Rabu, 25 Mei 2016

Mengenal Budaya Makassar Dari 1 Cinta Di Bira

Mengenal Budaya Makassar Dari 1 Cinta Di Bira

Mendung siang hari di Makassar, mengajakku untuk berbaring sambil menikmati pemandangan dimana awan terihat cukup gelap seakan mengisyaratkan akan terjadi hujan deras yang tidak lama akan menyapaku. Dering hape ku berbunyi, dengan santai saya membaca tiap-tiap pesan yang masuk di grup chatting, tapi tidak ada pembicaraan yang cukup menarik. Lama saya membacanya satu per satu terselip sebuah pesan ajakan nonton di salah satu bioskop ternama.

Dengan hati senang saya pun mengiyakan ajakan tersebut apalagi bisa nongkrong dan nonton bersama teman-teman blogger makassar. Kulihat cuaca masih cukup mendung tapi saya tetap acuh dan bersiap-siap untuk pergi. Sore ini saya berkesempatan nonton film karya anak makassar, judulnya "1 Cinta di Bira". Bagi saya ini adalah pengalaman pertama menonton film lokal soalnya saya kadang tidak begitu tertarik.

Sayapun berangkat dengan menaiki motor kesayangan, suasana jalanan terlihat cukup padat merayap soalnya sore hari adalah waktunya jam pulang kerja. Saya pun akhirnya terkurung dalam kemacetan panjang ditambah lagi perang klakson diantara sesama pengendara. Lama saya di perjalanan membuat saya khawatir kalau ketinggalan menonton film ini, dan akhirnya saya pun tiba di titik pertemuan yang telah di janjikan.

Saya dan bersama 6 teman blogger lainnya menunggu didalam ruang tunggu bioskop Saya terkejut melihat panjangnya antrian di salah satu sudut pembelian tiket. Ternyata mereka begitu antusias ingin menonton film ini apalagi karena syuting filmnya di salah satu tempat wisata terkenal yaitu Pantai Bira. Saya pun jadi tambah penasaran dengan film ini, apakah film ini cukup seru. Akhirnya saya coba mencari informasi film ini dan menemukan trailer film-nya seperti ini


Kelihatannya cukup menarik, apalagi pemandangan lautnya yang sangat indah dan hamparan pasir putih bikin tambah penasaran untuk menapakinya. Kalau diingat apa yang film ini ceritakan sungguh sesuai dengan aslinya. Saya setuju jika pantai bira benar-benar pantai yang indah dijadikan destinasi wisata favorit di bulukumba bahkan sulawesi selatan.

Kembali dalam antrian yang panjang, saya berdiri melihat beberapa kerumunan gadis-gadis muda sedang berkumpul menanti kedatangan bintang film. Siapa lagi kalau bukan Fauzan Nasrul dan Cinta Rarung yang merupakan tokoh utama dalam cerita film ini. Suasana langsung pecah ketika para gadis-gadis itu berebutan untuk sekedar foto ataupun bersalaman.

Setibanya semua para pemain dan beserta kru Film '1 Cinta di Bira', kami semua langsung diajak masuk ke studio menunggu pemutaran perdana film ini.Rasa penasaran masih menyelimuti saya terkait film ini, mulai dari dialek, tempat, dan budayanya apakah sesuai dengan yang ada di Bira. Akhirnya film pun diputar, riuh tepuk tangan penonton pecah dalam studio.

Adegan pertama film ini dimulai dari bibir pantai bira, nampak seorang anak kecil berteriak kencang meminta tolong di tengah laut. Teriakan anak kecil itu seakan memecah suara ombak yang menerjangnya, namun sayang tidak ada yang mendengarnya. Anak kecil masih berusaha sekuat tenaga agar tidak tenggelam dan naasnya akhirnya dia tenggelam tidak sadarkan diri.

Iqbal "Fauzan Nasrul" terbangun dari tidurnya, dia kaget mengingat kejadian waktu. Terlihat Om Bustam menenangkan iqbal yang kelihatan ketakutan sambil memberi nasehat agar dia kuat menghadapi kematian Atta-nya. Dalam perjalanan menuju Bulukumba, Om Bustam menceritakan bagaimana sosok Atta-nya di daerah bira semasa iqbal pergi meninggalkannya merintih karir di Jakarta.

Akhirnya Iqbal pun sampai di rumahnya, terlihat jelas amma-nya menyambut iqbal dengan penuh tangisan karena kematian Atta. Seketika itupun Iqbal langsung teringat saat-saat bersama Atta-nya sewaktu kecil dan yang tidak dilupakannya adalah ketika Iqbal menentang Atta-nya untuk pergi ke Jakarta ketimbang meneruskan usaha Atta-nya.

Sedih, itulah yang dirasakan Iqbal apalagi saat dia menolak permintaan Atta-nya. Hari pun berganti dan Iqbal sudah bisa menerima kepergian Atta-nya. Pagi itu Om Bustam datang kerumah Iqbal dan mengajaknya untuk melihat usaha apa yang telah dibangun Atta-nya di bira. Untuk sampai ke tempat usaha Atta-nya, iqbal harus menaiki perahu nelayan karena lokasinya yang berada di seberang pulau. Dengan rasa was-was Iqbal pun pergi bersama Om Bustam.

Betapa terkejutnya Iqbal ketika sampai di pulau tempat usaha Atta-nya terlihat kapal kayu besar bersandar di bibir pantai. Kapal itu adalah kapal kebangaan orang sulawesi selatan namanya adalah kapal phinisi. Terlihat betapa megahnya kapal ini, hingga membuat Iqbal ingin melihatnya lebih lanjut. Ketika melihat bagaimana pengerjaan kapal phinisi, Iqbal berkenalan dengan Daeng Mamba salah satu teknisi yang bertugas untuk membuat kapal phinisi ini.

Daeng Mamba sangat berterima kasih bisa bertemu dengan Iqbal anak dari Daeng Gassing (Atta-nya Iqbal) dan menceritakan bahwa karena Daeng Gassing lah masyarakat di bira ini bisa mendapat pekerjaan untuk kehidupan masing-masing. Iqbal yang mendengar hal tersebut merasa terkejut dan heran dengan apa yang sudah Atta-nya lakukan.

Dalam film ini ada cerita romansa percintaan ketika iqbal dihadapkan dengan 2 perempuan yang telah menaklukan hatinya di bira. Ada konfik yang bikin tegang tatkala Iqbal harus melanjutkan usaha Atta-nya atau tidak. Dan yang tidak kalah serunya adalah pencarian jejak misteri tentang siapa orang yang menolong Iqbal ketika tenggelam waktu kecil dahulu.

Buat yang penasaran, ada baiknya jangan lewatkan film yang satu ini di bioskop kesayangan di koat mu. Untuk saya pribadi saya tidak ingin menceritakan keseluruhan jalan ceritanya tapi saya ingin menjelaskan budaya yang ada dalam film ini. Tapi jika diminta menilai film ini, saya akan memberikan nilai 8 dari 10. Penokohan dan alur ceritanya sangat bagus apalagi ditambah pengambilan gambarnya yang ciamik membuat saya kagum melihatnya.

Saya tidak menyangka ternyata tempat wisata di Sulawesi Selatan khususnya Pantai Bira tidak kalah kerennya untuk dijadikan setting pembuatan film. Menyoal budaya yang diangkat dalam film ini saya ingin memberikan beberapa informasi yang bermanfaat bagi sobat movieholic.

Pertama, tentang dialek mungkin untuk sebagian besar orang makassar tentulah tidak asing lagi mendengar dialog bahasa makassar apalagi jika diangkat sebagai film tentulah hal yang membanggakan iya kan? soal dialek mungkin untuk orang luar akan terasa asing jika mendengar tapi itulah budaya makassar. Jika sobat berkesempatan menonton film ini satu hal yang perlu saya ingatkan adalah kalau di Makassar itu 'kita' itu punya cakupan luas artinya bisa saya, kamu, dan kami.

Kedua, tentang Atta atau biasa disebut sebagai ayah atau bapak dalam bahasa Indonesia. Ketika menonton ini sebenarnya saya juga bingung seingat saya panggilan Atta ini ditujukan kepada kakek. Tapi karena rasa penasaran saya akhirnya saya bertanya ke salah satu teman yang asli daerah Bulukumba bahwa sebenarnya Atta itu adalah panggilan untuk ayah atau bapak dalam keluarga.

Ketiga, tentan om atau biasa dipanggil paman yang mempunyai hubungan darah dengan ayah atau ibu dalam keluarga. Nah itu definisi dalam bahasa indonesia tapi jika kita melihat dari budaya Makassar, panggilan om itu bisa ditujukan kepada orang yang lebih tua dari kita atau orang yang dekat keluarga kita yang mempunyai hubungan layaknya keluarga besar.

Keempat, tentang Pantai Bira yang menjadi setting uatama film ini.Pantai ini terletak di selatan kabupaten Bulukumba dan merupakan ikonik Bulukumba. Pantai ini memiliki pasir putih yang halus ditambah warna laut yang biru, dan tempat ini merupakan destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Menyoal pantai bira sebenarnya mempunyai saudara namanya pantai bara yang merupakan tempat dimana kapal-kapal lahir.

Kelima, tentang kapal phinisi yang merupakan kapal khas orang sulawesi selatan ini sebenarnya dibuat di Kabupaten Bulukumba tepatnya di pantai bara dekat dari pantai bira. Kapal phinisi dibuat sepenuhnya oleh pengrajin dari bira, semua bahan dari kapal phinisi adalah kayu asli. Butuh berbulan-bulan untuk membuat 1 kapal phinisi disini tapi jika sudah jadi kemegahannya tidak ada yang menandingi.

Itulah beberapa informasi yang ingin saya sampaikan kepada sobat semua mengenai budaya makassar di film "1 Cinta di Bira". Jadi tunggu apalagi daripada penasaran yuk kita nonton film ini dan mari mengenal daerah lain khusunya di sulawesi selatan bahwa wisata disini juga tidak kalah kerennya. Ayo datang kesini ke Makassar dan jadikan liburanmu makin menyenangkan.

Jumat, 22 April 2016

Mengenal Kartini Dari Sosok Tukang Pos

Mengenal Kartini Dari Sosok Tukang Pos

Kartini, siapa yang tidak mengenal dia. Sosok perempuan yang telah membakar semangat perempuan untuk terus berusaha dan berkarya. Semangatnya yang ingin mengajarkan bahwa kehidupan antara laki-laki dan perempuan adalah sama bukan untuk dibeda-bedakan.

Hari ini saya berkesempatan menonton salah satu film fenomenal Indonesia yang menceritakan sosok Kartini ini. Awalnya sih saya beranggapan paling isi ceritanya akan sama dengan apa yang sering diceritakan guru-guru dahulu ketika kita bersekolah. Paling tidak ceritanya hanya seputar kesederhaan kartini dari keluarga ningrat atau lebih jauh adalah saat dia dinikahkan oleh seseorang yang tidak disukainya.

Perasaan kali ini sungguh sangat tidak bersemangat untuk menonton tapi apa daya karena ini adalah ajakan teman akhirnya saya dengan senang hati ikut nonton, toh tidak ada salahnya saya mengingat kembali sosok Kartini itu dan bagaimana perjuangannya. Setiba di bioskop saya tidak butuh waktu lama menunggu pemutaran film ini. Dengan langkah cepat saya masuk kedalam studio sembari duduk manis ditemani sekantong popcorn.

Film pun dimulai, dibagian pertama ada cuplikan dimana ada seorang guru muda cantik menggunakan kebaya yang anggun bernama Wanda sedang terburu-buru memasuki ruang kelas. Saat tiba di kelas Wanda dengan semangatnya menanyakan ke siswanya.

"Anak-anak tahu tidak ibu guru mau menceritakanapa hari ini?" tanya bu guru
"tidak tahu bu guru" sambil geleng-geleng kepala
"ahh pasti ibu guru mau bercerita tentang Kartini kan?" jawab seorang siswa
"Loh kok tahu?" tanya kembali bu guru
"soalnya ibu kan pakai kebaya. Tapi masa Kartini lagi bu, bosen." celutuk siswa tadi.
"anak-anak tidak ada salahnya kita kembali mengingat Kartini" semangat bu guru
"huu.." sorak siswa tidak setuju

Dari dialog diatas saya juga setuju apa yang dikatakan siswa tersebut. Kenapa kita harus siguhukan cerita Kartini yang itu-itu saja. Belum sempat saya berpikir panjang lebih jauh lagi tiba-tiba adegan berubah, dimana ada sesosok pria bertubuh tinggi putih masuk ke kelas.

"mau tidak kalian mendengar cerita tentang tukang pos" seru pak Rangga
"tukang pos?" jawab siswa heran
"iya, tukang pos. Orang yang bekerja mengantarkan surat" jawab pak Rangga memulai cerita

Diceritakan pada tahun 1901, ada seorang lelaki dari tanah Jepara bekerja sebagai tukang pos. Laki-laki itu bernama Sarwadhi. Dengan bermodal sepeda onthelnya Sarwadhi tiap hari selalu mengantarkan surat-surat ke rumah-rumah warga menyalurkan kebahagiaan dari sepucuk surat. Suatu hari tuan Peter, bos dimana Sarwadhi bekerja memintanya untuk mengantarkan surat ke kantor gubernur Jepara.

Dengan senang hati Sarwadhi mengantarkan surat tersebut, nah karena tugas inilah Sarwadhi bertemu dengan Kartinii muda yang cantik hingga membuatnya jatuh hati. Kecantikan Kartini terlihat begitu indah dalam kesederhaannya. Makin hari Sarwadhi makin jatuh cinta ketika dia dengan senang mengayuh sepeda tuanya mengantarkan surat untuk Kartini.

Disini saya tiba-tiba tertarik dengan film ini, kok bisa yah mereka para pembuat film bisa mengambil sudut pandang yang menurutku cukup unik kemudian diangkat jadi cerita ringan seperti ini. Memasuki bagian demi bagian film saya jadisemakin serius mengikuti cerita film ini seakan kita diajak kembali bernostalgia dimana surat-menyurat jaman dulu terasa begitu indah.

Nuansa jawa yang kental seakan mengingatkan saya ketika kecil dulu dimana tata krama sangat di junjung tinggi. Peran Kartini yang diperankan oleh Rania Putri Sari sangat bagus sekali ditambah lagi aksi Chiko Jeriko sebagai Sarwadhi sangat natural dan lucu. Rasanya saya kembali jauh dimana adat jawa masih begitu dihormati.

Berbicara tentang adat jawa, saya malah senyum-senyum sendiri ketika dialek jawapun diucapkan oleh para pemainnya. Bukan maksud menertawakan tapi saya malah keingat dengan asalku di tanah jawa. Mendengar ucapan itu malah membuatku ingin sesekali berkunjung balik ke tanah kelahiranku.

Seiring berjalannya waktu kedekatan antara Sarwadhi dan Kartini mulailah tumbuh benih-benih cinta antara keduanya. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, yah walaupunkita tahu bahwa status sosial mereka menghalangi mereka untuk dipersatukan. Tapi bukan Sarwadhi Putra Raja Langit namanya kalau menyerah begitu saja mengejar cintanya.

Namun sayangnya Kartini akhirnya dijodohkan oleh keluarganya kepada salah satu pemuka ternama dari daerah Rembang. Sarwadhi pun tertunduk tapi dia masih bersikeras ingin tetap bersama Kartini dengan mendatangi langsung rumah Kartini di Kantor Gubernur Jepara.

Bagaimana kelanjutannya kisah asmara antara Kartini dan Sarwadhi? kalau kamu penasaran ayo nonton filmnya. Untuk saya pribadi film ini benar-benar bagus sekali apalagi saya tidak pernah kepikiran ternyata sebuah film bisa diangkat dari sudut pandang berbeda tapi tetap mengikuti alur sejarah aslinya.

Pokoknya jangan sampai ketinggalan menonton "Surat Cinta Untuk Kartini", mari kita sama-sama mencintai film Indonesia dan juga mencintai sejarahnya yang telah memberi kita harapan bahwa indonesia itu adalah satu walaupun berbeda-beda