Sabtu, 03 Juni 2017

Mencoba Diet Dari Dunia Media Sosial

Diet Notifikasi dan Linimasa Media Sosial

bimoaji.com - Dalam perkembangan teknologi yang semakin pesat ini. Keberadaan media sosial sekarang sudah menjadi kebutuhan primer bagi penggunannya. Rasanya hidup ini terasa sepi jika tidak membuka akun walaupun cuman semenit saja. Maklumlah "kitakan" makhluk terupdate yang tidak boleh ketinggalan segala informasi.

Seperti kalian pada umumnya, saya pun pemakai media sosial yang geek banget. Segala hal rutinitas selalu saya posting sana-sini untuk mencari perhatian teman ataupun gebetan. Tiap waktu, rasanya gatel banget untuk melihat timeline orang lain. Sesekali juga ikut nge-share postingan berita yang tidak tahu bersumber dari mana. Semua itu berjalan santai di tahun 2013 ketika saya baru mengenal yang namanya smartphone.

Hingga pada akhirnya, sayapun mulai jenuh dengan semua kegiatan nge-medsos ini. Semenjak pemberitaan hoax makin menyebar di dunia maya, media sosial bukan lagi tempat yang aman untuk bersenang-senang. Jangankan berkomentar, menulis status saja sudah pasti ada yang nyinyir dengan kita walaupun niat kita bukanlah bermaksud untuk menyinggung orang lain.

Itu baru di media sosial lho, belum dengan aplikasi messaging terutama yang punya grup-grup chatting. Saat kita mencoba membuka obrolan dengan anggota grup pasti ada saja orang yang menganggap kita sebagai orang cerewet, begitupun jika kita hanya jadi pendengar saja ujung-ujungnya dicap sebagai orang yang pasif yang tidak mau berbaur dengan mereka.

Kalau itu sih masih wajar, soalnya ada interaksi sesama anggota. Nah bagaimana kalau isinya sudah keluar jalur yang akhirnya malah menimbulkan banyaknya notifikasi di smartphone tapi infonya kurang penting untuk dibaca. Rasanya ingin keluar grup tapi takut dianggap tidak menghormati anggota lainnya.

Semua kejadian itu sudah saya alami, bukan hal yang mudah memang ketika harus terjebak di tengah gelombang media sosial yang semakin kuat. Belum lagi dengan bunyi notifikasi-notifikasi yang selalu membuat penasaran untuk dibuka. Kalau dipikir-pikir rasanya saya harus mengurangi jumlah obesitas media sosial ini dengan jalan diet.

Diet yang saya lakukan adalah dengan menahan diri dari membuka media sosial yang kurang bermanfaat. Kenapa diet medsos? ini sama persis ketika kamu suka makan daging tapi kamu mencoba menahan nafsu makanmu untuk tidak memakannya karena kamu sedang menjalani diet.

Dulu ketika ada smartphone, hampir tiap waktu saya habiskan untuk bolak-balik cek pesan Line, BBM, dan Whatsapp. Kadang kalau tidak ada pesan pun saya biasa iseng buka kemudian tutup pindah aplikasi yang lain dan kemudian ditutup lagi. Kalau dipikir-pikir ini sangat menghabiskan waktu, terlebih lagi kontak semuanya sama saja. Untuk mengurangi kebiasaan ini, akhirnya saya lebih fokuskan komunikasi lewat whatsapp saja.

"bagaimana dengan grup chat di aplikasi sebelumnya? kan tidak bisa komunikasi lagi"

Saya masih ada kok tapi hanya akunnya saya yang tidak aktif lagi. Lagi pula, saya juga menghindari banyaknya grup chat yang isinya mulai keluar jalur. Selain itu saya mencoba menghindari membaca timeline yang isinya kebanyakan keluhan ataupun curhat yang saya rasa cukup mengganggu. Coba bayangkan ada yang mengeluh, kita mencoba membantu tapi hasilnya malah dibilang Kepo.

"untuk media sosial yang lain bagaimana?"

Dulu saat masih aktif terjun sana-sini di dunia maya, saya punya banyak akun termasuk facebook, twitter, vine, youtube, google+, path, dan instagram yang sempat belajar eksis di kalangan anak muda pada umumnya. Tapi kali ini, saya mencoba membatasi kegiatan nge-medsos ini untuk diri saya sendiri. Bukannya tidak mau kembali eksis tapi lebih mencoba menghargai waktu untuk hal yang bermanfaat itu jauh lebih penting.

Dengan facebook, saya rasa itu sudah cukup. Dan sekarang saya mencoba mengalihkan perhatian menjadi seorang blogger, meskipun tidak sehebat pro blogger tapi dengan menjadi penulis blogger, saya belajar bagaimana menulis suatu tulisan yang bisa bermanfaat. Apalagi dengan menjadi blogger saya menjadi lebih dekat dengan orang lain secara personal melalui tulisannya.

Meski terdengar jadul, tapi inilah cara saya untuk menghadapi gempuran media sosial yang semakin masif di jaman modern ini dengan cara diet media sosial. Diet disini bukan berarti berhenti tidak makan sama sekali tapi menggantinya dengan menu lain tapi khasiatnya sama yang sesuai dengan kebutuhan saja. 

Artikel Terkait

Saya adalah Bimo Aji, seorang freelance yang hobi wara-wiri di dunia nyata dan dunia maya