunya karena langkahku untuk mendapatkan beasiswa tinggal 1 tes lagi yaitu seleksi subtansi.

3. Seleksi Substansi

Diantara semua tes, mungkin inilah tes yang paling membuat jantungku berdetak lebih kencang. Bagaimana tidak, soalnya di tes ini ada 3 tahapan yang harus dilalui sebelum dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa yaitu Wawancara, Essay On The Spot, dan Leaderless Group Discussion (LGD).

Sesuai jadwal yang telah diberikan sebelumnya yang lagi-lagi melalui email, semua peserta yang memilih lokasi di Makassar akan melalukan seleksi subtansi pada tanggal 29-31 Mei 2017 di Gedung Keuangan Negara, Makassar. Dan sebagai informasi lainnya di akun LPDP, saya mendapat jadwal tes wawancara di hari pertama pada pukul 15.30 di kelompok 4. Sedangkan tes Essay On The Spot dan Leaderless Group Discussion (LGD) dilaksanakan besok pada pukul 09.00 secara berurutan.

Tes Wawancara

Hari itu, saya begitu bersemangat walaupun sebenarnya terasa deg-degan, saya datang lebih pagi padahal jadwal wawancaranya sore hari. Saat itu, dipikiranku adalah datang untuk bertemu dengan teman-teman saja dan ngobrol dengan peserta lain, menurutku lumayanlah untuk mengurangi rasa tegang dan grogi juga pada saat wawancara nanti.

Sore harinya, waktu wawancaraku tiba. Namaku dipanggil dan disuruh untuk mengambil tempat dihadapan para pewawancara. Keringat mulai bercucuran di dahi kepala, kok grogi seperti ini sih. Dengan langkah kaki berani saya datang duduk didepan pewawancara. Setelah bersalaman, ketiganya memperkenalkan diri masing-masing.

Setelah itu mulailah, beberapa pertanyaan dilemparkan kepadaku. Mulai dari keluarga, kisah masa kecil, kegiatan yang dilakukan selama, aktivitas yang sekarang dilakukan, hingga pekerjaan. yang semuanya ditanya dengan detail. Awal-awal ditanya, saya masih kaku dan terbata-bata mau jawab apa tapi makin lama ditanya saya jadi santai dan rileks menjawab.

Akhirnya tepat menjelang adzan maghrib, tes wawancaraku selesai. Sebelum pergi saya menyempatkan diri pamit bersalaman dengan ketiga pewawancara yang seru ini. Di luar ruangan, saya merasa lega akhirnya tes pertama sudah selesai tapi saya kepikiran kalau jawaban saya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Tapi apapun itu, saya menyerahkan hasilnya kepada Sang Pencipta. Karena besok saya harus bersiap kembali untuk menghadapi 2 tes lainnya secara berurutan.

Essai On The Spot

Besok paginya, saya kembali bergegas menuju lokasi tes. Saat ini adalah waktunya tes kedua yaitu Essay On The Spot. Kali ini tesnya dilakukan secara berkelompok tapi dengan tugas individu. Saat itu saya tergabung dalam kelompok 9A dan kemudian diinstruksikan oleh panitian untuk masuk kedalam ruangan tes. Di dalam ruangan yang berukuran besar ini terdapat 10 meja yang sudah di atur terpisah-pisah dengan selembar kerta soal diatasnya.

Di atas lembar kertas ini terdapat 2 buah tema yang berbeda yang harus dipilih salah satunya untuk dijadikan sebuah essai. Durasi waktu untuk mengerjakan essai ini adalah 30 menit. Kebetulan waktu itu, saya mendapat tema tentang "Seni Budaya Indonesia" dan "Hari Kartini" akhirnya saya memilih tema pertama mengingat estimasi waktu yang tidak banyak dalam menulis.

Kalau boleh sedikit informasi, bagi yang tidak terbiasa menulis dalam rentang waktu seperti ini mungkin akan merasakan waktu berjalan dengan cepat. tapi jika terbiasa maka akan merasakan hal yang sebaliknya. Saya sendiri saat menulis essai juga merasakan hal sama. Akhirnya saya menulis yang menurut apa saya pahami dan mengerti.

Tidak terasa waktu sudah selesai, kami secara serentak disuruh untuk berhenti menulis dan meninggalkan ruangan dengan teratur. Akhirnya selesai juga tes kedua hari ini, tinggal selangkah lagi maka berakhir sudah ujian ini.

Leaderless Group Discussion (LGD)

Tes terakhir kali ini adalah diskusi kelompok. Masih dengan kelompok yang sama saat tes essai, kali ini kami memasuki ruangan lainnya dimana didalamnya sudah terdapat meja yang sudah disusun rapi melingkar. Saat di ruangan, kami dipersilahkan oleh panitia untuk mengisi kursi yang sudah disediakan.

Sedikit informasi tentang Leaderless Group Discussion (LGD), diskusi ini merupakan diskusi yang dijalankan secara berkelompok dimana semua pembicara memiliki satu kesetaraan yang sama dengan lainnya yang bertujuan mencari solusi dari sebuah masalah secara bersama-sama tanpa ada intervensi dari sesama anggota diskusi.

Kali ini kami semua mendapat sebuah tema yang terbilang unik yaitu tentang "Statup". Dalam sebuah artikel yang diberikan pada masing-masing dari kami dikatakan bahwa di era digital ini keberadaan startup sudah mulai berkembang dengan pesat tapi dibalik suksesnya sebuah startup ternyata ada kisah dimana para pendiri startup secara sadar lebih memilih meninggalkan startupnya yang sedang berjalan.

Nah dalam LGD ini, kami semua diberi waktu selama 25 menit untuk berdiskusi. 5 menit pertama digunakan untuk membaca artikel yang sudah dibagikan dan sisanya untuk berdiskusi. Alarm mulai berbunyi pertanda sudah saatnya diskusi dimulai. Pertama slah seorang dari kami membuka diskusi dengan langsung menuju ke poin permasalahannya. Dimulai dari sini akhirnya diskusi berjalan mengalir dengan normal. Kami semua mengajukan beberapa pendapat dan solusi secara bergantian.

Saat itu, saya merasa diskusi ini menjadi enteng untuk didiskusikan. Semua dari kami saling mendukung gagasan layaknya kami seperti orang yang sudah berteman lama. Tidak terasa waktu diskusi sudah selesai dan panitia mengakhiri diskusi ini dengan meminta kami meninggalkan ruangan dengan rapi dan tertib.

Akhirnya, selesai juga LGD ini dan tidak terasa sudah sejam kami melakukan 2 tes sekaligus yang dimana tentu menguras tenaga dan pikiran. Dengan berakhirnya tes ini maka selesai sudah tugasku, Sebelum pulang, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan teman lainnya untuk saling menghibur biar tidak tegang dan akhirnya kamipun berpamitan pulang.


Hari Pengumuman


Hari yang ditunggu-tunggu adalah saat-saat pengumuman siapa yang berhak mendapat beasiswa. Berbeda dengan teman-teman yang lain yang selalu deg-degan menunggu pengumuman, saya malah disibukkan dengan kerjaan. Sampai-sampai saya lupa kalau hari ini (19/6/2017) adalah hari pengumuman beasiswa LPDP.

Untung saja teman saya, Zulfahmi, menelpon memberikan kabar tentang dirinya serta hasil pengumumannya. Dia bilang sudah cek akun LPDP belum? dengan santai setengah kaget jawab belum membukanya soalnya hari ini tanggung mau selesaikan buka puasa dulu baru buka akunnya biar hati tidak tegang. Tapi jauh di dalam pikiran ini, saya juga penasaran ingin membuka pengumuman itu.

Selesai berbuka puasa, saya beranikan diri mengecek email ternyata ada 1 email masuk dari LPDP. Setelah dibuka ternyata isinya memberitahukan bahwa saya lulus seleksi subtansi tahun 2017. Alhamdulillah, saya senang sekali. Seketika itu, saya langsung heboh sendiri kemudian mematung seakan tidak percaya saja kalau saya bisa lulus pendaftaran beasiswa.

Dimulai Dari Penasaran Hingga Berjodoh Dengan LPDP

Benar, saya merasa sangat bersyukur dan bahagia setelah melihat pengumuman ini. Akhirnya impian untuk melanjutkan kuliah program pascasarjana Teknik Geomatika di Universitas Gadjah Mada tercapai. Saya sangat berterima kasih kepada LPDP yang sudah memberikan kesempatan berharga ini kepada saya. Mungkin benar kata orang tua, selama kamu memperjuangkan apa yang kamu cari selama itu pula Tuhan akan melihat usahamu dan akan mempertemukanmu dengan tujuanmu.

Artikel Terkait

Namaku Bimo Aji, seorang travel blogger yang hobi wara-wiri di dunia nyata ataupun dunia maya.