Minggu, 24 Juli 2016

Indahnya Panorama Sabuk Hijau Di Pulau Pannikiang, Serpihan Surga Yang Tiada Duanya

Indahnya Panorama Sabuk Hijau Di Pulau Pannaikang, Serpihan Surga Yang Tiada Duanya

Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia merupakan salah satu negara dengan luas hutan bakau atau yang lebih dikenal sebagai hutan mangrove terbesar didunia. Tercatat di tahun 2015 luas hutan mangrove di Indonesia adalah kurang lebih 3 Juta Hektare tumbuh di sepanjang 95.000 kilometer pesisir Indonesia atau mewakili 23% dari seluruh ekosistem hutan mangrove dunia. 

Hutan mangrove merupakan tumbuhan yang hidup di kawasan pesisir pantai atau rawa-rawa yang berair payau yang terletak di garis pantai dan pertumbuhannya dipengaruhi oleh pasang-surut air laut dalam waktu tertentu. Tidak salah jika hutan mangrove merupakan tumbuhan unik yang dapat hidup di dua ekosistem yang berbeda.

Siang ini mentari menyapa kami dengan teriknya yang seakan ingin menemani perjalanan kami dari Makassar menuju ke Barru. Bersama rombongan kawan dari Blue Forest, saya dan teman-teman diajak untuk mengunjungi sebuah pulau yang menjadi pusat hutan mangrove terbesar di Sulawesi Selatan. Pulau Pannikiang namanya, terletak di Dusun Pannikiang, Desa Madello, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru.

Untuk menuju Pulau Pannikiang, kami diarahkan untuk menuju ke sebuah pantai tempat dimana biasanya terdapat perahu yang khusus untuk mengantarkan wisatawan. Di Pantai Ujung Batu inilah perjalanan kami dimulai. Hamparan samudra yang luas, lautan yang membiru, dan deru ombak seakan membingkai perjalanan ini makin menyenangkan.

Tidak cukup 40 menit akhirnya kami tiba juga di Pulau Pannikiang, sambutan hangat warga di dermaga memberikan kami kesan bahwa penduduk di pulau ini adalah orang yang ramah dan baik. Sebelum kami menjelajahi tentang apa saja di pulau ini, terlebih dahulu teman-teman Blue Forest membagi kami dalam 4 grup berbeda dan memberitahukan tentang kegiatan yang akan dilakukan tiap-tiap kelompok.

Penasaran bagaimana kami menjelajahi tempat ini, mari kita baca lanjutannya dibawah ini.

1. Pulau Pannikiang adalah habitatnya kalelawar, sehingga tidak salah pulau ini dijuluki Pulau Sejuta Kalelawar



Sebelum mengeksplor pulau ini, ada baiknya kita tahu dulu sejarah bagaimana pulau ini terbentuk dan kenapa bisa dinamakan Pannikiang. Menurut Pak Abu Nawar yang merupakan kepala dusun di pulau ini mengatakan bahwa, dulu menurut cerita-cerita awalnya pulau ini merupakan daerah gusung atau gundukan pasir putih, seiring berjalannya waktu pasir-pasir itu terus bertambah hingga terbentuklah pulau Pannikiang dan akhirnya di tumbuhi oleh tanaman mangrove.

Hal itu memang benar adanya karena sepanjang pantai terdapat pasir putih. Sobat bisa melihatnya sendiri dalam gambar diatas, sepanjang pantai dan juga didekat rumah warga terdapat pasir putih yang halus yang indah. Kemudian lanjut Pak Abu Nawar lagi, kenapa pulau ini dinamakan Pannikiang adalah karena pulau ini tempat hidupnya kalelawar, para kalelawar ini tinggal dan menetap di hutan mangrove. Dalam bahasa bugis, kalelawar dapat diartikan sebagai Panniki.


2. Apabila Pulau Pannikiang dipecah dalam sebuah angka, maka akan seperti ini hasilnya



Pulau Pannikiang merupakan sebuah pulau yang berada di Kecamatan Barru, terhitung bahwa pulai ini memiliki luas kurang lebih 100 Hektare dengan jumlah kepala keluarga yaitu 70 KK atau sekitar 185 jiwa yang menempati Pulau Pannikiang di tahun 2016. Dan wilayah administrasinya terbagi atas 2 RT yang berada di utara dan selatan pulau.

Jarak antara Pulau Pannikiang dengan dermaga Pantai Ujung Batu di Kabupaten Barru adalah kurang lebih 10 Km dengan jarak tempuh waktu sekitar 30-45 menit. Dan untuk di Pulau Pannikiang terdapat 4 dermaga lainnya yang bisa disinggahi untuk memulai penjelajahan, 2 di utara pulau dan 2 di selatan pulau. Jadi buat yang mau traveling disini, silahkan pilih titik mana yang akan di jelajahi terlebih dahulu.

3. Saatnya menjelajahi hutan mangrove dimulai dari jembatan kayu yang sudah lama berdiri kokoh



Sebelum memasuki kawasan hutan mangrove yang hijau dan menyejukkan. kita akan disambut oleh sebuah jembatan kayu coklat yang berdiri kokoh yang disebelah di lintasi sungai kecil. Menurut Pak Abu Nawar panjang jembatan ini kurang lebih 2 Kilometer, jembatan ini didirikan oleh pemerintah setempat yang ingin menjadikan Pulau Pannikiang ini sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Barru.

4. Menikmati teduhnya hutan mangrove dan belajar tentang keanekaragaman hayati yang ada di Pulau Pannikiang



Udara yang sejuk dan desiran ombak laut akan kita rasakan ketika menyeberangi jembatan kayu ini, sepanjang perjalanan kita akan dibuat kagum dengan pohon-pohon mangrove yang tinggi dengan akar-akar yang besar. Teduhnya pohon mangrove ini membuat kita rasanya ingin berlama-lama menyusuri tiap jengkal hutan ini.

Tidak hanya itu, ternyata hutan mangrove ii menyimpan berbagai maca keanekaragaman hayati. untuk mangrove sendiri terdiri 29 jenis diantaranya 12 mangrove asosiasi dan 17 mangrove sejati dan salah satunya adalah  jenis Corpius Decandra yang hanya tumbuh di Indonesia khususnya di Pulau Pannikiang. Selain itu terdapat 200 lebih makhluk hidup di darat maupun air. Dan diantaranya terdapat hewan endemik yaitu kalelawar dan kepiting.

5. Tak puas hanya berkeliling saja, jangan lewatkan pemandangan luasnya hutan mangrove dari menara tinggi ini



Untuk menjelajahi seluruh isi hutan mangrove di Pulau Pannikiang ini tak cukup jika hanya sekali perjalanan saja. Kalau ingin tahu seberapa luas hutan ini cobalah menaiki menara yang berada di tengah hutan dan kamu akan melihat hamparan hutan mangrove yang hampir menutupi 91% lahan atau memiliki luas area 86 hektar dari Pulau Pannikiang.

6. Kalau kamu capek menelusuri hutan mangrove, istirahat dulu sejenak di gazebo sambil membaca buku



Hutan mangrove ini memang luas sekali, buat kamu yang punya stamina lebih bolehlah menelusuri area ini. Tapi buat kamu yang gampang capek dan mau beristirahat sejenak. Tidak ada salahnya kamu beristirahat di gazebo sambil membaca berbagai macam buku atau saling berbagi informasi tentang hutan mangrove disini bersama warga sekitar atau komunitas lainnya seperti komunitas #BarruMembaca yang seperti gambar diatas.

7. Dan sebagai manusia kita tentunya wajib menjaga alam agar tidak rusak, kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi



Perlu kita tahu bersama bahwa hutan mangrove itu merupakan tumbuhan yang berperan penting menjaga perubahan iklim didunia. Artinya ketika mangrove-mangrove ini rusak maka akan mempengaruhi iklim dunia secara global. Selain itu mangrove juga berperan penting sebagai tameng bagi daratan dari abrasi air laut dan selain itu merupakan habitat bagi biota laut dan darat.

Jadi apakah kamu mau menjaga mangrove ini bersama-sama? tidak ada kata rugi ketika kita menjaga dan melestarikan alam. Karena sejatinya alam juga membutuhkan kita untuk membantunya berkembang dan kita tentunya membutuhkan alam sebagai tempat hidup kita. Dan inilah dari istilah simbiosis mutualisme. Jadi mari sama-sama menjaga bumi kita, lingkungan di sekitar kita dan tentunya hutan mangrove di pantai kita

Tips dan Info Sebelum Pergi Ke Pulau Pannikiang


Buat kamu yang tertarik untuk datang ke Pulau Pannikiang, saya ingin berbagi sedikit tips dan informasi yang mudah-mudahan bermanfaat untuk perjalanan traveling sobat.

1. Keberangkatan 
Jika sobat memulai perjalan dari Makassar, sobat bisa menempuh perjalanan ke Barru dengan waktu kira-kira 2-3 jam. Setelah sampai di Kabupaten Barru, sobat bisa langsung menuju Pantai Ujung Batu yang berada di jalan Jenderal Sudirman melewati Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Barru.

2. Penyeberangan
Untuk menuju Pulau Pannikiang, sobat bisa menggunakan jasa transportasi laut berupa perahu nelayan di Pantai Ujung Batu. Untuk biaya penyeberangan per kepala sebesar Rp.30.000 dan untuk kelompok sebanyak 40 orang sebesar Rp.150.000 sekali perjalanan. Harga bisa di negosiasikan tergantung kesepakatan antar penumpang dan penyedia jasa penyeberangan. Lama waktu penyeberangan ke Pulau Pannikiang adalah 30-40 menit.

3. Penjelajahan
Di Pulau Pannikiang terdapat 4 titik dermaga yang bisa didatangi. Sekedar sarandari saya ada baiknya sobat mengambil titik berlabuh di ujung utara Pulau Pannikiang. Setelah sampai sobat bisa langsung menjelajahi hutan mangrove yang tepat berada di sisi kiri dermaga, tapi sebelum itu sobat harus mengisi buku tamu dirumah pak dusun setempat.

4. Tata Tertib 
Demi menjaga kelestarian hutan mangrove sebaiknya kita harus menyadarkan diri sendiri bahwa hal pertama yang harus patuhi adalah tidak boleh membuang sampah sembarangan dan kedua tidak boleh merusak hutan mangrove. Disini kita bebas memotret semua yang ada baik hutan mangrove beserta ekosistem didalamnya.

5. Tips Menginap dan Kuliner
Buat sobat berencana datang kesini, sebaiknya perlu diingat bahwa di Pulau Pannikiang tidak ada tempat penginapan bagi wisatawan yang datang karena di pulau ini kebanyakan adalah rumah warga setempat. Dan untuk makanan ada baiknya sobat menyiapkan sendiri bekal perjalanan karena dipulau ini tidak ada warung makan. Dan yang paling penting jangan lupa membawa kantong plastik untuk menyimpan sampah makanan. Ingat bersih itu indah sob.

Itulah sedikit tips dan info dari saya, dan sebagai penutup ada baiknya kietika sudah berkunjung di Pulau Pannikiang marilah kita bersama-sama mengajak kerabat ataupun keluarga kita untuk bersama-sama menjaga hutan mangrove ini dan mari jadikan Pulau Pannikiang sebagai destinasi ekowisata bagi pemuda-pemuda lainnya.

Kamis, 14 Juli 2016

Antara Ujian Penilaian dan Ujian Mental di Pare

Antara Ujian Penilaian dan Ujian Mental di Pare

Ujian bagi sebagian orang khususnya para pelajar adalah hal yang paling dibenci tapi sangat dibutuhkan, karena ujian merupakan tolak ukur atau penilaian terhadap pemahaman kita akan sesuatu yang dipelajari. Mungkin bukan hanya pelajar saja,nyatanya sebagian dari kita pastilah sangat akrab dengan kata ujian, baik itu ujian lisan dan tulisan misalnya di kantor atau yang lebih nyata lagi adalah ujian hidup itu sendiri.

Mungkin makna ujian bagi kita berbeda-beda tapi tetap kita harus melalui itu semua di kehidupan yang dijalani ini. Mendengar kata ujian saya teringat dengan ujian di kampung inggris di lembaga kursus bernama ELFAST. Benar sekali waktu bulan puasa itu, saya belajar bahasa inggris disana selama sebulan dengan mengambil paket E-Fast 1 yang berisikan materi Basic Program 1-2 dan Speaking For You.

Hari berganti hari, akhirnya saat ujian pun tiba juga di minggu terakhir masa kursus. Sebelumnya saya sudah diberitahu oleh mentor ketika pertama kali masuk sebelum kelas pertama dimulai, bahwa ujian di ELFAST khususnya bagi program Grammar cukup unik yaitu harus lulus dengan tidak ada satupun kesalahan. Dan bagi yang lulus akan mendapatkan sertifikat resmi dari ELFAST.

Dan bagaimana dengan yang tidak lulus? Di ELFAST peserta yang tidak lulus di ujian pertama boleh melakukan pengulangan hingga berkali-kli tanpa ada batasan waktu hingga dinyatakan lulus ujian. Untuk program Grammar sendiri terdiri dari 7 golongan diantaranya ada Fundamental, Basic Program I, Basic Program II, Story Writing, Translation, Grammar School, dan Writing.

Tiap program Grammar memiliki jenis ujian yang berbeda-beda, khusus untuk jenis Writing Test syaratnya cuman satu yaitu tidak boleh ada salah kata. Karena saya berada di E-Fast 1 maka ada 2 ujian yang saya ikuti yaitu Basic Program I dan Basic Program II. Untuk saat ini saya ingin membahas tentang ujian dari Basic Program I, karena jujur saya sendiri belum mengikuti ujian Basic Program II karena terbatasnya waktu yang mendekati hari lebaran.

Untuk lulus ujian ini bukanlah perkara mudah dan tidak juga sulit. Maksudnya untuk lulus itu sangat objektif karena ujian ini seperti menyeleksi mana peserta yang benar-benar memahami dan menguasai materi dan mana yang tidak. Sehingga jika kita paham dan menguasai maka dengan mudah ujian-ujian itu di lalui, tapi jika masih belum paham maka kita belum layak lulus ujian.

Untuk ujian Basic Program I terdiri dari 3 tes yaitu Multilple Choice, Writing Test, dan Modals Test. Semua harus dilalui secara bertahap dan tidak boleh melanjutkan ujian berikutnya jika belum dinyatakan lulus ujian sebelumnya.

1. Multiple Choice, ujian adu aksi cepat dan tepat


Dalam ujian ini, kita akan diberi soal pilihan ganda sebanyak 75 butir soal dalam waktu 90 menit. Syarat untuk kelulusannya pun cukup mudah yaitu kita diberi kelonggaran kesalahan sebanyak 20 butir soal. Jika lebih daripada itu maka kita diharuskan mengulang lagi dengan soal yang berbeda lagi dari sebelumnya.

Jujur saya sempat gagal 4 kali ujian multiple choice ini, dimana semuanya jatuh di materi Modal Auxiliary dan Direct Indirect. Gagal 4 kali membuat saya merasa frustasi dan lebih banyak berdiam diri di kamar, saya malah sempat berpikir untuk tidak lagi melanjutkan ujian pertama ini. Tapi untungnya saya memiliki teman kelas yang selalu mengajari kelemahan saya di materi tersebut.

Dan saat ujian kelima ,akhirnya saya bisa lulus dengan kesalahan jawaban dibawah 15 soal. Itu adalah hal yang sangat membanggakan buat saya yang sempat murung. Dalam hal ini saya bisa sedikit mengambil pelajaran bahwa kelemahan saya bukan hanya di soal materi yang belum dipahami tapi karena ketakutan akan gagal yang membuat saya takut melangkah.

2. Writing Test, ujian menulis yang praktis


Setelah lulus ujian Multiple Choice akhirnya saya bisa lanjut di ujian kedua yaitu Writing Test. Dalam ujiian kedua ini kita akan diperintahkan untuk menyusun sebuah cerita dari beberapa Tenses yang telah disediakan sebelumnya. Dan syarat lulus ujian ini adalah tidak boleh ada satu kata pun yang salah, baik tanda baca dan juga penulisannya.

Kalau boleh dibilang ujian kedua ini merupakan ujian terberat karena syaratnya yang membuat banyak peserta jatuh untuk mengulang. Belajar dari kesalahan sebelumnya, saya tidak ingin terburu-buru mengambil ujian ini. Sehari penuh saya mengulangi pelajaran Tenses yang telah diajarkan di kelas. 

Besoknya saya pun percaya diri mengikuti ujian ini. Untuk ujian kedua ini seperti yang telah saya sebutkan kita disuruh untuk membuat sebuah alur cerita berdasarkan Tenses yang dirangkai acak. Urutan Tenses tidak boleh diubah dan ujian ini lebih mengarahkan kita untuk membuat cerita sesuai kejadian yang Tenses itu inginkan.

Tapi dalam ujian kali ini kita diperbolehkan melihat kamus untuk mempermudah melihat kosakata dalam merangkai cerita jadi bisa dikatakan juga ujian ini tidak begitu sulit dalam pengerjaannya, apalagi waktu yang disediakan juga sama seperti ujian pertama yaitu 90 menit.

3. Modals Test, ujian memori dan ingatan


Kesalahan terbesar saya dalam ujian ketiga ini bukanlah karena saya bisa menjawab soal dengan benar tapi karena saya mengikuti ujian ini. Pagi itu saya buru-buru mengikuti ujian ketiga ini tanpa melihat hasil pengumuman ujian kedua jadinya ketika saya selesai ujian ketiga ternyata hasil ujian kedua saya harus mengulang dan dengan ini juga ujian ketiga saya dibatalkan.

Tapi karena kesempatan itu saya bisa tahu seperti apa ujian Modals Test itu sendiri. Kalau boleh saya katakan ujian ketiga ini adalah ujian paling mudah karena kita hanya harus menyusun kalimat dengan kata Modals (can, must, will, shall, etc.). Untuk syarat kelulusannya pun sama seperti ujian kedua yaitu tidak boleh ada kata yang salah.

Meskipun mudah, bukan berarti dapat mengerjakannya dengan cepat karena dalam ujian ini kita tidak diperbolehkan melihat buku dan harus duduk berhadapan dengan tim penilai ujian langsung dalam satu meja. Buat yang paham dan ingat betul dengan rumus Modals pasti sangat mudah mengerjakaannya sebanyak apapun rumus yang diminta di soal. Karena ujian ketiga ini hanya memliki satu soal saja.

Walaupun pada akhirnya saya tidak mendapat sertifikat di ujian Basic Program I dan tidak mengikuti ujian Basic Program II, saya merasa beryukur mengikuti semua ujian ini meski harus jatuh bangun gagal mengikuti ketiga ujian tersebut. Kabar baiknya bagi yang mengulang ujian di program Grammar khususnya Basic Program I dan Basic Program 2, untuk mengulang setiap ujian kita tidak perlu membayar lagi kedepannya.

Kita bisa ujian setiap hari (kecuali sabtu-minggu) sampai lulus tanpa harus membayar. Dan ini yang menurut saya menjadi keunggulan dari ELFAST, dengan sistem seperti ini semua peserta diberi kesempatan untuk latihan terus menerus sampai benar-benar layak dinayatakan lulus. Jadi peluang untuk mendapat sertifikat masih terbuka lebar.

Jadi buat yang merasa gagal terus menerus dalam ujian ini, jangan cepat menyerah sob. Karena dalam menuntut ilmu pastilah banyak rintangannya dan semua kerja kerasmu pastilah akan terbayarkan di masa mendatang. Cobalah lakukan yang terbaik, tak penting seberapa banyak kamu jatuh. Tunjukkan bahwa kalian bisa dan mau belajar lebih giat.

Akhir kata, saya pun kembali ke Makassar tanpa membawa hadiah berarti tapi saya sangat berterima kasih untuk waktu satu bulan yang saya lalui di ELFAST. Terima kasih untuk mentor yang telah memberikan ilmunya yang tak kenal lelah mengajardari pagi sampai malam. Terima kasih untuk teman-teman kelas E-Fast 1B yang selalu ribut di kelas, kebersaman kalian akan selalu kuingat.

Tentunya, saya akan kembali lagi ke Pare-Kediri dengan amunisi niat dan tekad yang bulat untuk belajar bahasa inggris lagi. 

Minggu, 03 Juli 2016

Belajar Merantau Belajar Bahasa Inggris

Belajar Merantau Belajar Bahasa Inggris

Subuh itu rasanya cukup lelah untuk badan ini bangun dari tempat tidur, suara langkah kaki yang terburu-buru membuatku penasaran dengan apa yang terjadi didepan kamarku. Belum juga ku terbangun, terdengar suara keras di ujung lorong camp seakan memecahkan gendang telinga. Saya pun bergegas bangun dan menghampiri sumber suara itu, dan ternyata dia adalah penjaga keamanan camp yang lagi sibuk membangunkan para penghuni camp untuk makan sahur.

Disinilah saya sekarang, berada di tempat baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hari itu juga statusku pun berubah yang dulunya anak rumahan, sekarang jadi anak kostan. Tidak sempat terpikirkan ternyata jauh dari orang tua itu sangat menyusahkan, tapi mau bagaimana lagi karena ini juga adalah keputusanku untuk pergi demi mengejar cita-cita.

Subuh ini rasanya sangat melelahkan, baru pagi kemarin saya berangkat dari Makassar menuju Kediri rasanya tulang mau remuk semua. Mungkin ini efek karena jarang olahraga jadi badan rasanya pegal padahal cuman duduk saja diatas pesawat dan mobil. Belum juga tenaga pulih total, subuh ini sudah harus dihadapkan dengan suasana tegang untuk berebut makan sahur di camp.

Ramadhan tahun ini saya memutuskan diri untuk merantau di tanah jawa tepatnya di Kampung Inggris, Pare-Kediri. Sudah lama saya memimpikan bisa belajar bahasa inggris disini dan akhirnya kesempatan itu datang di awal ramadhan ini. Tapi ternyata kenyataannya tidak sesuai harapan saya. Bukan menyoal tentang kampung inggrisnya, tapi soal susahnya jadi anak perantauan. Mungkin disinilah saya harus belajar mandiri secara nyata bukan cuman omongan saja.

Selesai makan sahur yang begitu merepotkan, saya bergegas kembali ke kamar memastikan cukup waktu buat istirahat kembali. Belum jugamembuka pintu ternyata didepan pintu camp tertempel selembar kertas putih dengan tulisannya yang besar. "Apa-apaan ini?" batinku berteriak. "Apa harus sepagi ini juga!" kesalku. Disitu tertulis dengan jelas jadwal dan agenda apa saja yang akan kami jalani selama sebulan di Camp.

Belum juga sehari berada di camp ini tapi sudah di kasih jadwal masuk kelas. Dan tentunya sebelum kelas dimulai ada meeting dulu untuk menentukan kelas mana yang akan digunakan di jam 6 pagi ini. Dengan semangat yang sudah luntur duluan, saya pun memutuskan untuk bersiap-siap menuju kelas meeting ini, mau bagaimana lagi ini adalah pilihanku untuk belajar disini dan tentunya harus menaati peraturan yang ada.

Agenda meeting seperti pada umumnya berisi dengan pengenalan seputar tempat kursus yaitu ELFAST dengan pengenalan visi misi nya dalam mengajar dan mendidik peserta kemudian dilanjutkan dengan perkenalan antar mentor serta terakhir adalah pembagian kelas. Kali ini saya mendapat tempat di kelas E-Fast 1B dan pembelajaran langsung dimulai setelah selesai agenda meeting ini. "Gila, tidak ada istirahatnya apa?" gumamku dalam hati.

Melihat banyak peserta yang antusias dan bersemangat, saya pun membuang jauh-jauh pikiran malas itu dan bergegas mencari kelas "Present" dan "Idiom". Suasana saat itu sangat ramai sekali sampai di lantai 2 pun untuk berjalan harus berhimpitan. Dengan susah payah berdesakan akhirnya ketemu juga kelas "Present" dan langsung saja mentor memulai pembelajaran. Seperti biasanya kelas pertama dimulai dengan perkenalan peserta kelas.

Baca Juga : Profil Anggota Kelas E-Fast 1B

Kelas E-Fast atau lengkapnya adalah Effective Fast merupakan sebuah paket program dari ELFAST yang isinya adalah program percepatan dari program Grammar yang terdiri dari Sub-program Basic Program 1-2 serta ditambah kelas Speaking. Kebetulan saya mengambil paket ini karena menurut saya cukup baguslah untuk membangun pondasi dasar mengenal struktur bahasa inggris apalagi untuk saya yang masih memulai belajar dari awal.

Baru juga selesai perkenalan, jam pertama sudah diisi dengan ujian dan hanya diberi waktu 30 menit untuk menjawab 30 soal pilihan ganda. Betapa malangnya nasibku belum apa-apa sudah dapat ujian dan penilaiannya langsung di kelas. Sudah tahu hasilnya, sekelas gagal semua dan kami hanya dapat senyum manis mentor saat meninggalkan ruangan. Hari pertama ini benar-benar menyusahkan ditambah ternyata cuman saya sendiri yang usianya sudah kepala dua.

Lanjut siangnya setelah shalat jumat, kelas speaking pun dimulai di kelas "Idiom". Nuansa kelas yang hening apalagi ini adalah siang hari dimana rasa kantuk menyerang dengan brutalnya. Saat ini suasana kelas masih canggung untuk berbicara, yang cewek sedang sibuk dengan gadgetnya masing-masing sedangkan yang cowok malah sibuk bermimpi diatas meja belajar. Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, sang mentor pun masuk mempernalkan diri dengan bahasa inggris. Saat itu antara takjub dan bingung, saya cuman bisa menangkap bahwa dia cukup fasih dan saya tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya.

Kelas pun dimulai dengan sebuah games oleh sang mentor, demi menghubungkan jalinan silaturahmi yang dekat antar peserta lainnya. Kami ditugaskan untuk memperkenalkan teman-teman kelas secara berpasangan dengan menggunakan bahasa inggris. Saat itu saya merasa malu sekali, ini pertama kalinya saya harus berbicara bahasa inggris apalagi harus memperkenalkan orang lain. Padahal pengucapan bahasa inggris saya masih cukup kaku, tapi karena sudah ditugaskan apa boleh buat.

Kelas pun selesai dan selesai pula rasa malu saya tak tertahankan di kelas, jujur rasanya kesal tapi ternyata asyik juga akhirnya bisa kenal masing-masing teman di kelas. Setelah kelas selesai saya pun kembali ke kamar dan mendapati ternyata penghuni kamar sudah bertambah 3 orang lagi setelah cuman saya sendirian yang berada di kamar kemarin. Mereka bertiga keliatan cukup muda dan begitu ramah, tidak canggung-canggung mereka semua memperkenalkan diri masing-masing.

Baca Juga : Yang Lebih Dari Sekedar Teman Camp 

Mereka adalah Noris dari Tulungagung, berstatus lulus SMA. Kemudian ada Riga dari Cirebon yang tahun ini baru masuk kelas 3 SMA. Dan terakhir adalah Ken asli orang Kediri dan masih Kelas 2 SMP. Lagi-lagi saya menjadi orang yang dituakan bukan cuman di kelas tapi juga di kamar. Sepertinya saya harus belajar menjadi teladan buat mereka.

Waktu buka puasa pun tiba, kali ini kembali lagi waktu berebutan terulang lagi sama seperti ketika sahur tadi. Walaupun makannya diluar camp tapi aroma survival sudah terasa dan inilah bagian indahnya ketika merantau di tanah orang. Saya pun berpikir ternyata merantau itu tidak seburuk yang dipikirkan, asal kita bisa berbaur dengan lingkungan baru dan menjalin komunikasi dengan baik maka rezeki itu akan datang.

Malam ini setelah shalat tarawih, kuhabiskan untuk beristirahat total dan bersiap-siap lagi belajar keesekoan harinya yang dimana kelas sudah harus dimulai dari subuh hingga selesai pada waktu berbuka puasa. Sungguh hari yang melelahkan tapi juga menyenangkan. Dan untuk bulan puasa ini saya akan berusaha belajar dengan sebaik-baiknya di tempat baru ini dan untuk mencapai cita-cita itu, melanjutkan kuliah di Jogjakarta.

Sabtu, 28 Mei 2016

Seru-Seruan di Acara Pesta Komunitas Makassar 2016

Seru-Seruan di Acara Pesta Komunitas Makassar 2016

Terik matahari siang hari terasa membakar jalanan kota makassar ditambah padatnya kendaraan seakan melengkapi keramaian kota dunia yang tak pernah sepi. Hari sabtu (21 Mei 2016), saya berkesempatan ikut menemani teman-teman komunitas blogger Angging Mammiri dalam acara Pesta Komunitas Makassar (PKM) 2016. Jujur ini adalah pengalaman pertama saya ikut langsung dalam kegiatan besar ini. PKM tahun ini telah memasuki tahun ketiganya, setelah dua tahun sebelumnya diadakan di Monumen Mandala dan Benteng Fort Rotterdam. Sudah tahukan kalau PKM tahun ini diadakan dimana? Di Pantai Losari, salah satu ikon terkenal Kota Makassar.

Dua tahun telah berlalu, PKM terlalu banyak membuat kejutan dengan segala seremoni yang selalu dinantikan. Dan tentunya saya saat itu hanya datang sebagai penikmat acara besar ini. Saat pertama kali PKM di gelar, saya masih ingat kalau tidak salah ada kurang lebih 100 komunitas berkumpul disini, mereka berkolaborasi menciptakan suatu harmoni indah. Dan disinilah awal saya tertarik dengan komunitas blogger dan bergabung setelahnya.

Setahun setelahnya PKM pun digelar kembali, kali ini kemeriahannya makin terasa. Ada lebih 150 komunitas bergabung dari berbagai kategori. Saya yang sudah bergabung dengan komunitas blogger masih merasa malu-malu ikut berpatisipasi didalamnya. Padahal saat itu komunitas blogger cukup terkenal diantara semua komunitas. Akhirnya saya pun hanya kembali lagi menjadi penikmat acara ini. Dan PKM saat itu sangat meriah, bayangkan Benteng Rotterdam dipenuhi ratusan anak-anak muda yang penasaran dengan acara kolaborasi komunitas ini.

Itulah cerita PKM saya dua tahun lalu, tapi kali ini sedikit berbeda ceritanya. Waktu menunjukkan pukul 11 siang, panas terik matahari Pantai Losari seakan membakar tubuh saya, tapi itu tidak melelehkan semangat saya untuk ikut berpatisipasi dalam acara Pesta Komunitas Makassar 2016. Didalam tenda berukuran 4x4 meter berwarna putih itu, saya duduk menunggu dimana teman-teman blogger mengambil barang-barang yang akan diisi dalam pameran komunitas.

Dari depan pintu masuk, jejeran tenda-tenda saling berbaris seperti menyambut tiap tamu yang akan datang. Dan tiap-tiap tenda diisi oleh dua komunitas saling berkolaborasi. Dan kebetulan saat itu komunitas blogger berada dalam satu tenda bersama komunitas bahasa inggris bnteng rotterdam. Dari kejauhan semua orang nampaknya sibuk mendekorasi tenda-tenda mereka tapi belum untuk komunitas blogger, saya masih menunggu kedatangan teman-teman lainnya berharap tidak ketinggalan dari komunitas lainnya.

Lama menunggu akhirnya mereka datang dan segera saja kami menyiapkan atribut dan mendekorasi tenda kami dengan penuh semangat. Yah akhirnya saya juga bisa ikut langsung berpatisipasi dengan komunitas blogger Anging Mammiri. Dan beginilah kami menyiapkan momentum penting dalam acara Pesta Komunitas Makassar 2016

Seru-Seruan di Acara Pesta Komunitas Makassar 2016

Cukup sederhana sih tapi inilah aksi kami dalam PKM ini, Siang ini kami lewati dengan berbincang-bincang santai dengan komunitas lainnya sambil menunggu para pengunjung tiba. Begini keseruan anak komunitas blogger, kami selalu penasaran dengan hal baru dan selalu tertantang dengan hal yang di takutkan orang lain. Seperti saat kami penasaran tentang binatang melata seperti apa, akhirnya kami main-main ke booth Rock Makassar Reptile, melihat-lihat binatang melata seperti ular, kadal, buaya, dan lainnya.

Tanpa rasa takut tapi sedikit geli kami berkenalan dengan binatang melata sambil mengabadikan momen spesial. Tak lupa teman saya, Janu tak mau kalah ingin menunjukkan binatang kesayangannya, diambilah si buaya diajak berfoto dengan kawan dari Rock Makassar Reptile. Padahal kalau boleh tahu itu buaya bawaan ibu ketua dari rumahnya.

Seru-Seruan di Acara Pesta Komunitas Makassar 2016

Setelah puas berfoto-foto dan berkenalan dengan sobat reptil, kami pun melanjutkan jalan-jalan ke komunitas lainnya. Berhubung belum banyak pengunjung yang datang, dan kebanyakan beberapa komunitas masih sibuk menyiapkan dekorasi tendanya. Saya pun akhirnya hanya bisa jalan-jalan sendiri mengelilingi tiap-tiap komunitas yang ada. Maklum, PKM 2016 dihadiri oleh lebih 250 komunitas jadinya saya penasaran dengan komunitas yang baru bergabung.

Tanpa membuang waktu saya pun berjalan menyusuri tiap area yang menjadi lokasi PKM, dimulai dari pintu masuk berbentuk segitiga dengan atap yang terbuat dari daun nipah kecoklatan yang merupakan ciri khas rumah panggung suku Bugis-Makassar. Setelah melewati pintu gerbang itu kita akan disambut dengan barisan tenda di sisi kiri-kanan dengan berbagai macam komunitas didalamnya, kalau boleh saya katakan disini kebanyakan diisi oleh komunitas dengan kategori sosial, fashion, dan edukasi.

Selanjutnya kalau kita jalan terus kita akan menemukan panggung utama di sebelah kiri, nah diantara panggung utama masih ada area lainnya. Di sisi sebelah kiri diisi oleh komunitas dengan kategori seni, pecinta hewan, dan survivor. Kemudian lanjut disebelah kanan diisi oleh UKM kreatif anak muda Makassar, disini kita bisa menemukan sajian kuliner dan pameran pakaian khas anak Makassar. Semua tatanan area sudah diatur dengan sedemikian rupa sehingga terlihat teratur dan rapi.

Kembali ke panggung utama disini terdapat tulisan besar dengan doodle bertuliskan PKM 2016 dengan tagline kreatfitas tanpa batas. Disamping kirinya berdiri stand untuk berfoto dengan background logo-logo komunitas yang ikut dalam acara PKM ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore dan saya masih betah berkeliling area PKM. Dari beberapa komunitas yang sudah saya kunjungi, ada dua komunitas yang buat saya dipaksa berlama-lama duduk dan memperhatikan aktifitas mereka.

Ya apalagi kalau bukan komunitas rubik dan drone, khusus untuk komunitas rubik saya malah keasyikan main rubik sampai dibuat kesal karena tidak bisa menyelesaikan puzzle rubik, tapi karena penasaran serta tidak mau kalah, akhirnya saya meminta diajarkan bermain rubik sampai benar-benar bisa. Bermain rubik seperti ini mengingatkan saya ketika sekolah dulu yang doyan bawa rubik sampai harus di keluarkan dari kelas.

Setelah puas dan akhirnya selesai juga menyelesaikan satu rubik, saya pun pamit dan berterima kasih karena mau meladeni kelakuan saya yang banyak bertanya. Saya pun beralih ke komunitas drone, dari sini saya terpukau melihat aktifitas mereka merakit drone tersebut. Benar-benar komunitas mahal pikir saya, bayangkan harga drone saja sudah segitu apalagi jika di modifikasi dan di rakit sendiri?.

Malam pun tiba dan pengunjung pun mulai berdatangan mengerumuni area PKM. Berhubung ini malam minggu maka para muda-mudi datang dengan rombongan, suasa PKM yang di siang hari masih sepi kini berubah jadi lautan manusia. Panggung acara pun dibuka dimulai dari iring-iringan tarian tradisional, kesesnian dan budaya makassar, stand up komedi dan tentunya acara yang di tunggu-tunggu adalah pembukaan resmi PKM 2016.

Malam pun semakin ramai dan pengunjung makin menggila memadati tiap-tiap lokasi komunitas. Hari ini pun saya merasa senang sekali, karena ini pertama kalinya saya bisa terlibat langsung dalam acara besar dan menyaksikan bagaimana proses kolaborasi ini berlangsung apalagi ditambah dengan keriuhan acara yang menjadikan PKM tahun ini lebih besar dari PKM sebelumnya.

Malam makin larut saya pun pamit dengan teman-teman lainnya, untuk menanti kejutan apalagi yang akan disajikan PKM besok pagi. Fajar pun tiba ingin rasanya segera menuju ke Pantai losari lagi apalagi hari ini adalah hari minggu dimana akhir pekan selalu dijadikan area Car Free Day. Dan apa yang pikirkan tentang keramaian PKM pagi ini ternyata melebihi ekspetasi saya. Kali ini pengunjung yang datang makin ramai dan penuh sesak, sepertinya banyakwarga yang penasaran dengan aktifitas anak muda ini.

Dan tentu saja suasana tenda kami tak luput dari pengunjung lainnya yang penasaran dengan apa saja kegiatan komunitas blogger Anging Mammiri. Kalau yang kemarin jumlah pengunjung masih belum ramai, kali ini tendanya terisi penuh semua, benar-benar hari yang menyenangkan. Dan beginilah suasana tenda kami di pagi hari itu.

Seru-Seruan di Acara Pesta Komunitas Makassar 2016

Begitulah suasana PKM yang terasa ramai sejadi-jadinya, dan inilah PKM paling berkesan yang kualami setelah sebelumnya cuman jadi penikmat saja. Dan saya sangat berterima kasih untuk teman-teman bloggger yang sudah mengajak saya terlibat langsung kedalam acara PKM dan terima kasih juga untuk orang-orang dibalik kemeriahan PKM 2016. Semoga PKM selanjtnya bisa jauh lebih meriah dan tentunya makin banyak kejutan lainnya.


Kurangi Perang Kompetisi, Perbanyak Kolaborasi, Hidupkan Harmoni, Karena Anak Muda Makassar Adalah Pembangkit Motivasi - Bimo Aji Widyantoro

Rabu, 25 Mei 2016

Mengenal Budaya Makassar Dari 1 Cinta Di Bira

Mengenal Budaya Makassar Dari 1 Cinta Di Bira

Mendung siang hari di Makassar, mengajakku untuk berbaring sambil menikmati pemandangan dimana awan terihat cukup gelap seakan mengisyaratkan akan terjadi hujan deras yang tidak lama akan menyapaku. Dering hape ku berbunyi, dengan santai saya membaca tiap-tiap pesan yang masuk di grup chatting, tapi tidak ada pembicaraan yang cukup menarik. Lama saya membacanya satu per satu terselip sebuah pesan ajakan nonton di salah satu bioskop ternama.

Dengan hati senang saya pun mengiyakan ajakan tersebut apalagi bisa nongkrong dan nonton bersama teman-teman blogger makassar. Kulihat cuaca masih cukup mendung tapi saya tetap acuh dan bersiap-siap untuk pergi. Sore ini saya berkesempatan nonton film karya anak makassar, judulnya "1 Cinta di Bira". Bagi saya ini adalah pengalaman pertama menonton film lokal soalnya saya kadang tidak begitu tertarik.

Sayapun berangkat dengan menaiki motor kesayangan, suasana jalanan terlihat cukup padat merayap soalnya sore hari adalah waktunya jam pulang kerja. Saya pun akhirnya terkurung dalam kemacetan panjang ditambah lagi perang klakson diantara sesama pengendara. Lama saya di perjalanan membuat saya khawatir kalau ketinggalan menonton film ini, dan akhirnya saya pun tiba di titik pertemuan yang telah di janjikan.

Saya dan bersama 6 teman blogger lainnya menunggu didalam ruang tunggu bioskop Saya terkejut melihat panjangnya antrian di salah satu sudut pembelian tiket. Ternyata mereka begitu antusias ingin menonton film ini apalagi karena syuting filmnya di salah satu tempat wisata terkenal yaitu Pantai Bira. Saya pun jadi tambah penasaran dengan film ini, apakah film ini cukup seru. Akhirnya saya coba mencari informasi film ini dan menemukan trailer film-nya seperti ini


Kelihatannya cukup menarik, apalagi pemandangan lautnya yang sangat indah dan hamparan pasir putih bikin tambah penasaran untuk menapakinya. Kalau diingat apa yang film ini ceritakan sungguh sesuai dengan aslinya. Saya setuju jika pantai bira benar-benar pantai yang indah dijadikan destinasi wisata favorit di bulukumba bahkan sulawesi selatan.

Kembali dalam antrian yang panjang, saya berdiri melihat beberapa kerumunan gadis-gadis muda sedang berkumpul menanti kedatangan bintang film. Siapa lagi kalau bukan Fauzan Nasrul dan Cinta Rarung yang merupakan tokoh utama dalam cerita film ini. Suasana langsung pecah ketika para gadis-gadis itu berebutan untuk sekedar foto ataupun bersalaman.

Setibanya semua para pemain dan beserta kru Film '1 Cinta di Bira', kami semua langsung diajak masuk ke studio menunggu pemutaran perdana film ini.Rasa penasaran masih menyelimuti saya terkait film ini, mulai dari dialek, tempat, dan budayanya apakah sesuai dengan yang ada di Bira. Akhirnya film pun diputar, riuh tepuk tangan penonton pecah dalam studio.

Adegan pertama film ini dimulai dari bibir pantai bira, nampak seorang anak kecil berteriak kencang meminta tolong di tengah laut. Teriakan anak kecil itu seakan memecah suara ombak yang menerjangnya, namun sayang tidak ada yang mendengarnya. Anak kecil masih berusaha sekuat tenaga agar tidak tenggelam dan naasnya akhirnya dia tenggelam tidak sadarkan diri.

Iqbal "Fauzan Nasrul" terbangun dari tidurnya, dia kaget mengingat kejadian waktu. Terlihat Om Bustam menenangkan iqbal yang kelihatan ketakutan sambil memberi nasehat agar dia kuat menghadapi kematian Atta-nya. Dalam perjalanan menuju Bulukumba, Om Bustam menceritakan bagaimana sosok Atta-nya di daerah bira semasa iqbal pergi meninggalkannya merintih karir di Jakarta.

Akhirnya Iqbal pun sampai di rumahnya, terlihat jelas amma-nya menyambut iqbal dengan penuh tangisan karena kematian Atta. Seketika itupun Iqbal langsung teringat saat-saat bersama Atta-nya sewaktu kecil dan yang tidak dilupakannya adalah ketika Iqbal menentang Atta-nya untuk pergi ke Jakarta ketimbang meneruskan usaha Atta-nya.

Sedih, itulah yang dirasakan Iqbal apalagi saat dia menolak permintaan Atta-nya. Hari pun berganti dan Iqbal sudah bisa menerima kepergian Atta-nya. Pagi itu Om Bustam datang kerumah Iqbal dan mengajaknya untuk melihat usaha apa yang telah dibangun Atta-nya di bira. Untuk sampai ke tempat usaha Atta-nya, iqbal harus menaiki perahu nelayan karena lokasinya yang berada di seberang pulau. Dengan rasa was-was Iqbal pun pergi bersama Om Bustam.

Betapa terkejutnya Iqbal ketika sampai di pulau tempat usaha Atta-nya terlihat kapal kayu besar bersandar di bibir pantai. Kapal itu adalah kapal kebangaan orang sulawesi selatan namanya adalah kapal phinisi. Terlihat betapa megahnya kapal ini, hingga membuat Iqbal ingin melihatnya lebih lanjut. Ketika melihat bagaimana pengerjaan kapal phinisi, Iqbal berkenalan dengan Daeng Mamba salah satu teknisi yang bertugas untuk membuat kapal phinisi ini.

Daeng Mamba sangat berterima kasih bisa bertemu dengan Iqbal anak dari Daeng Gassing (Atta-nya Iqbal) dan menceritakan bahwa karena Daeng Gassing lah masyarakat di bira ini bisa mendapat pekerjaan untuk kehidupan masing-masing. Iqbal yang mendengar hal tersebut merasa terkejut dan heran dengan apa yang sudah Atta-nya lakukan.

Dalam film ini ada cerita romansa percintaan ketika iqbal dihadapkan dengan 2 perempuan yang telah menaklukan hatinya di bira. Ada konfik yang bikin tegang tatkala Iqbal harus melanjutkan usaha Atta-nya atau tidak. Dan yang tidak kalah serunya adalah pencarian jejak misteri tentang siapa orang yang menolong Iqbal ketika tenggelam waktu kecil dahulu.

Buat yang penasaran, ada baiknya jangan lewatkan film yang satu ini di bioskop kesayangan di koat mu. Untuk saya pribadi saya tidak ingin menceritakan keseluruhan jalan ceritanya tapi saya ingin menjelaskan budaya yang ada dalam film ini. Tapi jika diminta menilai film ini, saya akan memberikan nilai 8 dari 10. Penokohan dan alur ceritanya sangat bagus apalagi ditambah pengambilan gambarnya yang ciamik membuat saya kagum melihatnya.

Saya tidak menyangka ternyata tempat wisata di Sulawesi Selatan khususnya Pantai Bira tidak kalah kerennya untuk dijadikan setting pembuatan film. Menyoal budaya yang diangkat dalam film ini saya ingin memberikan beberapa informasi yang bermanfaat bagi sobat movieholic.

Pertama, tentang dialek mungkin untuk sebagian besar orang makassar tentulah tidak asing lagi mendengar dialog bahasa makassar apalagi jika diangkat sebagai film tentulah hal yang membanggakan iya kan? soal dialek mungkin untuk orang luar akan terasa asing jika mendengar tapi itulah budaya makassar. Jika sobat berkesempatan menonton film ini satu hal yang perlu saya ingatkan adalah kalau di Makassar itu 'kita' itu punya cakupan luas artinya bisa saya, kamu, dan kami.

Kedua, tentang Atta atau biasa disebut sebagai ayah atau bapak dalam bahasa Indonesia. Ketika menonton ini sebenarnya saya juga bingung seingat saya panggilan Atta ini ditujukan kepada kakek. Tapi karena rasa penasaran saya akhirnya saya bertanya ke salah satu teman yang asli daerah Bulukumba bahwa sebenarnya Atta itu adalah panggilan untuk ayah atau bapak dalam keluarga.

Ketiga, tentan om atau biasa dipanggil paman yang mempunyai hubungan darah dengan ayah atau ibu dalam keluarga. Nah itu definisi dalam bahasa indonesia tapi jika kita melihat dari budaya Makassar, panggilan om itu bisa ditujukan kepada orang yang lebih tua dari kita atau orang yang dekat keluarga kita yang mempunyai hubungan layaknya keluarga besar.

Keempat, tentang Pantai Bira yang menjadi setting uatama film ini.Pantai ini terletak di selatan kabupaten Bulukumba dan merupakan ikonik Bulukumba. Pantai ini memiliki pasir putih yang halus ditambah warna laut yang biru, dan tempat ini merupakan destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Menyoal pantai bira sebenarnya mempunyai saudara namanya pantai bara yang merupakan tempat dimana kapal-kapal lahir.

Kelima, tentang kapal phinisi yang merupakan kapal khas orang sulawesi selatan ini sebenarnya dibuat di Kabupaten Bulukumba tepatnya di pantai bara dekat dari pantai bira. Kapal phinisi dibuat sepenuhnya oleh pengrajin dari bira, semua bahan dari kapal phinisi adalah kayu asli. Butuh berbulan-bulan untuk membuat 1 kapal phinisi disini tapi jika sudah jadi kemegahannya tidak ada yang menandingi.

Itulah beberapa informasi yang ingin saya sampaikan kepada sobat semua mengenai budaya makassar di film "1 Cinta di Bira". Jadi tunggu apalagi daripada penasaran yuk kita nonton film ini dan mari mengenal daerah lain khusunya di sulawesi selatan bahwa wisata disini juga tidak kalah kerennya. Ayo datang kesini ke Makassar dan jadikan liburanmu makin menyenangkan.

Jumat, 22 April 2016

Mengenal Kartini Dari Sosok Tukang Pos

Mengenal Kartini Dari Sosok Tukang Pos

Kartini, siapa yang tidak mengenal dia. Sosok perempuan yang telah membakar semangat perempuan untuk terus berusaha dan berkarya. Semangatnya yang ingin mengajarkan bahwa kehidupan antara laki-laki dan perempuan adalah sama bukan untuk dibeda-bedakan.

Hari ini saya berkesempatan menonton salah satu film fenomenal Indonesia yang menceritakan sosok Kartini ini. Awalnya sih saya beranggapan paling isi ceritanya akan sama dengan apa yang sering diceritakan guru-guru dahulu ketika kita bersekolah. Paling tidak ceritanya hanya seputar kesederhaan kartini dari keluarga ningrat atau lebih jauh adalah saat dia dinikahkan oleh seseorang yang tidak disukainya.

Perasaan kali ini sungguh sangat tidak bersemangat untuk menonton tapi apa daya karena ini adalah ajakan teman akhirnya saya dengan senang hati ikut nonton, toh tidak ada salahnya saya mengingat kembali sosok Kartini itu dan bagaimana perjuangannya. Setiba di bioskop saya tidak butuh waktu lama menunggu pemutaran film ini. Dengan langkah cepat saya masuk kedalam studio sembari duduk manis ditemani sekantong popcorn.

Film pun dimulai, dibagian pertama ada cuplikan dimana ada seorang guru muda cantik menggunakan kebaya yang anggun bernama Wanda sedang terburu-buru memasuki ruang kelas. Saat tiba di kelas Wanda dengan semangatnya menanyakan ke siswanya.

"Anak-anak tahu tidak ibu guru mau menceritakanapa hari ini?" tanya bu guru
"tidak tahu bu guru" sambil geleng-geleng kepala
"ahh pasti ibu guru mau bercerita tentang Kartini kan?" jawab seorang siswa
"Loh kok tahu?" tanya kembali bu guru
"soalnya ibu kan pakai kebaya. Tapi masa Kartini lagi bu, bosen." celutuk siswa tadi.
"anak-anak tidak ada salahnya kita kembali mengingat Kartini" semangat bu guru
"huu.." sorak siswa tidak setuju

Dari dialog diatas saya juga setuju apa yang dikatakan siswa tersebut. Kenapa kita harus siguhukan cerita Kartini yang itu-itu saja. Belum sempat saya berpikir panjang lebih jauh lagi tiba-tiba adegan berubah, dimana ada sesosok pria bertubuh tinggi putih masuk ke kelas.

"mau tidak kalian mendengar cerita tentang tukang pos" seru pak Rangga
"tukang pos?" jawab siswa heran
"iya, tukang pos. Orang yang bekerja mengantarkan surat" jawab pak Rangga memulai cerita

Diceritakan pada tahun 1901, ada seorang lelaki dari tanah Jepara bekerja sebagai tukang pos. Laki-laki itu bernama Sarwadhi. Dengan bermodal sepeda onthelnya Sarwadhi tiap hari selalu mengantarkan surat-surat ke rumah-rumah warga menyalurkan kebahagiaan dari sepucuk surat. Suatu hari tuan Peter, bos dimana Sarwadhi bekerja memintanya untuk mengantarkan surat ke kantor gubernur Jepara.

Dengan senang hati Sarwadhi mengantarkan surat tersebut, nah karena tugas inilah Sarwadhi bertemu dengan Kartinii muda yang cantik hingga membuatnya jatuh hati. Kecantikan Kartini terlihat begitu indah dalam kesederhaannya. Makin hari Sarwadhi makin jatuh cinta ketika dia dengan senang mengayuh sepeda tuanya mengantarkan surat untuk Kartini.

Disini saya tiba-tiba tertarik dengan film ini, kok bisa yah mereka para pembuat film bisa mengambil sudut pandang yang menurutku cukup unik kemudian diangkat jadi cerita ringan seperti ini. Memasuki bagian demi bagian film saya jadisemakin serius mengikuti cerita film ini seakan kita diajak kembali bernostalgia dimana surat-menyurat jaman dulu terasa begitu indah.

Nuansa jawa yang kental seakan mengingatkan saya ketika kecil dulu dimana tata krama sangat di junjung tinggi. Peran Kartini yang diperankan oleh Rania Putri Sari sangat bagus sekali ditambah lagi aksi Chiko Jeriko sebagai Sarwadhi sangat natural dan lucu. Rasanya saya kembali jauh dimana adat jawa masih begitu dihormati.

Berbicara tentang adat jawa, saya malah senyum-senyum sendiri ketika dialek jawapun diucapkan oleh para pemainnya. Bukan maksud menertawakan tapi saya malah keingat dengan asalku di tanah jawa. Mendengar ucapan itu malah membuatku ingin sesekali berkunjung balik ke tanah kelahiranku.

Seiring berjalannya waktu kedekatan antara Sarwadhi dan Kartini mulailah tumbuh benih-benih cinta antara keduanya. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, yah walaupunkita tahu bahwa status sosial mereka menghalangi mereka untuk dipersatukan. Tapi bukan Sarwadhi Putra Raja Langit namanya kalau menyerah begitu saja mengejar cintanya.

Namun sayangnya Kartini akhirnya dijodohkan oleh keluarganya kepada salah satu pemuka ternama dari daerah Rembang. Sarwadhi pun tertunduk tapi dia masih bersikeras ingin tetap bersama Kartini dengan mendatangi langsung rumah Kartini di Kantor Gubernur Jepara.

Bagaimana kelanjutannya kisah asmara antara Kartini dan Sarwadhi? kalau kamu penasaran ayo nonton filmnya. Untuk saya pribadi film ini benar-benar bagus sekali apalagi saya tidak pernah kepikiran ternyata sebuah film bisa diangkat dari sudut pandang berbeda tapi tetap mengikuti alur sejarah aslinya.

Pokoknya jangan sampai ketinggalan menonton "Surat Cinta Untuk Kartini", mari kita sama-sama mencintai film Indonesia dan juga mencintai sejarahnya yang telah memberi kita harapan bahwa indonesia itu adalah satu walaupun berbeda-beda